Tuesday, 24 December 2013

I Don’t Know About Love : Chapter 3

Chapter 3
Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aaaaaa…. Marioo.. Berilah aku sedikit waktu saja. Kenapa kau membuatku dilemma?
Entah mengapa aku jadi teringat Rian. Aaaa… Mengapa dia muncul lagi dalam ingatanku??
Jaika kau tahu, aku sedang gila di dalam kamarku. Untung Kakakku sedang menginap dirumah Teresa. Hanya ada Mama dan Papa yang mungkin sudah tidur. Siapa sih yang tahan melek sampai jam satu seperti ini? Jam satu malam. Bahkan sebentar lagi akan subuh. Dan aku masih belum bisa tertidur.
Dan entah mengapa, aku sekarang memikirkan Rian, bukannya Mario. Aku masih memikirkan tentang dia yang sedang dekat dengan Dian. Jika aku melihat mereka, ada rasa aneh. Padahal kan aku sudah tidak berhubungan lagi dengan Rian. Apa karena aku masih sayang sama dia?
Aku menggeleng-gelengkan kepala mengibaskan semua pikirkan aneh yang melintas dalam pikiranku. Dan aku masih bingung, kata-kata apa yang akan aku sampaikan padanya besok pagi?
***
Hebat. Ada lingkaran hitam dibawah mataku. Aku kurang tidur. Tadi malam aku berhasil tidur sekitar pukul setengah tiga. Dan jam setengah enam aku sudah bangun. Aku mengantuk sekali.
Untung Papa bersedia mengantarku ke sekolah. Aku tidak terlambat, hanya kakiku sedikit sempoyongan. Jalanku tak tentu arah. Mataku merah dan rasanya ingin sekali tertutup untuk tidur. Aku mengantuk dan lelah.
“Natalia,” sapa riang dari Anggi menyambut pagiku yang agak sedikit suram.
“Kenapa?” tanyaku sambil masih sempoyongan jalan dengan mata yang agak tertutup.
“Gimana? Apa jawaban lo?” tanyanya.
Matku mengerling menatapnya, “Apa maksud lo?”
“Bukannya kemarin lo ditembak Mario? O_O”
Mataku yang tadinya tertutup langsung melotot mendengar ucapan Anggi, “Kok lo bisa tahu?”
“Iya, kemarin kan gue belum pulang, ada urusan di ruang OSIS. Tiba-tiba gue denger teriakan Mario gitu. Terus gue nguping sambil sembunyi-sembunyi.”
“-.,- Lo emang kurang ajar,” ucapku lalu meninggalkannya dengan jalan yang sempoyongan.
“Tapi gimana jawaban lo?” tanyanya sambil menghampiriku dan menyeimbangi langkahku yang lelet bab putri solo.
Aku menatap wajah Anggi dengan datar, “Lihat aja nanti.”
“Tapi, kalau seumpama lo jadian sama Mario gak papa kok. Gue ngedukung banget,” ucapnya dengan ekspresi yang membuatku merinding ngeri.
“Apaan sih lo?”
“Lihat deh!” katanya sambil menggaet tanganku dan menarikku menuju dinding balkon.
“Ada apa?” tanyaku bingung.
Matanya terlihat mencari sesuatu.
“Ada apaan sih?”
Setelah matanya melihat apa yang ia cari, “Nah, tu liat!” suruhnya sambil menunjuk ke lapangan.
Mataku mengikuti telunjuknya, “Apa?”
“Lihat deh, Rian sama Dian!”
Mataku langsung menemukan sosok Rian. Dia tak sendiri. Dari parkiran, ia bergandnegan tangan denngan Dian dengan mesranya.
“Mereka pacaran tadi malem. Gue tahu dari tweet-nya Dian malam tadi.”
Aku mendesah dan menghela napas. Aku tidak salah liat kan? Entah mengapa, hatiku jadi tertusuk-tusuk. Apa ini?
“Lo kenapa, Na?” tanya Anggi sambil menyentuh bahuku.
Aku terkejut dengan pertanyaan Anggi, “Enggak-enggak. Syukur kalau Riannya udah punya pacar,” ucapku sambil sebisa mungkin tersenyum. “Kalau gitu gue ke kelas dulu,” kataku lalu berlalu dari hadapan Anggi.
***
Rian udah pacarn sama Dian. Rian udah pacaran sama Dian. Dan Rian sudah pacaran sama Dian. Aaaaaa…. Kenapa rasanya gue kaya cemburu gini sih? Aih.. Kenapa dia selalu di kepalaku. Apalagi, pedih mataku jika berpapasan dengan Dian. Aaaaaa… aku berteriak sekeras mungkin dalam hatiku.
Sadarlah Natalia. Sadar. Ucapku dalam hati sambil menepuk-nepuk pipiku, agar kepalaku jernih. Terhindar dari pikiran tentang Rian dan si Dian yang seharusnya tak usah kupikirkan. Untuk apa memikirkan hal yang sudah tidak milikku.
Sadar Natalia, Rian sudah melukai dirimu. Hingga kamu sendiri yang meminta putus darinya, hatiku mencoba menenangkan diriku yang gila.
Akhirnya, bel istirahat terdengar. Aku sudah tidak betah untuk bertahan dalam keadaan seperti ini. Aku ingin ke toilet dan mencuci mukaku. Agar pikiran tentang Rian juga hilang.
Aku berdiri dari bangkuku dan lekas bergegas menuju toilet. Toilet tidak terlalu ramai. Aku langsung membash mukaku. Lalu menatap cermin di hadapanku. Aaaaa… Kenapa aku jadi segila ini? Kenapa?
Huh. aku mendesah. Menghela napas panjang. Dan keluar drai toilet. Aku sempat melihat beberapa anak mengamatiku bingung. Aku tak peduli dengan tatapan mereka yang risih dan langsung meninggalkan toilet dengan cuek.
Mau kemana lagi aku? Kantin? Oke.
Semoga lingkaran di bawah mataku sudah hilang. Aku tak ingin terlihat seperti orang lusuh. Aaaaa… Entah kenapa rasanya aku ingin berteriak selalu. Kalau bisa, aku ingin berteriak sekeras-kerasnya. Kalau bisa, dengan bantuan TOA dan Bazooka dengan ukuran yang super besar.
Sampailah di kantin. Aku hanya membeli roti ukuran besar dan susu kotak ukuran sedang. Lalau aku memilih tempat duduk paling pojok.
Aku langsung memakan rotiku dengan agak sedikit berantakan. Gak peduli. Rasanya pengin marah terus.
“Na!” seru seseorang yang tiba-tiba duduk di kursi hadapanku.
Aku mendongak. Mario. Aku sampai melupakannya. Bagaimana ini? Bagaimana bisa aku emlupakannya. Pikiranku penuh dengan Rian sih. Aku jadi tidak sempat memikirkan apa yang akan aku ucapkan padanya. Aih.
“Ya?” tanyaku setenang mungkin meneymbunyikan kegelisahanku yang membuncah.
Dia tersenyum memandangku. Astaga. Lagi-lagi senyuman maut itu. Aku tak bisa bertahan jika seperti ini adanya. “Tidak apa-apa. Kau sudah tau apa yang harus kamu katakan?”
Dahiku berkerut bingung. ‘Kamu’? apa?
“Jawaban untukku?” tanyanya lagi. What? ‘ku’?
Dahiku berkerut lagi. Apa dia tidak salah ngomong? Atau aku yang salah dengar?
“Mario, lo gak salah ngomong?” tanyaku dengan dahi yang masih berkerut.
“Maksudmu?”
“’kamu’ ‘aku’? lo gak pake ‘lo’ ‘gue’?”
Mario terkikik. “Tidak apa-apa bukan?”
“Rasanya aneh,” ucapku lalu kembali memakan rotiku dengan tenang. Sebenarnya, pura-pura tenang.
Mario tersenyum menatapku. Huh, sebisa mungkin aku tidak melihat senyuman itu.
“Gimana?” tanyanya lagi.
“Apaan?” tanyaku dengan polos. Huh, sebisa mungkin aku menghindari pertanyaan itu lagi.
“Jawaban kamu?”
Aku terus melahap rotiku. Berpura-pura untuk tidak mendengarkan ucapannya yang membuatku salah tingkah. Aku belum tahu harus menjawab apa untuknya.
“Na?” tanya Mario lagi. Kini ia memegang tangan kananku.
Jantungku meledak-ledak. Aku berdebar-debar. Apa aku suka pada Mario? Mataku melebar menatapnya. Aku salting luar biasa. Tangan Mario hangat saat menyentuh kulitku. Lembut.
“Apa jawabanmu?”
Aku menelan rotiku yang masih tertinggal di kerongkongan untuk kumasukkan ke lambung. Aku salah tingkah. Oh, Mario membuatku sangat dan begitu gila. Aku kehilangan seluruh kata-kata.
Mulutku terbuka hendak mengucapkan sesuatu. Tapi tidak ada yang kelaura sama sekali. aku gugup. Begitu gugup untuk melihat manik mata Mario yang sednag memandangku lembut.
“Ma.. Mar..Mario.. Ehmm—“ ucapanku emnggantung untuk berpikir lebih jernih. Apa yang akan keluar dari mulutku? Aku bodoh.
Mario menungguku dengan tersenyum dihadapanku sambil tetap menggenggam erat tanganku.
Aku berusaha mencari tatapan lain untuk menghindari tatapan itu. Lalu, aku pun melihat sesuatu yang begitu mengusik hatiku sendiri. Aku melihat Rian sedang menggandeng mesra Dian. Mereka sedang membeli sesuatu kepada Mang Jo, penjaga kantin.
Tatapanku kembali melihat Mario. Aku sudah tahu jawabannya. Aku sudah tahu jawaban apa untuk Mario. Semoga aku tidak salah memilih ini.
“Mario, aku sudah punya jawaban untukmu.”
Mario tersenyum sambil mempererat genggamannya.
“Aku mau,” ucapku sambil tersenyum.
***
Aku pulang bersama Mario. Tangan kami selalu bertautan. Mario tak melepaskannya sama sekali. Ia menggenggam tanganku erat dan hangat.
Kami sedang berada di koridor kelas dua sekarang. Aku sedang menunggunya mengurusi pekerjannya bersama teman sekelompoknya. Ia ingin mengantarku dan aku sedang ingin pulang bersama dengannya. Ya, karena status kami sudah berupa sepasang kekasih.
Aku tersenyum saat melihat Mario sudah selesai dengan pekerjaannya. Ini sudah sekitar setengah lima. Sekolah sudah sepi. Di koridor ini saja hanya ada aku dan Mario.
“Kau pasti lama menungguku,” ucapnya sambil memasukkan berberapa kertas ke dalam filenya dan memasukkannya ke dalam tas.
Aku tersenyum, “Tidak.”
“Ayo!” ajaknya sambil mengulurkan tangannya.
Aku terkikik dan menerima uluran tangan Mario. Mario lalu menggenggam erat tanganku. Di jalan, kami terus bercanda dan tertawa cekikikan. Membahas hal yang sangat-sangat tabu. Tapi bisa saja membuat kami sakit perut karena kebanyakan tertawa.
Senyumku langsung sirna ketika melewati lapangan. Anak-anak cheers masih latihan di lapangan. Dan mataku sempat melebar ketika melihat sosok Rian yang sedang tertawa melihat Dian yang terus melakukan kesalahan dalam gerakan yang harus ia lakukan.
***
“Kenapa mukanya lemes gitu?” tanya Mario sambil memegang daguku.
Kami sudah sampai di depan gerbang rumahku. Aku sudah turun dari motor Mario dan beridiri di sampingnya dan motornya. “Tidak apa-apa,” jawabku dengan senyum yang kaku.
“Bohong!”
“Bener, aku mungkin cuma kecapekan aja. Istirahat juga besok pasti sembuh.”
Mario tertawa lalu menatapku yang bingung, “Besok libur-kan?”
“Iyalah,” jawabku.
“Jalan-jalan mau?” tanya Mario sambil tersenyum. Ia lalu melepaskan helmnya.
Aku tersenyum lalu mengangguk, “Bagaimana kalau kau masuk ke rumahku?” tanyaku sambil menghampiri gerbang dan akan membukanya.
Tangan Mario menangkap tanganku, “Ayo!” ajakku lagi.
Dia tersenyum, “Tidak usah. Aku mau pulang aja. Udah sore.”
Aku mendekatinya lagi, “Terimakasih ya!” kataku.
Sedetik kemudian aku mendapatkan sebuah kecupan di pipiku. Aku ternganga. Mario baru saja mencium pipiku. Aku menggigit bibirku untuk berpikir.
“Aku sayang kamu,” ucap Mario lalu mengenakkan helmnya dan menghidupkan motornya dan berlalu meninggalkanku yang masih shock. Aku mendapat kecupan dari Mario.

***
Bersambung ke chapter 4. Maaf ya, judul di chapter pertama adalah "Cinta ini Dusta" karena ada kesalahan, judul aku ganti.Maaf.

0 comments: