Chapter 3
Apa
yang harus aku lakukan sekarang? Aaaaaa…. Marioo.. Berilah aku sedikit waktu
saja. Kenapa kau membuatku dilemma?
Entah
mengapa aku jadi teringat Rian. Aaaa… Mengapa dia muncul lagi dalam ingatanku??
Jaika
kau tahu, aku sedang gila di dalam kamarku. Untung Kakakku sedang menginap
dirumah Teresa. Hanya ada Mama dan Papa yang mungkin sudah tidur. Siapa sih
yang tahan melek sampai jam satu seperti ini? Jam satu malam. Bahkan sebentar
lagi akan subuh. Dan aku masih belum bisa tertidur.
Dan
entah mengapa, aku sekarang memikirkan Rian, bukannya Mario. Aku masih
memikirkan tentang dia yang sedang dekat dengan Dian. Jika aku melihat mereka,
ada rasa aneh. Padahal kan aku sudah tidak berhubungan lagi dengan Rian. Apa
karena aku masih sayang sama dia?
Aku
menggeleng-gelengkan kepala mengibaskan semua pikirkan aneh yang melintas dalam
pikiranku. Dan aku masih bingung, kata-kata apa yang akan aku sampaikan padanya
besok pagi?
***
Hebat.
Ada lingkaran hitam dibawah mataku. Aku kurang tidur. Tadi malam aku berhasil
tidur sekitar pukul setengah tiga. Dan jam setengah enam aku sudah bangun. Aku
mengantuk sekali.
Untung
Papa bersedia mengantarku ke sekolah. Aku tidak terlambat, hanya kakiku sedikit
sempoyongan. Jalanku tak tentu arah. Mataku merah dan rasanya ingin sekali
tertutup untuk tidur. Aku mengantuk dan lelah.
“Natalia,”
sapa riang dari Anggi menyambut pagiku yang agak sedikit suram.
“Kenapa?”
tanyaku sambil masih sempoyongan jalan dengan mata yang agak tertutup.
“Gimana?
Apa jawaban lo?” tanyanya.
Matku
mengerling menatapnya, “Apa maksud lo?”
“Bukannya
kemarin lo ditembak Mario? O_O”
Mataku
yang tadinya tertutup langsung melotot mendengar ucapan Anggi, “Kok lo bisa
tahu?”
“Iya,
kemarin kan gue belum pulang, ada urusan di ruang OSIS. Tiba-tiba gue denger
teriakan Mario gitu. Terus gue nguping sambil sembunyi-sembunyi.”
“-.,-
Lo emang kurang ajar,” ucapku lalu meninggalkannya dengan jalan yang
sempoyongan.
“Tapi
gimana jawaban lo?” tanyanya sambil menghampiriku dan menyeimbangi langkahku
yang lelet bab putri solo.
Aku
menatap wajah Anggi dengan datar, “Lihat aja nanti.”
“Tapi,
kalau seumpama lo jadian sama Mario gak papa kok. Gue ngedukung banget,”
ucapnya dengan ekspresi yang membuatku merinding ngeri.
“Apaan
sih lo?”
“Lihat
deh!” katanya sambil menggaet tanganku dan menarikku menuju dinding balkon.
“Ada
apa?” tanyaku bingung.
Matanya
terlihat mencari sesuatu.
“Ada
apaan sih?”
Setelah
matanya melihat apa yang ia cari, “Nah, tu liat!” suruhnya sambil menunjuk ke
lapangan.
Mataku
mengikuti telunjuknya, “Apa?”
“Lihat
deh, Rian sama Dian!”
Mataku
langsung menemukan sosok Rian. Dia tak sendiri. Dari parkiran, ia bergandnegan
tangan denngan Dian dengan mesranya.
“Mereka
pacaran tadi malem. Gue tahu dari tweet-nya
Dian malam tadi.”
Aku
mendesah dan menghela napas. Aku tidak salah liat kan? Entah mengapa, hatiku
jadi tertusuk-tusuk. Apa ini?
“Lo
kenapa, Na?” tanya Anggi sambil menyentuh bahuku.
Aku
terkejut dengan pertanyaan Anggi, “Enggak-enggak. Syukur kalau Riannya udah
punya pacar,” ucapku sambil sebisa mungkin tersenyum. “Kalau gitu gue ke kelas
dulu,” kataku lalu berlalu dari hadapan Anggi.
***
Rian
udah pacarn sama Dian. Rian udah pacaran sama Dian. Dan Rian sudah pacaran sama
Dian. Aaaaaa…. Kenapa rasanya gue kaya cemburu gini sih? Aih.. Kenapa dia
selalu di kepalaku. Apalagi, pedih mataku jika berpapasan dengan Dian. Aaaaaa…
aku berteriak sekeras mungkin dalam hatiku.
Sadarlah
Natalia. Sadar. Ucapku dalam hati sambil menepuk-nepuk pipiku, agar kepalaku
jernih. Terhindar dari pikiran tentang Rian dan si Dian yang seharusnya tak
usah kupikirkan. Untuk apa memikirkan hal yang sudah tidak milikku.
Sadar Natalia, Rian
sudah melukai dirimu. Hingga kamu sendiri yang meminta putus darinya,
hatiku mencoba menenangkan diriku yang gila.
Akhirnya,
bel istirahat terdengar. Aku sudah tidak betah untuk bertahan dalam keadaan
seperti ini. Aku ingin ke toilet dan mencuci mukaku. Agar pikiran tentang Rian
juga hilang.
Aku
berdiri dari bangkuku dan lekas bergegas menuju toilet. Toilet tidak terlalu
ramai. Aku langsung membash mukaku. Lalu menatap cermin di hadapanku. Aaaaa…
Kenapa aku jadi segila ini? Kenapa?
Huh.
aku mendesah. Menghela napas panjang. Dan keluar drai toilet. Aku sempat
melihat beberapa anak mengamatiku bingung. Aku tak peduli dengan tatapan mereka
yang risih dan langsung meninggalkan toilet dengan cuek.
Mau
kemana lagi aku? Kantin? Oke.
Semoga
lingkaran di bawah mataku sudah hilang. Aku tak ingin terlihat seperti orang
lusuh. Aaaaa… Entah kenapa rasanya aku ingin berteriak selalu. Kalau bisa, aku
ingin berteriak sekeras-kerasnya. Kalau bisa, dengan bantuan TOA dan Bazooka
dengan ukuran yang super besar.
Sampailah
di kantin. Aku hanya membeli roti ukuran besar dan susu kotak ukuran sedang.
Lalau aku memilih tempat duduk paling pojok.
Aku
langsung memakan rotiku dengan agak sedikit berantakan. Gak peduli. Rasanya
pengin marah terus.
“Na!”
seru seseorang yang tiba-tiba duduk di kursi hadapanku.
Aku
mendongak. Mario. Aku sampai melupakannya. Bagaimana ini? Bagaimana bisa aku
emlupakannya. Pikiranku penuh dengan Rian sih. Aku jadi tidak sempat memikirkan
apa yang akan aku ucapkan padanya. Aih.
“Ya?”
tanyaku setenang mungkin meneymbunyikan kegelisahanku yang membuncah.
Dia
tersenyum memandangku. Astaga. Lagi-lagi senyuman maut itu. Aku tak bisa
bertahan jika seperti ini adanya. “Tidak apa-apa. Kau sudah tau apa yang harus
kamu katakan?”
Dahiku
berkerut bingung. ‘Kamu’? apa?
“Jawaban
untukku?” tanyanya lagi. What? ‘ku’?
Dahiku
berkerut lagi. Apa dia tidak salah ngomong? Atau aku yang salah dengar?
“Mario,
lo gak salah ngomong?” tanyaku dengan dahi yang masih berkerut.
“Maksudmu?”
“’kamu’
‘aku’? lo gak pake ‘lo’ ‘gue’?”
Mario
terkikik. “Tidak apa-apa bukan?”
“Rasanya
aneh,” ucapku lalu kembali memakan rotiku dengan tenang. Sebenarnya, pura-pura
tenang.
Mario
tersenyum menatapku. Huh, sebisa mungkin aku tidak melihat senyuman itu.
“Gimana?”
tanyanya lagi.
“Apaan?”
tanyaku dengan polos. Huh, sebisa mungkin aku menghindari pertanyaan itu lagi.
“Jawaban
kamu?”
Aku
terus melahap rotiku. Berpura-pura untuk tidak mendengarkan ucapannya yang
membuatku salah tingkah. Aku belum tahu harus menjawab apa untuknya.
“Na?”
tanya Mario lagi. Kini ia memegang tangan kananku.
Jantungku
meledak-ledak. Aku berdebar-debar. Apa aku suka pada Mario? Mataku melebar
menatapnya. Aku salting luar biasa. Tangan Mario hangat saat menyentuh kulitku.
Lembut.
“Apa
jawabanmu?”
Aku
menelan rotiku yang masih tertinggal di kerongkongan untuk kumasukkan ke
lambung. Aku salah tingkah. Oh, Mario membuatku sangat dan begitu gila. Aku
kehilangan seluruh kata-kata.
Mulutku
terbuka hendak mengucapkan sesuatu. Tapi tidak ada yang kelaura sama sekali.
aku gugup. Begitu gugup untuk melihat manik mata Mario yang sednag memandangku
lembut.
“Ma..
Mar..Mario.. Ehmm—“ ucapanku emnggantung untuk berpikir lebih jernih. Apa yang
akan keluar dari mulutku? Aku bodoh.
Mario
menungguku dengan tersenyum dihadapanku sambil tetap menggenggam erat tanganku.
Aku
berusaha mencari tatapan lain untuk menghindari tatapan itu. Lalu, aku pun
melihat sesuatu yang begitu mengusik hatiku sendiri. Aku melihat Rian sedang
menggandeng mesra Dian. Mereka sedang membeli sesuatu kepada Mang Jo, penjaga
kantin.
Tatapanku
kembali melihat Mario. Aku sudah tahu jawabannya. Aku sudah tahu jawaban apa
untuk Mario. Semoga aku tidak salah memilih ini.
“Mario,
aku sudah punya jawaban untukmu.”
Mario
tersenyum sambil mempererat genggamannya.
“Aku
mau,” ucapku sambil tersenyum.
***
Aku
pulang bersama Mario. Tangan kami selalu bertautan. Mario tak melepaskannya
sama sekali. Ia menggenggam tanganku erat dan hangat.
Kami
sedang berada di koridor kelas dua sekarang. Aku sedang menunggunya mengurusi
pekerjannya bersama teman sekelompoknya. Ia ingin mengantarku dan aku sedang
ingin pulang bersama dengannya. Ya, karena status kami sudah berupa sepasang
kekasih.
Aku
tersenyum saat melihat Mario sudah selesai dengan pekerjaannya. Ini sudah
sekitar setengah lima. Sekolah sudah sepi. Di koridor ini saja hanya ada aku
dan Mario.
“Kau
pasti lama menungguku,” ucapnya sambil memasukkan berberapa kertas ke dalam
filenya dan memasukkannya ke dalam tas.
Aku
tersenyum, “Tidak.”
“Ayo!”
ajaknya sambil mengulurkan tangannya.
Aku
terkikik dan menerima uluran tangan Mario. Mario lalu menggenggam erat
tanganku. Di jalan, kami terus bercanda dan tertawa cekikikan. Membahas hal
yang sangat-sangat tabu. Tapi bisa saja membuat kami sakit perut karena
kebanyakan tertawa.
Senyumku
langsung sirna ketika melewati lapangan. Anak-anak cheers masih latihan di lapangan. Dan mataku sempat melebar ketika
melihat sosok Rian yang sedang tertawa melihat Dian yang terus melakukan
kesalahan dalam gerakan yang harus ia lakukan.
***
“Kenapa
mukanya lemes gitu?” tanya Mario sambil memegang daguku.
Kami
sudah sampai di depan gerbang rumahku. Aku sudah turun dari motor Mario dan
beridiri di sampingnya dan motornya. “Tidak apa-apa,” jawabku dengan senyum
yang kaku.
“Bohong!”
“Bener,
aku mungkin cuma kecapekan aja. Istirahat juga besok pasti sembuh.”
Mario
tertawa lalu menatapku yang bingung, “Besok libur-kan?”
“Iyalah,”
jawabku.
“Jalan-jalan
mau?” tanya Mario sambil tersenyum. Ia lalu melepaskan helmnya.
Aku
tersenyum lalu mengangguk, “Bagaimana kalau kau masuk ke rumahku?” tanyaku
sambil menghampiri gerbang dan akan membukanya.
Tangan
Mario menangkap tanganku, “Ayo!” ajakku lagi.
Dia
tersenyum, “Tidak usah. Aku mau pulang aja. Udah sore.”
Aku
mendekatinya lagi, “Terimakasih ya!” kataku.
Sedetik
kemudian aku mendapatkan sebuah kecupan di pipiku. Aku ternganga. Mario baru
saja mencium pipiku. Aku menggigit bibirku untuk berpikir.
“Aku
sayang kamu,” ucap Mario lalu mengenakkan helmnya dan menghidupkan motornya dan
berlalu meninggalkanku yang masih shock. Aku mendapat kecupan dari Mario.
***
Bersambung ke chapter 4. Maaf ya, judul di chapter pertama adalah "Cinta ini Dusta" karena ada kesalahan, judul aku ganti.Maaf.

0 comments:
Post a Comment