Semua
memang sudah ditentukan atau kita menentukan sendiri. Aku masih bingung dengan
itu. Aku akan menceritakan hubunganku dengan Mario saja. Semua baik-baik saja.
Dia baik dan sangat perhatian padaku. Dan yang paling membuatku senang adalah,
dia orang yang romantis.
Setiap
pagi, Mario menjemputku. Pulang, dia mengantarku. Kecuali, jika dia ada urusan.
Ya, semua di jalanini dengan baiklah.
Dan
juga, mantan pacarku kelihatannya makin mesra sama Dian. Jika aku lihat,
perhatian Rian ke Dian melebihi perhatiannya padaku dulu. Ah, sudahlah. Dan,
mereka selalu membayang di kepalaku. Ah. Sialan.
Tapi,
Mario tak kalah kok sama Rian. Mario mungkin laki-laki yang lebih baik dari
Rian. Aku yakin itu. Rian hanya selalu membuatku sakit. Ah, sudahlah. Aku tak
perlu lagi membahas Rian.
“Na,
gimana hubungan lo sama Mario? Dia orang baik kan?” tanya Anggi di sampingku.
Kami sedang bersandar di dinding balkon lantai dua.
Aku
tersenyum menatap Anggi, “Iyalah. Kalau dia enggak baik, gue enggak bakalan
tahan sama dia. Lo liat kan kita udah pacaran tiga minggu,” ucapku. Pandnaganku
beralih menuju lapangan melihat Rian yang sedang bermain basket bersama
teman-temannya.
“Heh,
liatin apa lo?” tanya Anggi sambil mengibaskan tangannya di hadapanku.
“Haa?”
tanyaku kaget.
Anggi
mengikuti pandanganku yang sedar tadi mengamati Rian. “Lo dari tadi liatin
Rian?”
Aku
diam.
“Apa
lo masih sayang sama dia, Na?” tanya Anggi pelan.
Pipiku
memerah. Entah kenapa aku jadi salah tingkah sendiri, “Tidak, lagi pula aku
udah sama Mario, Nggi.”
“Gak
usah bo’ong. Ketahuan dari sikap lo.”
“Enggak
kok,” ucapku setenang mungkin.
“Kelihatannya
iya,” gumam Anggi meyakinkan pernyataannya sendiri.
Aku
hanya menunduk.
“Tapi,
coba jujur deh, Na. Lo masih sayang kan sama Rian?”
“Apaan
sih?-.,-“
“Bener
kan?”
“Udahlah,
gue mau ke kelas dulu,” ucapku sambil mengibaskan tangan dan meluncur menuju
kelas meninggalkan Anggi yang masih berdiri di sana.
***
Istirahat
kedua, waktuku kugunakan untuk pergi ke perpustakaan. Ya, sekadar cari buku
untuk dibaca-baca. Mario pergi entah kemana. Dan aku malas untuk mencarinya. Mungkin
sednag rapat tentang pertandingan basket bulan depan. Entahlah.
Cari
buku yang bagus emang susah. Ngeselin juga. Sebenarnya ke sini gak pakai niat.
Ya, Cuma jalan-jalan dan iseng-iseng aja. Tau-tau kan dapat sesuatu yang
nyenengin hati. Hohoho..
Lorong
untuk sastra? Ha? Gak salah nih aku berjalan di sini? Yah, mau apalagi. Dari
tadi cari-cari teenlit gak
ketemu-ketemu.
“Hai,
Na,” seseorang menyapaku dari belakang. Aku mengumpat setelah mendengar suara
itu.
Aku
menoleh ke belakang untuk melihat siapa itu. “Hai,” jawabku.
“Cari
novel?” tanyanya.
Aku
salah tingkah, “Ya. Lo sendiri?” tanyaku. Bodoh.
“Ada
tugas.”
Yah,
aku sangat ingat orang ini jika tidak ada perlu sekali tak akan pergi ke tempat
seperti ini.
“Oh
iya, Na. Ngomong-ngomong, gimana hubungan lo sama Mario?” tanyanya tanpa
memandangku.
“Baik,”
aku memalingkan wajahku ke buku-buku yang tersusun rapi di rak. “Juga, gimana
hubungan lo sama Dian?” tanyaku setenang mungkin. Agar tak kelihatan suaraku
bergetar. Sungguh, aku merasakan lututku kelu.
“Ya. Seperti itu,” jawabnya. Kalai ini dia
memandnagku dengan tersenyum. Oh, astaga, kalau aku tidak berpegangan pada rak,
aku bisa jatuh karena meleleh. Itu senyuman yang pernah ia berikan padaku dulu.
“Oh,
lalu di mana Dian?” tanyaku agak terlihat gugup. Oh, astaga.
“Dia
lagi ada rapat sama anggota basket,” ia menatapku. “Bukankah Mario juga?”
“Iya.”
Jawabku.
Hening.
Aduh, di saat hening seperti ini, jantungku malah berdebar keras sekali. Rian
masih berada di sampingku yang membuatku salah tingkah. Kenapa sih kok aku jadi
begini? Lututku kelu. Aku harus bagaimana sekarang. Jika aku melangkah, aku
takut aku melakukan kesalahan.
Suara
bel masuk pun terdengar. Aku bersyukur.
“Oh,
Na. gue pergi duluan ya,” ucap Rian sambil melambaikan tangannya dan tersenyum.
Ia lalu berlalu dari hadapanku.
Oh,
aku masih bisa merasakan senyumannya tertinggal di sini.
Ah,
apa-apaan sih. Aku menggeleng-gelengkan kepala dan cepat-cepat berlari menuju
kelas.
***
Perjalanan
pulang, aku di antar Mario. Aku masih memeikirkan tentang pertemuanku dengan
Rian siang tadi. Ah, masih terbayang-bayang sampai sekarang. Bagaimana ini?
“Na,
kamu enggak apa-apa?”
Aku
terlonjak, “Iya. Gak pa-pa.”
“Kamu
kelihatan aneh. Ada apa? O.O”
Aku
menggeleng-gelengkan kepalaku, “Aku tidak apa-apa.”
“Oh,
iya. Akhir-akhir ini kelihatannya aku banyak latihan basket buat pertenadingan
bulan depan. Jadi, ya.. mungkin atau kadang aku gak bisa nganter kamu.”
“Enggak
apa-apa. Lagi pula, itu juga buat sekolah kita kan?” kataku sambil menyikut
lengannya.
Mario
tertawa kecil, “Kau bisa saja.”
“Aku
harap kau yang paling banyak memasukkan bola ke ring nantinya.”
Mario
tersenyum lebar, “Semoga.”
***
Hari
ini aku menunggu Mario latihan basket. Aku mendengarkan musik dari hpku
menggunakan headset. Aku menunggu di
pinggir lapangan di atas bangku penonton.
Tak
banyak yang kulakukan. Aku menyantap makanan ringan dan membawa dua buah komik.
Aku membacanya dan tak sekalipun melirik permainan basket Mario. Aku terfokus
pada komikku.
Ada
seseorang yang duduk di sampingku. Aku hiraukan dan terus terfokus pada
komikku.
“Nunggu
Mario?” tanya orang di sebelahku. Astaga. Aku tahu siapa yang mempunyai suara
itu.
Aku
menoleh melihat orang di sampingku. Jantungku sudah dag-dig-dug. “Rian? Ngapain
di sini?”
“Gue
yang tanya. Malah balik tanya. -.,-“
“Oke,
iya. Gue nunggu Mario. Terus lo?” tanyaku.
Ia
mengarahkan dagunya ke luar lapangan. Di mana ada sekelompok anak-anak cheers sedang berlatih.
“Oh.
I see,” ucapku lalu membaca komikku
kembali. “Nunggu Dian kan?” gumamku.
“Iya.
Dia manja,” ucapnya lirih tapi seperti umpatan.
Aku
menatap Rian dengan kening berkerut. “?”
“Iya.
Padahal hari ini gue ada les tau gak? Dia mint ague untuk nemenin dia.”
Aku
mengangguk-angguk paham. “Tapi, gue nunggu Mario karna kemauan gue.”
“Itu
kan elo. Gue enggak mau kali. Setiap nunggu dia gue bosen.”
“Terus?
Ya itu resiko,” ucapku.
Rian
menatapku dengan alis bertaut, “Maksud?”
“Setiap
tindakan pasti ada resikonya. Lo berbuat, harus tahu apa yang bakal terjadi
dengan perbuatan lo itu. Harus siap menghadapi, siap menanggung kalau salah—“
aku memandang komikku, “dan gak kecewa kalau hal yang buruk udah terjadi.”
Rian
menundukkan kepalanya. “Gue tau gue salah kok. Gue udah tahu maksud lo.”
Aku
diam. Sok serius dengan bacaan di komikku.
“Dan
sampai saat ini aku masih mengaharapkan,” Rian memalingkan wajahnya.
Aku
berani mendongak untuk melihatnya. “Mengharapkan apa? Hal yang tak mungkin
kembali? Iya kan? Memang susah untuk menerima kanyataan kan?”
“Aku
masih sayang, Na.”
“Lalu?”
“Aku
mengharapkan.”
“Mengharapkan
apa? Gue kembali sama lo lagi gitu? Setelah apa yang lo lakuin?” aku marah dan
berbicara dengan nada tinggi. Untung anak-anak basket tidak mendnegar
teriakanku. Trerbukti mereka masih melakukan aktifitas mereka dengan serius.
Rian
menatapku nanar dengan mata yang sulit kupahami. “Gue emang salah. Salah sekali
tentang apa yang gue lakukan terhadap lo. Dulu.”
“Kalau
dulu, kenapa sekarang dibawa-bawa?” aku kembali membaca komikku.
“Karena
sampai sekarang aku masih memikirkannya. Dan aku mau tanya sesuatu padamu, Na.
Apa kamu masih sayang?”
Tenggorokanku
tercekat. Aku menelan ludah. Aku tak tahu apa yang harus aku katakan.
“Oke.
Kalau kamu gak jawab, aku bisa menyimpulkan. Sebenarnya kamu sayang. Tetapi
kalah sama yang namanya sakit. Sakit yang timbul karena salah paham.”
Sehabis
mengatakan itu, Rian pergi dariku. Dia berjalan cepat meninggalkanku. Aku tak
mempedulikannya dan berpura-pura membaca komikku.
Apa maksud dari kata-kata
Rian yang terakhir? Salah paham?
***
“Kalian
tadi mengobrol tentang apa?” tanya Mario usai latihan basket. Ia menegak air
dalam kemasan botol mineral dnegan terburu-buru.
“Hanya
mengobrol biasa saja,” jawabku sambil tersenyum. Aku lalu mengulurkan handuk
putih polos padanya.
“Kalian
tadi telrihat serius,” ucap Mario.
“Oh
ya?” alisku sengaja kunaikkan.
“Ya.
Kalian serius sekali. Hingga aku khawatir, kalian membahas tentang hubungan
diam-diam kalian nantinya.-.,-“
“Apaan
sih? Tidak mungkin,” aku meninju lengannya.
“Sakit,”
erangnya sambil mengelus-elus lengannya.
“Makannya,
jangan berpikiran yang aneh-aneh,” ucapku.
“Iya-iya,”ia
berkata seperti gemas dan mencubit pipiku.
“Udahlah,
ayo cepat pulang! Aku laper,” manjaku.
“Iya-iya.
Aku ganti baju dulu.”
Aku
tersenyum lebar.
***
Bersambung ke chapter 5