Tuesday, 24 December 2013

I Don’t Know About Love : Chapter 2

Chapter 2
Hari ini aku agak sedikit flu. Semalaman aku hujan-hujanan bersama Rian menyebalkan. Tapi, ya mau gimana lagi. Ke sekolah, bawanya tisu sekotak full untuk menghapus ingusku.
Untung badanku tidak panas. Jika iya, aku tidak bisa berangkat sekolah hari ini. Apalagi, hari ini harinya ulangan kimia. Kalau aku tidak ulangan sekarang, tak aka nada kesempatan untuk menyontek.
Dan semua berlalu. Hari ini, hari dimana aku dan Rian tidak lagi bersama-sama seperti dulu. Rasanya ada yang kurang. Setiap istirahat, dia akan ke kelasku untuk menawariku ke kantin atau tidak. Atau hanya sekadar mengetahui kabarku. Dan hari ini, hal itu tidak ada.
Hari ini pun aku tidak melihat sosok Rian di sekolah. Apakah dia sakit? Ah.. tdak-tidak. Kenapa aku jadi memikirkan dia?
Tapi memang benar. Aku sedang ada di depan kelasnya sekarang. MEnatap ambang pintu kosong yang terbuka lebar. Menatap hampa ruangan kosong itu dengan perasaan buncah dan berkali-kali mendesah.
“Natalia,” panggil seseorang.
Aku membalikkan badan untuk mengetahui siapa yang telah memanggilku. Aku tersenyum. “Ya?”
“Lo cari.. Rian?” dari ucapannya ia sedikit ragu untuk mengatakan itu. “Hari ini dia tidak masuk. Katanya dia sakit.”
Aku tersenyum sambil menunduk. “Nggak, gue hanya kebetulan lewat,” jawabku.
“Oh,” serunya. “Lo lagi sendiri?”
“Ya.”
“Ini sudah waktunya pulang bukan, kenapa lo masih berada di sekolah?”
“Oh, itu. Tidak apa-apa. Gue juga mau pulang kok,” kataku seraya melangkah akan meninggalkannya.
“Tunggu!” serunya.
Aku menengok untuk melihatnya, “Kenapa?”
“Mau sama-sama?”
Aku mengerutkan kening.
“Pulang bersama?”
Aku tersenyum, “Baiklah,” ucapku. “Memangnya, lo nggak pulang dengan Vita?” tanyaku.
Dia meringis, “Gue udah putus dengannya.”
Mataku membulat kaget, “Apa?” seruku. “Itu tidak benar-kan, Mario?”
“Benar,” jawabnya. “Itu udah lama.”
Aku memandang Mario lama. Ia tidak bercanda.
“Kenapa? Elo enggak percaya? Tanya ke Vitanya sendiri.”
Aku berjalan menyusuri koridor bersama Mario. Mario adalah teman sekelasnya Rian. Dia tak terlalu akrab dengan Rian. Namun, dia lumayan akrab dneganku. Karena dia adalah pacar temanku, Vita. Namun, setelah mendengar ucapannya tadi, bahwa dia putus dengan Vita, membuatku agak gimana gitu. Aneh.
“Bagaimana kalian bisa putus?” tanyaku heran. Jujur, aku sangat ingin mengoreki hal-hal yang membuatku menarik untuk diperbincangkan. Ya walaupun bukan setajam golok atau apa.
“Ya..” dia agak berpikir. “Mungkin kami sudah tidak cocok. Itu saja.” Ia mengedikkan bahu dan melihatku.
Aku melihatnya dengan alis terangkat sebelah. Aku heran. Bagaimana pasangan yang serasi itu bisa putus. Sayang.
“Gue juga ingin cerita.” Ucapku.
“Apa?”
Aku menundukkan kepala bersiap untuk menceritakan semuanya pada Mario. Entah kenapa, aku jadi ingin bercerita pada seseorang. “Mh.. gue udah putus sama Rian.”
Langkah Mario terhenti. Aku yakin, dia terkejut karena ceritaku.
Aku lalu melihat Mario yang berhenti di belakangku. Matanya seperti bertanya.
“Apa maksud ucapan lo tadi? Elo putus sama Rian? Kapan?”
Aku terkikik lalu menarik tangan Mario untuk cepat berjalan di sampingku. “Dengan berjalan, oke?” tanyaku dan Mario mengangguk dengan wajah seperti orang tolol. “tadi malam.” Ucapku pendek.
“Tunggu-tunggu,” serunya. “tadi malam? Bagaimana ceritanya?”
Aku tersenyum lalu menceritakan semua kejadian antara aku dengan Rian tadi malam. Bagaimana kami hujan-hujanan, berpelukan, kami yang akhirnya berpisah dan di mana hari ini aku flu berat dan Rian tidak masuk sekolah hari ini.
Mario hanya bengong mendengar ceritaku. Dan aku juga mendengarkan ceritanya tentang dia dan Vita.
***
Kehadiran seseorang itu berharga ya. Perhatian seseorang juga sangat istimewa rasanya. Sampai kita tak menyadari apa yang sebenarnya terjadi ketika ada pelamiasan untuk tidak merasakan semua beban.
Ah, kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya apa sih beban yang menghambatku. Tidak ada kan? Maksudku, ya.. Tapi, rasanya sesak ketika memikirkan.. entah apa itu. Rasanya aneh dan membuatku menggelng-gelengkan kepala saat memikirkan hal yang aneh-aneh. Menyangkut hal-hal tentang ya.. tentang Rian yang masih membekas di kepalaku. Ah, rasanya aku ingin teriak di saat baying-bayang orang itu muncul tiba-tiba di kepalaku. Apakah ini tandanya aku masih sayang sama dia?
Sudah sebulan aku putus dari Rian. Setiap bertemu, tak ada sapaan atau sekadar senyuman. Dia acuh dengan mata tak menatap dan langsung menghindar dariku. Kamis eperti dua orang yang tak pernah kenal. Tapi, entah mengapa, setiap Rian berlalu dari hadapanku, dadaku menjadi sesak.
Dan kini, aku selalu dekat dengan Mario. Entah mengapa, dia peduli denganku. Dia baik. Dialah orang yang mau mengulurkan tangan untukku dan mau menampung semua cerita dan keluhanku. Status kami yang sama –sama sedang menjomblo, membuat kami semakin dekat. Dia habis putus dengan Vita dan aku habis putus dengan Rian. Impas. Kami seperti punya nasib yang sama. Tapi, tak terlalu persis untuk seluk-beluknya. Hehe J
“Heh! Ngelamun aja?” sentak Mario hingga mengagetkanku.
“Apaan sih?” hirauku.
“Gak mau makan?” tanyanya.
“Enggak ah. Males!”
“Ya udah, gue mau ke kantin dulu. Mau nitip?”
“Enggak usah,” jawabku pendek sambil tersenyum.
“Oke,” ucapnya lalu berlalu dari hadapanku yang sedang asyik memikirkan sesuatu di bangku depan kelasku. Ah, apa-apaan sih.
Aku kok jadi gila sendiri kaya gini? Tapi, Mario baik-kan? Ah, dia memang benar-benar baik kok. Baik banget malah. Sayang ya kalau Vita ninggalin cowok secakep dan sebaik Mario. Nyesel gak tuh dia.
“Heh!” teriak perempuan mengagetkanku lagi.
“Anggi!” teriakku setelah tahu siapa yang mengejutkanku. “Mau apa kau?” aku cemberut sampai lima senti.
“Hehe..” dia nyengir lebar sampai menampakkan deretan giginya yang ampuh.. putih banget sampai akunya silau. “Enggak. Gue cuma mau nyamperin elo aja,” dia lalu menyodorkan sebungkus besar makanan yang sudah dibuka, “Mau?”
“Enggak,” jawab ku sambil menggeleng. “Makasih.”
“Eh, ngomong-ngomong, elo jadian ama Mario?”
Omongan Anggi membuatku keselek air ludahku sendiri. “Apa? Enggaklah!” sergahku.
Anggi terus saja melahap makanan ringannya, “Kok gosipnya gitu?”
“Apa? Gosip?” tanyaku bingung banget.
“Iya, gossip. Elo gak tahu, elo digossipin mecem-macem sama. Elo pacaranlah sama Mario.”
“Enggak! Gue enggak pacaran sama Mario. Kami cuma temenan biasa.”
“Tapi, kalau gue lihat tadi, kalian emang kaya orang pacaran tau enggak. Lebih dari sikap ketika lo pacaran sama Rian.”
Aku melototi Anggi. Tapi, ia tak mempedulikanku. Ia terus melahap makanan ringannya yang masih banyak di bungkusnya. Apa dia enggak takut gendut?
“Udahlah, Nggi! Yang penting, gue enggak pacaran sama Mario,” ucapku selanjutnya sambil menopang wajah dengan tangan.
“Pacaran juga enggak apa-apa kok,” kata Anggi. Aku lalu menengok untuk melihat wajahnya. “Lagian, Rian juga udah dapet pengganti lo tu kayaknya.”
Mataku membulat terkejut. “Apa? Siapa ceweknya yang baru?”
“Belum pacaran sih, tapi dari gelagatnya, kayaknya mereka mau pacaran deh.”
“Iya. Tapi siapa ceweknya itu?”
Anggi menghela napas, “Dia sekarang sama Dian.”
Aku membelalakkan mata, “Dian? Dian anak Cheers itu?” tanyaku histeris.
Anggi mengangguk. “Yang cantik banget itu loh!” Anggi menunjuk salah satu perempuan yang sednag latian cheers di lapangan.
Mataku mengikuti tangan Anggi yang menunjuk salah satu perempuan. Dian. Astaga. Cewek yang lagi deket sama Rian itu Dian. Dian.. Astaga.. jika kau mau lihat, dia itu cantik banget. Banget cantik. Semua perempuan di sekolahan ini iri sama kecantikannya dia. Dia cantik banget.
“Beneran sama Dian, Nggi?” tanyaku lagi. Aku seakan tak percaya dengan omongan Anggi.
“Iya, Na!” Anggi mempertegas ucapannya. Meyakinkanku untuk mempercayainya.
Aku lalu mengangguk-angguk dengan tampang tolol sekali. Astaga. Aku menepuk-nepuk pipiku berulangkali. Kok Rian bisa dapet yang cantik kaya gitu?
***
“Eh! Elo kenapa sih?” tanya Mario di sampingku.
Aku dan Mario sedang berjalan menuju parkiran untuk mengambil motornya dan pulang bersama.
“Enggak apa-apa.” Jawabku.
“Apa lo lagi sakit?” tanyanya.
“Enggak.”
“Terus?”
“Enggak apa-apa kok.”
Aku menatap lurus kedepan.
“Apa lo kepikiran dengan Rian yang lagi deket sama Dian?” tanyanya.
Aku menatap Mario dengan kening berkerut, “Ha?” aku lalu tertawa sumbang, “Enggak kok.”
“Enggak usah bo’ong. Gue tahu kok,” katanya dnegan sedikit tertawa.
Aku lalu menundukkan kepalaku, “Enggak kok.”
Huh menyebalkan. Kenapa sedari tadi aku memikirkan orang itu terus. Kenapa? Dia itu kunyuk yang udah bikin aku sakit. Ah. Aduh, Tuhan, tolong hilangkan baying-bayang Rian dari kepalaku, Amin.
Tanpa kusadari, Mario sudah tak ada di sampingku. Aku lalu menengok ke belakang. Mario berada satu meter di belakangku. Dia berdiri mematung di sana dan menatapku dengan dahi kerkerut dan terlihat marah?
“Lo ngapain di situ? Ayo, Mario!” ucapku.
Perlahan dia berjalan menghampiriku. Ia menatapku lekat. Lalu dia duduk di salah satu bangku koridor. Sekolah sudah lumayan sepi. Hanya ada aku dan Mario di koridor ini. Sepi.
“Na, apa lo itu gak tahu sih?” katanya. Ia tak menatapku. Ia menatap kea rah lain. Entah apa yang ia amati.
“Apa?” tanyaku lalu duduk di samping Mario.
“Lo itu gak peka ya?” ia meringis. “Apa lo pura-pura gak tahu?” tanyanya lagi.
Aku mengerutkan dahi bingung, “Apa maksud lo? Gue nggak mengerti!”
Mario lalu melihatku tajam. Matanya seperti menusuk mataku. Mengartikan sesuatu yang tak kupahami. “Lo tahu gossip tentang kita?”
Aku sedikit berpikir, lalu mengangguk.
“Lalu?”
“Ya, hiaraukan aja kali. Lagipula, kita enggak pacaran kan,” jawabku.
Mario mendengus lalu membuang muka.
“Kenapa?”
“Apakah kau tak tahu jika aku ini menyukaimu?” teriaknya.
Aku terpaku ditempatku. Apa? Mario menyukaiku? Aku mengerjap-ngerjap tak percaya. Ini bukan mimpikan?
“Mario?” panggilku pelan.
“Hm,” sahutnya.
Mulutku terbuka, akan mengatakan sesuatu. Tapi kuurungkan setelah berpikir. Tidak. Aku tidak berpikir. Aku sama sekali tidak bisa berpikir. Untuk bernapas saja, aku belum bisa.
Aku lalu melihat Mario yang sama sekali tidak menatapku. “Sebaiknya kita pulang!” kataku lalu berdiri.
Mrio tetap diam.
“Ayo, Mario!” ajakku setenang mungkin. Aku belum bisa menenangkan emosiku sendiri.
“Aku perlu jawaban darimu, Na!” teriaknya sambil menatapku.
O_O. Aku baru sadar, Mario tidak lagi menggunakan ‘Lo’ ‘Gue’. Dan kali ini, aku benar-benar bingung harus berbuat apa. Aku celingukan menatap sekitar. Untung sepi.
Aku menunduk ketika mata Mario terus menatapku tajam menanti kata-kata yang keluar dari mulutku. Aku terus berpikir, kata-kata apa yang akan aku ucapkan padanya. “Gu…gue bingung, Mario.”
“Kenapa lo harus bingung sih? Tinggal berkata ‘iya’ atau ‘enggak’. Itu aja kan?”
Aku menatap wajah Mario nanar. “Gue pikir dulu. Sekarang.. gue mau pulang dulu.” Kataku sambil berbalik dan mulai berjalan meninggalkan Mario.
“Biar gue anter,” katanya lalu menyusulku.
Aku menghembuskan napas lalu kembali melangkah.
***
“Pikir dulu, Na. Jangan terlalu lama buat gue nunggu,” ucap Mario setelah aku turun dari motornya.
Aku hanya menatap wajah Mario lalu menunduk, “Akan gue usahain.”
Mario tersenyum. Oh sungguh, senyumannya bisa membuatku meleleh. Keliatannya, aku gak bisa berdiri terlalu lama. Dan entah kenapa, jantungku berdebar kencang sekali.
“Thank’s ya, udah nganter,” kataku. Aku lalu berbalik dan meninggalkan Mario menuju gerbang rumahku. Lalu membukanya. Aku menatap Mario yang sudah menyalakan motornya. “Hati-hati,” ucapku yang dibalas senyuman oleh Mario.
Mario pun pergi dan masih meninggalkan senyuman yang membuatku melelh. Aaaaaa… MARIOOOO…. Kau membuatku gila….

***
Bersambung di chapter 3

0 comments: