Tuesday, 31 December 2013

Syarat pengajuan naskah ke PBC (Pink Berry Club)

Nih, banyak banget link yang posting ini. Termasuk aku juga ya. Hehe. Aku juga demen banget ama buku-buku dari koleksi Pink Berry Club.
Nah, yang mau jadi penulisnya, yang mau tau gimana cara ngirimnya, ini nih, udah aku siapin untuk kalian. Pasti, kalau kalian cari di blog lain juga banyak. Tapi, di sini juga ada kok. Hehe J
Langsung aja nih aku kasih ketentuannya :


·                     Kirimkan naskah dengan tebal halaman 75-100, kertas A4 spasi 1,5      (hindari jenis penggunaan jenis font Comic Sans)
·                     Usia untuk penulis PBC adalah 12-16 tahun
·                     PBC tidak menerima naskah-naskah bertema Fantasi dan Romance
·                     Kirimkan naskah yang sudah diketik rapi dan di-print ke alamat redaksi Mizan via pos (Mizan tidak terima naskah via e-mail)
          dilengkapi dengan   :
1.                 Biodata lengkap (dengan nomor yang bisa dihubungi dan alamat e- mail)
2.                 Deskripsi tokoh
3.                 Sinopsis cerita
4.                 Ucapan terima kasih
5.                 Foto terbaru pengarang
6.                 Naskah dalam bentuk digital
·                     Naskah yang diterbitkan adalah naskah terbaik setelah melalui seleksi dan evaluasi selama maksimal 3 bulan. Naskah yang tidak lolos seleksi akan dikabari via surat atau telepon
·                     Naskah yang dikirimkan tidak dapat dikembalikan kecuali disertai dengan perangko

Kirim ke:
Redaksi Mizan
Jalan Cinambo No. 135
Cisaranten Wetan

Ujung Berung - Bandung – 40294

Tuesday, 24 December 2013

8 Tips Menulis Novel Fiksi ala Paulo Coelho

Bagi Anda para pecinta fiksi mistik, sufistik atau filosofis, tentu tak asing dengan nama penulis berdarah Amerika Latin yang  dengan cerdas mengemas cerita dalam bahasa simbolik dan ragam metafora, Paulo Coelho. Dari tangannya, terlahir karya masyhur seperti; The Alchemist, The Zahir, The Witch of Portobello, Eleven Minutes, The Winner Stands Alone dan sebagainya. Karya-karyanya telah terjual lebih dari 100 juta kopi, diterjemahkan dalam 67 bahasa di 150 negara di dunia, termasuk bahasa Indonesia.
Dalam web blog pribadinya, Coelho berbagi tips cara menulis buku atau novel sebagaimana pengalamannya selama ini kepada para penggemarnya. Berikut adalah beberapa cara yang perlu harus lakukan:
Pertama, Keyakinan. Anda tidak bisa menjual buku yang diterbitkan berikutnya jika kita memandang rendah buku yang baru saja Anda terbitkan. Jadi, berbanggalah dengan apa yang Anda miliki.
Ke dua, Percaya. Percayalah kepada pembaca, jangan menjelaskan sesuatu terlalu detail. Cukup beri petunjuk dan, biarkan para pembaca memenuhi petunjuk tersebut dengan imajinasi mereka sendiri.
Ketiga, Pengalaman. Anda tidak bisa memulai sesuatu berangkat dari ruang yang kosong. Ketika menulis sebuah buku, gunakanlah pengalaman Anda.
Ke empat, Kritik. Beberapa penulis ingin menyenangkan rekan-rekan mereka sesama penulis, mereka ingin “diakui”. Ini menunjukkan rasa tidak aman dan tidak ada lagi. Lupakan hal ini. Anda harus peduli untuk berbagi jiwa dan bukan untuk menyenangkan penulis lain. Anda diperkenankan mengkritik ataupun dikritik.
Ke lima, Membuat Catatan. Jika sibuk menangkap ide-ide yang ada, Anda sendiri akan lenyap. Anda akan kehilangan emosi dan lupa bagaimana menjalani hidup Anda sendiri. Lupakan mencatat! Karena hal yang penting adalah hal yang tidak penting itu sendiri.
Ke enam, Penelitian. Jika Anda membuat buku dengan banyak catatan penelitian, buku Anda akan membosankan untuk Anda sendiri dan para pembaca. Novel yang Anda buat bukan untuk menunjukkan betapa cerdas Anda. Ia menunjukkan bagaimana jiwa Anda.
Ke tujuh, Penulisan. Saya menulis buku yang ingin saya tulis. Pada kalimat pertama terdapat benang yang akan membawa Anda hingga akhir cerita.
Ke delapan, Gaya. Jangan sekali-kali mencoba untuk berinovasi bercerita, menceritakan sebuah cerita yang bagus dan itu ajaib. Saya melihat orang-orang mencoba untuk bekerja begitu banyak dalam gaya, mencari cara yang berbeda untuk mengatakan hal yang sama. Ini seperti fashion. Gaya pakaian, tetapi pakaian yang dikenakan tidak mendikte apa yang ada di dalamnya.
.............................................................................................................................................................
Copas di situs ini

Lirik lagu Crayon punya G Dragon

Nih, aku mau ngasih lirik lagunya G Dragon yang Crayon. Aku suka banget ama ini lagu. Ngerep-ngerep gimana gitu. Bagus. Lain kali, aku juga mau ngasih lirik lagunya GD yang Crooked. Nikmati aja dulu lirik yang ini. Hehe..
……………………………………………………………………………..

Crayon lyrics

Get your crayon Get your crayon
Mori okke mureup bal
Swag check swag check
Mori okke mureup bal
Swag check swag check

Ajikdo kkulliji ana yes I'm a pretty boy
Nan naradanyo so fly nallari boy
Wol hwasumokgeumtoil nan bappa oppa nappa Baaad boy
I'm a G to the D Gold N Diamonds boy

Nuga anire U know I beez that
Oneure DJ naneun chori noneun mi e
Agassi agassi nan sun-gyor-han jiyongssi
Iri wabwayo gwiyomi ne namja chingguneun jimotmi
Non machi dalmatji ne isanghyong so give me some
Kim Tae Hee-wa Kim Hee Sun oh my god Jun Jihyun

Why so serious?
Get your crayon Get your crayon Get your cray Get your crayon
Get your crayon Get your crayon Get your cray Get your
Why so serious?
Come on girls Come on boys Come on come on Get your crayon crayon Come on
Girls Come on
Boys Come on come on Get your crayon crayon
Mori okke mureup bal swag

Ne kadeuneun BLACK muhandero ssak geulgoboryo (braaah)
I noren CRACK muhan-gwedo hwak dollyoboryo (braaah)
Gam ttorojin bundeulkke nan han geuru gamnamu
Kotde nopeun bundeulkke gijukji anneun kkangdagu

Ojungigon ttojungigon pyongyon obsi CRAY-ON
Jal nagadon mangnanigon chabyol obsi CRAY-ON
Hana dul three four watda gatda dolligo
Chabunhage slow it down simsimhamyon jom do ppareuge dallyora
Soul dejon degu busan sonppyogeul chimyonso
Norereul bureumyo jeulgopge gachi chumeul chwo
Ling galing galing pateuno bakkwo mori okke mureup bal mureup bal momeul
Heundeuro ROCK

Why so serious?
Get your crayon Get your crayon Get your cray Get your crayon
Get your crayon Get your crayon Get your cray Get your
Why so serious?
Come on girls Come on boys Come on come on Get your crayon crayon Come on
Girls Come on
Boys Come on come on Get your crayon crayon Get your crayon crayon
Come on girls Come on boys Come on Come on Come on Come on
Come on girls Come on boys Come on Come on Come on Come on
8¬ ´h 4Ž swag
Mori okke mureup bal swag

I Don’t Know About Love : Chapter 3

Chapter 3
Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aaaaaa…. Marioo.. Berilah aku sedikit waktu saja. Kenapa kau membuatku dilemma?
Entah mengapa aku jadi teringat Rian. Aaaa… Mengapa dia muncul lagi dalam ingatanku??
Jaika kau tahu, aku sedang gila di dalam kamarku. Untung Kakakku sedang menginap dirumah Teresa. Hanya ada Mama dan Papa yang mungkin sudah tidur. Siapa sih yang tahan melek sampai jam satu seperti ini? Jam satu malam. Bahkan sebentar lagi akan subuh. Dan aku masih belum bisa tertidur.
Dan entah mengapa, aku sekarang memikirkan Rian, bukannya Mario. Aku masih memikirkan tentang dia yang sedang dekat dengan Dian. Jika aku melihat mereka, ada rasa aneh. Padahal kan aku sudah tidak berhubungan lagi dengan Rian. Apa karena aku masih sayang sama dia?
Aku menggeleng-gelengkan kepala mengibaskan semua pikirkan aneh yang melintas dalam pikiranku. Dan aku masih bingung, kata-kata apa yang akan aku sampaikan padanya besok pagi?
***
Hebat. Ada lingkaran hitam dibawah mataku. Aku kurang tidur. Tadi malam aku berhasil tidur sekitar pukul setengah tiga. Dan jam setengah enam aku sudah bangun. Aku mengantuk sekali.
Untung Papa bersedia mengantarku ke sekolah. Aku tidak terlambat, hanya kakiku sedikit sempoyongan. Jalanku tak tentu arah. Mataku merah dan rasanya ingin sekali tertutup untuk tidur. Aku mengantuk dan lelah.
“Natalia,” sapa riang dari Anggi menyambut pagiku yang agak sedikit suram.
“Kenapa?” tanyaku sambil masih sempoyongan jalan dengan mata yang agak tertutup.
“Gimana? Apa jawaban lo?” tanyanya.
Matku mengerling menatapnya, “Apa maksud lo?”
“Bukannya kemarin lo ditembak Mario? O_O”
Mataku yang tadinya tertutup langsung melotot mendengar ucapan Anggi, “Kok lo bisa tahu?”
“Iya, kemarin kan gue belum pulang, ada urusan di ruang OSIS. Tiba-tiba gue denger teriakan Mario gitu. Terus gue nguping sambil sembunyi-sembunyi.”
“-.,- Lo emang kurang ajar,” ucapku lalu meninggalkannya dengan jalan yang sempoyongan.
“Tapi gimana jawaban lo?” tanyanya sambil menghampiriku dan menyeimbangi langkahku yang lelet bab putri solo.
Aku menatap wajah Anggi dengan datar, “Lihat aja nanti.”
“Tapi, kalau seumpama lo jadian sama Mario gak papa kok. Gue ngedukung banget,” ucapnya dengan ekspresi yang membuatku merinding ngeri.
“Apaan sih lo?”
“Lihat deh!” katanya sambil menggaet tanganku dan menarikku menuju dinding balkon.
“Ada apa?” tanyaku bingung.
Matanya terlihat mencari sesuatu.
“Ada apaan sih?”
Setelah matanya melihat apa yang ia cari, “Nah, tu liat!” suruhnya sambil menunjuk ke lapangan.
Mataku mengikuti telunjuknya, “Apa?”
“Lihat deh, Rian sama Dian!”
Mataku langsung menemukan sosok Rian. Dia tak sendiri. Dari parkiran, ia bergandnegan tangan denngan Dian dengan mesranya.
“Mereka pacaran tadi malem. Gue tahu dari tweet-nya Dian malam tadi.”
Aku mendesah dan menghela napas. Aku tidak salah liat kan? Entah mengapa, hatiku jadi tertusuk-tusuk. Apa ini?
“Lo kenapa, Na?” tanya Anggi sambil menyentuh bahuku.
Aku terkejut dengan pertanyaan Anggi, “Enggak-enggak. Syukur kalau Riannya udah punya pacar,” ucapku sambil sebisa mungkin tersenyum. “Kalau gitu gue ke kelas dulu,” kataku lalu berlalu dari hadapan Anggi.
***
Rian udah pacarn sama Dian. Rian udah pacaran sama Dian. Dan Rian sudah pacaran sama Dian. Aaaaaa…. Kenapa rasanya gue kaya cemburu gini sih? Aih.. Kenapa dia selalu di kepalaku. Apalagi, pedih mataku jika berpapasan dengan Dian. Aaaaaa… aku berteriak sekeras mungkin dalam hatiku.
Sadarlah Natalia. Sadar. Ucapku dalam hati sambil menepuk-nepuk pipiku, agar kepalaku jernih. Terhindar dari pikiran tentang Rian dan si Dian yang seharusnya tak usah kupikirkan. Untuk apa memikirkan hal yang sudah tidak milikku.
Sadar Natalia, Rian sudah melukai dirimu. Hingga kamu sendiri yang meminta putus darinya, hatiku mencoba menenangkan diriku yang gila.
Akhirnya, bel istirahat terdengar. Aku sudah tidak betah untuk bertahan dalam keadaan seperti ini. Aku ingin ke toilet dan mencuci mukaku. Agar pikiran tentang Rian juga hilang.
Aku berdiri dari bangkuku dan lekas bergegas menuju toilet. Toilet tidak terlalu ramai. Aku langsung membash mukaku. Lalu menatap cermin di hadapanku. Aaaaa… Kenapa aku jadi segila ini? Kenapa?
Huh. aku mendesah. Menghela napas panjang. Dan keluar drai toilet. Aku sempat melihat beberapa anak mengamatiku bingung. Aku tak peduli dengan tatapan mereka yang risih dan langsung meninggalkan toilet dengan cuek.
Mau kemana lagi aku? Kantin? Oke.
Semoga lingkaran di bawah mataku sudah hilang. Aku tak ingin terlihat seperti orang lusuh. Aaaaa… Entah kenapa rasanya aku ingin berteriak selalu. Kalau bisa, aku ingin berteriak sekeras-kerasnya. Kalau bisa, dengan bantuan TOA dan Bazooka dengan ukuran yang super besar.
Sampailah di kantin. Aku hanya membeli roti ukuran besar dan susu kotak ukuran sedang. Lalau aku memilih tempat duduk paling pojok.
Aku langsung memakan rotiku dengan agak sedikit berantakan. Gak peduli. Rasanya pengin marah terus.
“Na!” seru seseorang yang tiba-tiba duduk di kursi hadapanku.
Aku mendongak. Mario. Aku sampai melupakannya. Bagaimana ini? Bagaimana bisa aku emlupakannya. Pikiranku penuh dengan Rian sih. Aku jadi tidak sempat memikirkan apa yang akan aku ucapkan padanya. Aih.
“Ya?” tanyaku setenang mungkin meneymbunyikan kegelisahanku yang membuncah.
Dia tersenyum memandangku. Astaga. Lagi-lagi senyuman maut itu. Aku tak bisa bertahan jika seperti ini adanya. “Tidak apa-apa. Kau sudah tau apa yang harus kamu katakan?”
Dahiku berkerut bingung. ‘Kamu’? apa?
“Jawaban untukku?” tanyanya lagi. What? ‘ku’?
Dahiku berkerut lagi. Apa dia tidak salah ngomong? Atau aku yang salah dengar?
“Mario, lo gak salah ngomong?” tanyaku dengan dahi yang masih berkerut.
“Maksudmu?”
“’kamu’ ‘aku’? lo gak pake ‘lo’ ‘gue’?”
Mario terkikik. “Tidak apa-apa bukan?”
“Rasanya aneh,” ucapku lalu kembali memakan rotiku dengan tenang. Sebenarnya, pura-pura tenang.
Mario tersenyum menatapku. Huh, sebisa mungkin aku tidak melihat senyuman itu.
“Gimana?” tanyanya lagi.
“Apaan?” tanyaku dengan polos. Huh, sebisa mungkin aku menghindari pertanyaan itu lagi.
“Jawaban kamu?”
Aku terus melahap rotiku. Berpura-pura untuk tidak mendengarkan ucapannya yang membuatku salah tingkah. Aku belum tahu harus menjawab apa untuknya.
“Na?” tanya Mario lagi. Kini ia memegang tangan kananku.
Jantungku meledak-ledak. Aku berdebar-debar. Apa aku suka pada Mario? Mataku melebar menatapnya. Aku salting luar biasa. Tangan Mario hangat saat menyentuh kulitku. Lembut.
“Apa jawabanmu?”
Aku menelan rotiku yang masih tertinggal di kerongkongan untuk kumasukkan ke lambung. Aku salah tingkah. Oh, Mario membuatku sangat dan begitu gila. Aku kehilangan seluruh kata-kata.
Mulutku terbuka hendak mengucapkan sesuatu. Tapi tidak ada yang kelaura sama sekali. aku gugup. Begitu gugup untuk melihat manik mata Mario yang sednag memandangku lembut.
“Ma.. Mar..Mario.. Ehmm—“ ucapanku emnggantung untuk berpikir lebih jernih. Apa yang akan keluar dari mulutku? Aku bodoh.
Mario menungguku dengan tersenyum dihadapanku sambil tetap menggenggam erat tanganku.
Aku berusaha mencari tatapan lain untuk menghindari tatapan itu. Lalu, aku pun melihat sesuatu yang begitu mengusik hatiku sendiri. Aku melihat Rian sedang menggandeng mesra Dian. Mereka sedang membeli sesuatu kepada Mang Jo, penjaga kantin.
Tatapanku kembali melihat Mario. Aku sudah tahu jawabannya. Aku sudah tahu jawaban apa untuk Mario. Semoga aku tidak salah memilih ini.
“Mario, aku sudah punya jawaban untukmu.”
Mario tersenyum sambil mempererat genggamannya.
“Aku mau,” ucapku sambil tersenyum.
***
Aku pulang bersama Mario. Tangan kami selalu bertautan. Mario tak melepaskannya sama sekali. Ia menggenggam tanganku erat dan hangat.
Kami sedang berada di koridor kelas dua sekarang. Aku sedang menunggunya mengurusi pekerjannya bersama teman sekelompoknya. Ia ingin mengantarku dan aku sedang ingin pulang bersama dengannya. Ya, karena status kami sudah berupa sepasang kekasih.
Aku tersenyum saat melihat Mario sudah selesai dengan pekerjaannya. Ini sudah sekitar setengah lima. Sekolah sudah sepi. Di koridor ini saja hanya ada aku dan Mario.
“Kau pasti lama menungguku,” ucapnya sambil memasukkan berberapa kertas ke dalam filenya dan memasukkannya ke dalam tas.
Aku tersenyum, “Tidak.”
“Ayo!” ajaknya sambil mengulurkan tangannya.
Aku terkikik dan menerima uluran tangan Mario. Mario lalu menggenggam erat tanganku. Di jalan, kami terus bercanda dan tertawa cekikikan. Membahas hal yang sangat-sangat tabu. Tapi bisa saja membuat kami sakit perut karena kebanyakan tertawa.
Senyumku langsung sirna ketika melewati lapangan. Anak-anak cheers masih latihan di lapangan. Dan mataku sempat melebar ketika melihat sosok Rian yang sedang tertawa melihat Dian yang terus melakukan kesalahan dalam gerakan yang harus ia lakukan.
***
“Kenapa mukanya lemes gitu?” tanya Mario sambil memegang daguku.
Kami sudah sampai di depan gerbang rumahku. Aku sudah turun dari motor Mario dan beridiri di sampingnya dan motornya. “Tidak apa-apa,” jawabku dengan senyum yang kaku.
“Bohong!”
“Bener, aku mungkin cuma kecapekan aja. Istirahat juga besok pasti sembuh.”
Mario tertawa lalu menatapku yang bingung, “Besok libur-kan?”
“Iyalah,” jawabku.
“Jalan-jalan mau?” tanya Mario sambil tersenyum. Ia lalu melepaskan helmnya.
Aku tersenyum lalu mengangguk, “Bagaimana kalau kau masuk ke rumahku?” tanyaku sambil menghampiri gerbang dan akan membukanya.
Tangan Mario menangkap tanganku, “Ayo!” ajakku lagi.
Dia tersenyum, “Tidak usah. Aku mau pulang aja. Udah sore.”
Aku mendekatinya lagi, “Terimakasih ya!” kataku.
Sedetik kemudian aku mendapatkan sebuah kecupan di pipiku. Aku ternganga. Mario baru saja mencium pipiku. Aku menggigit bibirku untuk berpikir.
“Aku sayang kamu,” ucap Mario lalu mengenakkan helmnya dan menghidupkan motornya dan berlalu meninggalkanku yang masih shock. Aku mendapat kecupan dari Mario.

***
Bersambung ke chapter 4. Maaf ya, judul di chapter pertama adalah "Cinta ini Dusta" karena ada kesalahan, judul aku ganti.Maaf.

I Don’t Know About Love : Chapter 2

Chapter 2
Hari ini aku agak sedikit flu. Semalaman aku hujan-hujanan bersama Rian menyebalkan. Tapi, ya mau gimana lagi. Ke sekolah, bawanya tisu sekotak full untuk menghapus ingusku.
Untung badanku tidak panas. Jika iya, aku tidak bisa berangkat sekolah hari ini. Apalagi, hari ini harinya ulangan kimia. Kalau aku tidak ulangan sekarang, tak aka nada kesempatan untuk menyontek.
Dan semua berlalu. Hari ini, hari dimana aku dan Rian tidak lagi bersama-sama seperti dulu. Rasanya ada yang kurang. Setiap istirahat, dia akan ke kelasku untuk menawariku ke kantin atau tidak. Atau hanya sekadar mengetahui kabarku. Dan hari ini, hal itu tidak ada.
Hari ini pun aku tidak melihat sosok Rian di sekolah. Apakah dia sakit? Ah.. tdak-tidak. Kenapa aku jadi memikirkan dia?
Tapi memang benar. Aku sedang ada di depan kelasnya sekarang. MEnatap ambang pintu kosong yang terbuka lebar. Menatap hampa ruangan kosong itu dengan perasaan buncah dan berkali-kali mendesah.
“Natalia,” panggil seseorang.
Aku membalikkan badan untuk mengetahui siapa yang telah memanggilku. Aku tersenyum. “Ya?”
“Lo cari.. Rian?” dari ucapannya ia sedikit ragu untuk mengatakan itu. “Hari ini dia tidak masuk. Katanya dia sakit.”
Aku tersenyum sambil menunduk. “Nggak, gue hanya kebetulan lewat,” jawabku.
“Oh,” serunya. “Lo lagi sendiri?”
“Ya.”
“Ini sudah waktunya pulang bukan, kenapa lo masih berada di sekolah?”
“Oh, itu. Tidak apa-apa. Gue juga mau pulang kok,” kataku seraya melangkah akan meninggalkannya.
“Tunggu!” serunya.
Aku menengok untuk melihatnya, “Kenapa?”
“Mau sama-sama?”
Aku mengerutkan kening.
“Pulang bersama?”
Aku tersenyum, “Baiklah,” ucapku. “Memangnya, lo nggak pulang dengan Vita?” tanyaku.
Dia meringis, “Gue udah putus dengannya.”
Mataku membulat kaget, “Apa?” seruku. “Itu tidak benar-kan, Mario?”
“Benar,” jawabnya. “Itu udah lama.”
Aku memandang Mario lama. Ia tidak bercanda.
“Kenapa? Elo enggak percaya? Tanya ke Vitanya sendiri.”
Aku berjalan menyusuri koridor bersama Mario. Mario adalah teman sekelasnya Rian. Dia tak terlalu akrab dengan Rian. Namun, dia lumayan akrab dneganku. Karena dia adalah pacar temanku, Vita. Namun, setelah mendengar ucapannya tadi, bahwa dia putus dengan Vita, membuatku agak gimana gitu. Aneh.
“Bagaimana kalian bisa putus?” tanyaku heran. Jujur, aku sangat ingin mengoreki hal-hal yang membuatku menarik untuk diperbincangkan. Ya walaupun bukan setajam golok atau apa.
“Ya..” dia agak berpikir. “Mungkin kami sudah tidak cocok. Itu saja.” Ia mengedikkan bahu dan melihatku.
Aku melihatnya dengan alis terangkat sebelah. Aku heran. Bagaimana pasangan yang serasi itu bisa putus. Sayang.
“Gue juga ingin cerita.” Ucapku.
“Apa?”
Aku menundukkan kepala bersiap untuk menceritakan semuanya pada Mario. Entah kenapa, aku jadi ingin bercerita pada seseorang. “Mh.. gue udah putus sama Rian.”
Langkah Mario terhenti. Aku yakin, dia terkejut karena ceritaku.
Aku lalu melihat Mario yang berhenti di belakangku. Matanya seperti bertanya.
“Apa maksud ucapan lo tadi? Elo putus sama Rian? Kapan?”
Aku terkikik lalu menarik tangan Mario untuk cepat berjalan di sampingku. “Dengan berjalan, oke?” tanyaku dan Mario mengangguk dengan wajah seperti orang tolol. “tadi malam.” Ucapku pendek.
“Tunggu-tunggu,” serunya. “tadi malam? Bagaimana ceritanya?”
Aku tersenyum lalu menceritakan semua kejadian antara aku dengan Rian tadi malam. Bagaimana kami hujan-hujanan, berpelukan, kami yang akhirnya berpisah dan di mana hari ini aku flu berat dan Rian tidak masuk sekolah hari ini.
Mario hanya bengong mendengar ceritaku. Dan aku juga mendengarkan ceritanya tentang dia dan Vita.
***
Kehadiran seseorang itu berharga ya. Perhatian seseorang juga sangat istimewa rasanya. Sampai kita tak menyadari apa yang sebenarnya terjadi ketika ada pelamiasan untuk tidak merasakan semua beban.
Ah, kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya apa sih beban yang menghambatku. Tidak ada kan? Maksudku, ya.. Tapi, rasanya sesak ketika memikirkan.. entah apa itu. Rasanya aneh dan membuatku menggelng-gelengkan kepala saat memikirkan hal yang aneh-aneh. Menyangkut hal-hal tentang ya.. tentang Rian yang masih membekas di kepalaku. Ah, rasanya aku ingin teriak di saat baying-bayang orang itu muncul tiba-tiba di kepalaku. Apakah ini tandanya aku masih sayang sama dia?
Sudah sebulan aku putus dari Rian. Setiap bertemu, tak ada sapaan atau sekadar senyuman. Dia acuh dengan mata tak menatap dan langsung menghindar dariku. Kamis eperti dua orang yang tak pernah kenal. Tapi, entah mengapa, setiap Rian berlalu dari hadapanku, dadaku menjadi sesak.
Dan kini, aku selalu dekat dengan Mario. Entah mengapa, dia peduli denganku. Dia baik. Dialah orang yang mau mengulurkan tangan untukku dan mau menampung semua cerita dan keluhanku. Status kami yang sama –sama sedang menjomblo, membuat kami semakin dekat. Dia habis putus dengan Vita dan aku habis putus dengan Rian. Impas. Kami seperti punya nasib yang sama. Tapi, tak terlalu persis untuk seluk-beluknya. Hehe J
“Heh! Ngelamun aja?” sentak Mario hingga mengagetkanku.
“Apaan sih?” hirauku.
“Gak mau makan?” tanyanya.
“Enggak ah. Males!”
“Ya udah, gue mau ke kantin dulu. Mau nitip?”
“Enggak usah,” jawabku pendek sambil tersenyum.
“Oke,” ucapnya lalu berlalu dari hadapanku yang sedang asyik memikirkan sesuatu di bangku depan kelasku. Ah, apa-apaan sih.
Aku kok jadi gila sendiri kaya gini? Tapi, Mario baik-kan? Ah, dia memang benar-benar baik kok. Baik banget malah. Sayang ya kalau Vita ninggalin cowok secakep dan sebaik Mario. Nyesel gak tuh dia.
“Heh!” teriak perempuan mengagetkanku lagi.
“Anggi!” teriakku setelah tahu siapa yang mengejutkanku. “Mau apa kau?” aku cemberut sampai lima senti.
“Hehe..” dia nyengir lebar sampai menampakkan deretan giginya yang ampuh.. putih banget sampai akunya silau. “Enggak. Gue cuma mau nyamperin elo aja,” dia lalu menyodorkan sebungkus besar makanan yang sudah dibuka, “Mau?”
“Enggak,” jawab ku sambil menggeleng. “Makasih.”
“Eh, ngomong-ngomong, elo jadian ama Mario?”
Omongan Anggi membuatku keselek air ludahku sendiri. “Apa? Enggaklah!” sergahku.
Anggi terus saja melahap makanan ringannya, “Kok gosipnya gitu?”
“Apa? Gosip?” tanyaku bingung banget.
“Iya, gossip. Elo gak tahu, elo digossipin mecem-macem sama. Elo pacaranlah sama Mario.”
“Enggak! Gue enggak pacaran sama Mario. Kami cuma temenan biasa.”
“Tapi, kalau gue lihat tadi, kalian emang kaya orang pacaran tau enggak. Lebih dari sikap ketika lo pacaran sama Rian.”
Aku melototi Anggi. Tapi, ia tak mempedulikanku. Ia terus melahap makanan ringannya yang masih banyak di bungkusnya. Apa dia enggak takut gendut?
“Udahlah, Nggi! Yang penting, gue enggak pacaran sama Mario,” ucapku selanjutnya sambil menopang wajah dengan tangan.
“Pacaran juga enggak apa-apa kok,” kata Anggi. Aku lalu menengok untuk melihat wajahnya. “Lagian, Rian juga udah dapet pengganti lo tu kayaknya.”
Mataku membulat terkejut. “Apa? Siapa ceweknya yang baru?”
“Belum pacaran sih, tapi dari gelagatnya, kayaknya mereka mau pacaran deh.”
“Iya. Tapi siapa ceweknya itu?”
Anggi menghela napas, “Dia sekarang sama Dian.”
Aku membelalakkan mata, “Dian? Dian anak Cheers itu?” tanyaku histeris.
Anggi mengangguk. “Yang cantik banget itu loh!” Anggi menunjuk salah satu perempuan yang sednag latian cheers di lapangan.
Mataku mengikuti tangan Anggi yang menunjuk salah satu perempuan. Dian. Astaga. Cewek yang lagi deket sama Rian itu Dian. Dian.. Astaga.. jika kau mau lihat, dia itu cantik banget. Banget cantik. Semua perempuan di sekolahan ini iri sama kecantikannya dia. Dia cantik banget.
“Beneran sama Dian, Nggi?” tanyaku lagi. Aku seakan tak percaya dengan omongan Anggi.
“Iya, Na!” Anggi mempertegas ucapannya. Meyakinkanku untuk mempercayainya.
Aku lalu mengangguk-angguk dengan tampang tolol sekali. Astaga. Aku menepuk-nepuk pipiku berulangkali. Kok Rian bisa dapet yang cantik kaya gitu?
***
“Eh! Elo kenapa sih?” tanya Mario di sampingku.
Aku dan Mario sedang berjalan menuju parkiran untuk mengambil motornya dan pulang bersama.
“Enggak apa-apa.” Jawabku.
“Apa lo lagi sakit?” tanyanya.
“Enggak.”
“Terus?”
“Enggak apa-apa kok.”
Aku menatap lurus kedepan.
“Apa lo kepikiran dengan Rian yang lagi deket sama Dian?” tanyanya.
Aku menatap Mario dengan kening berkerut, “Ha?” aku lalu tertawa sumbang, “Enggak kok.”
“Enggak usah bo’ong. Gue tahu kok,” katanya dnegan sedikit tertawa.
Aku lalu menundukkan kepalaku, “Enggak kok.”
Huh menyebalkan. Kenapa sedari tadi aku memikirkan orang itu terus. Kenapa? Dia itu kunyuk yang udah bikin aku sakit. Ah. Aduh, Tuhan, tolong hilangkan baying-bayang Rian dari kepalaku, Amin.
Tanpa kusadari, Mario sudah tak ada di sampingku. Aku lalu menengok ke belakang. Mario berada satu meter di belakangku. Dia berdiri mematung di sana dan menatapku dengan dahi kerkerut dan terlihat marah?
“Lo ngapain di situ? Ayo, Mario!” ucapku.
Perlahan dia berjalan menghampiriku. Ia menatapku lekat. Lalu dia duduk di salah satu bangku koridor. Sekolah sudah lumayan sepi. Hanya ada aku dan Mario di koridor ini. Sepi.
“Na, apa lo itu gak tahu sih?” katanya. Ia tak menatapku. Ia menatap kea rah lain. Entah apa yang ia amati.
“Apa?” tanyaku lalu duduk di samping Mario.
“Lo itu gak peka ya?” ia meringis. “Apa lo pura-pura gak tahu?” tanyanya lagi.
Aku mengerutkan dahi bingung, “Apa maksud lo? Gue nggak mengerti!”
Mario lalu melihatku tajam. Matanya seperti menusuk mataku. Mengartikan sesuatu yang tak kupahami. “Lo tahu gossip tentang kita?”
Aku sedikit berpikir, lalu mengangguk.
“Lalu?”
“Ya, hiaraukan aja kali. Lagipula, kita enggak pacaran kan,” jawabku.
Mario mendengus lalu membuang muka.
“Kenapa?”
“Apakah kau tak tahu jika aku ini menyukaimu?” teriaknya.
Aku terpaku ditempatku. Apa? Mario menyukaiku? Aku mengerjap-ngerjap tak percaya. Ini bukan mimpikan?
“Mario?” panggilku pelan.
“Hm,” sahutnya.
Mulutku terbuka, akan mengatakan sesuatu. Tapi kuurungkan setelah berpikir. Tidak. Aku tidak berpikir. Aku sama sekali tidak bisa berpikir. Untuk bernapas saja, aku belum bisa.
Aku lalu melihat Mario yang sama sekali tidak menatapku. “Sebaiknya kita pulang!” kataku lalu berdiri.
Mrio tetap diam.
“Ayo, Mario!” ajakku setenang mungkin. Aku belum bisa menenangkan emosiku sendiri.
“Aku perlu jawaban darimu, Na!” teriaknya sambil menatapku.
O_O. Aku baru sadar, Mario tidak lagi menggunakan ‘Lo’ ‘Gue’. Dan kali ini, aku benar-benar bingung harus berbuat apa. Aku celingukan menatap sekitar. Untung sepi.
Aku menunduk ketika mata Mario terus menatapku tajam menanti kata-kata yang keluar dari mulutku. Aku terus berpikir, kata-kata apa yang akan aku ucapkan padanya. “Gu…gue bingung, Mario.”
“Kenapa lo harus bingung sih? Tinggal berkata ‘iya’ atau ‘enggak’. Itu aja kan?”
Aku menatap wajah Mario nanar. “Gue pikir dulu. Sekarang.. gue mau pulang dulu.” Kataku sambil berbalik dan mulai berjalan meninggalkan Mario.
“Biar gue anter,” katanya lalu menyusulku.
Aku menghembuskan napas lalu kembali melangkah.
***
“Pikir dulu, Na. Jangan terlalu lama buat gue nunggu,” ucap Mario setelah aku turun dari motornya.
Aku hanya menatap wajah Mario lalu menunduk, “Akan gue usahain.”
Mario tersenyum. Oh sungguh, senyumannya bisa membuatku meleleh. Keliatannya, aku gak bisa berdiri terlalu lama. Dan entah kenapa, jantungku berdebar kencang sekali.
“Thank’s ya, udah nganter,” kataku. Aku lalu berbalik dan meninggalkan Mario menuju gerbang rumahku. Lalu membukanya. Aku menatap Mario yang sudah menyalakan motornya. “Hati-hati,” ucapku yang dibalas senyuman oleh Mario.
Mario pun pergi dan masih meninggalkan senyuman yang membuatku melelh. Aaaaaa… MARIOOOO…. Kau membuatku gila….

***
Bersambung di chapter 3

Wednesday, 18 December 2013

I See the Light—Tangled OST


Perempuan :
All those days watching from the windows
Dahulu melihat dijendela

All those years outside looking in
Apa yang ada diluaran

All that time never even knowing, Just how blind I’ve been
Tak tahu, seperti apa itu...oh, sungguh ku tak...

Now I’m here, blinking in the starlight
Ku disini melihat cahaya bintang

Now I’m here, suddenly I see
Tiba - tiba aku melihat

Standing here, it’s all so clear
Semuanya oh sungguh jelas

I’m where I’m meant to be
Ini takdirku...

And at last I see the light
Ku lihat cahaya itu

And it’s like the fog has lifted
Kabut pun telah pergi

And at last I see the light
Setidaknya ku lihat

And it’s like the sky is new
Langit pun terasa baru

And it’s warm and real and bright
Hangatnya kadang cerah

And the world has somehow shifted
Dunia bagai bergerak...

All at once everything looks different
Sekarang semuanya berbeda 

Now that I see you
Ku melihatmu...

Laki2 :
All those days chasing down a daydream
Setiap waktu mengjar impian

All those years living in a blur
T'lah lama, tak tentu arah

All that time never truly seeing, Things the way they were
Tak pernah benar - benar melihat kenyataannya...

Now she’s here shining in the starlight
Sekarang dia ada disini

Now she’s here, suddenly I know
Dan kini aku pun tahu

If she’s here, it’s crystal clear
Karena dia semua jelas 

I’m where I’m meant to go
Inilah takdir ku...

And at last I see the light
Ku lihat cahaya itu

And it’s like the fog has lifted
Dan kabut pun telah pergi

And at last I see the light
Setidaknya ku lihat

And it’s like the sky is new
Langit pun terasa baru

And it’s warm and real and bright
Hangatnya kadang cerah

And the world has somehow shifted
Dan dunia seperti bergerak…

All at once everything looks different
Semuanya terasa berbeda 

Now that I see you...Now that I see you
Ku melihatmu...