Chapter 2
Hari
ini aku agak sedikit flu. Semalaman aku hujan-hujanan bersama Rian menyebalkan.
Tapi, ya mau gimana lagi. Ke sekolah, bawanya tisu sekotak full untuk menghapus
ingusku.
Untung
badanku tidak panas. Jika iya, aku tidak bisa berangkat sekolah hari ini.
Apalagi, hari ini harinya ulangan kimia. Kalau aku tidak ulangan sekarang, tak
aka nada kesempatan untuk menyontek.
Dan
semua berlalu. Hari ini, hari dimana aku dan Rian tidak lagi bersama-sama
seperti dulu. Rasanya ada yang kurang. Setiap istirahat, dia akan ke kelasku
untuk menawariku ke kantin atau tidak. Atau hanya sekadar mengetahui kabarku.
Dan hari ini, hal itu tidak ada.
Hari
ini pun aku tidak melihat sosok Rian di sekolah. Apakah dia sakit? Ah..
tdak-tidak. Kenapa aku jadi memikirkan dia?
Tapi
memang benar. Aku sedang ada di depan kelasnya sekarang. MEnatap ambang pintu
kosong yang terbuka lebar. Menatap hampa ruangan kosong itu dengan perasaan
buncah dan berkali-kali mendesah.
“Natalia,”
panggil seseorang.
Aku
membalikkan badan untuk mengetahui siapa yang telah memanggilku. Aku tersenyum.
“Ya?”
“Lo
cari.. Rian?” dari ucapannya ia sedikit ragu untuk mengatakan itu. “Hari ini
dia tidak masuk. Katanya dia sakit.”
Aku
tersenyum sambil menunduk. “Nggak, gue hanya kebetulan lewat,” jawabku.
“Oh,”
serunya. “Lo lagi sendiri?”
“Ya.”
“Ini
sudah waktunya pulang bukan, kenapa lo masih berada di sekolah?”
“Oh,
itu. Tidak apa-apa. Gue juga mau pulang kok,” kataku seraya melangkah akan
meninggalkannya.
“Tunggu!”
serunya.
Aku
menengok untuk melihatnya, “Kenapa?”
“Mau
sama-sama?”
Aku
mengerutkan kening.
“Pulang
bersama?”
Aku
tersenyum, “Baiklah,” ucapku. “Memangnya, lo nggak pulang dengan Vita?”
tanyaku.
Dia
meringis, “Gue udah putus dengannya.”
Mataku
membulat kaget, “Apa?” seruku. “Itu tidak benar-kan, Mario?”
“Benar,”
jawabnya. “Itu udah lama.”
Aku
memandang Mario lama. Ia tidak bercanda.
“Kenapa?
Elo enggak percaya? Tanya ke Vitanya sendiri.”
Aku
berjalan menyusuri koridor bersama Mario. Mario adalah teman sekelasnya Rian. Dia
tak terlalu akrab dengan Rian. Namun, dia lumayan akrab dneganku. Karena dia
adalah pacar temanku, Vita. Namun, setelah mendengar ucapannya tadi, bahwa dia
putus dengan Vita, membuatku agak gimana gitu. Aneh.
“Bagaimana
kalian bisa putus?” tanyaku heran. Jujur, aku sangat ingin mengoreki hal-hal
yang membuatku menarik untuk diperbincangkan. Ya walaupun bukan setajam golok
atau apa.
“Ya..”
dia agak berpikir. “Mungkin kami sudah tidak cocok. Itu saja.” Ia mengedikkan
bahu dan melihatku.
Aku
melihatnya dengan alis terangkat sebelah. Aku heran. Bagaimana pasangan yang
serasi itu bisa putus. Sayang.
“Gue
juga ingin cerita.” Ucapku.
“Apa?”
Aku
menundukkan kepala bersiap untuk menceritakan semuanya pada Mario. Entah
kenapa, aku jadi ingin bercerita pada seseorang. “Mh.. gue udah putus sama
Rian.”
Langkah
Mario terhenti. Aku yakin, dia terkejut karena ceritaku.
Aku
lalu melihat Mario yang berhenti di belakangku. Matanya seperti bertanya.
“Apa
maksud ucapan lo tadi? Elo putus sama Rian? Kapan?”
Aku
terkikik lalu menarik tangan Mario untuk cepat berjalan di sampingku. “Dengan
berjalan, oke?” tanyaku dan Mario mengangguk dengan wajah seperti orang tolol.
“tadi malam.” Ucapku pendek.
“Tunggu-tunggu,”
serunya. “tadi malam? Bagaimana ceritanya?”
Aku
tersenyum lalu menceritakan semua kejadian antara aku dengan Rian tadi malam.
Bagaimana kami hujan-hujanan, berpelukan, kami yang akhirnya berpisah dan di
mana hari ini aku flu berat dan Rian tidak masuk sekolah hari ini.
Mario
hanya bengong mendengar ceritaku. Dan aku juga mendengarkan ceritanya tentang
dia dan Vita.
***
Kehadiran
seseorang itu berharga ya. Perhatian seseorang juga sangat istimewa rasanya.
Sampai kita tak menyadari apa yang sebenarnya terjadi ketika ada pelamiasan
untuk tidak merasakan semua beban.
Ah,
kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya apa sih beban yang menghambatku. Tidak ada
kan? Maksudku, ya.. Tapi, rasanya sesak ketika memikirkan.. entah apa itu.
Rasanya aneh dan membuatku menggelng-gelengkan kepala saat memikirkan hal yang
aneh-aneh. Menyangkut hal-hal tentang ya.. tentang Rian yang masih membekas di
kepalaku. Ah, rasanya aku ingin teriak di saat baying-bayang orang itu muncul
tiba-tiba di kepalaku. Apakah ini tandanya aku masih sayang sama dia?
Sudah
sebulan aku putus dari Rian. Setiap bertemu, tak ada sapaan atau sekadar
senyuman. Dia acuh dengan mata tak menatap dan langsung menghindar dariku.
Kamis eperti dua orang yang tak pernah kenal. Tapi, entah mengapa, setiap Rian
berlalu dari hadapanku, dadaku menjadi sesak.
Dan
kini, aku selalu dekat dengan Mario. Entah mengapa, dia peduli denganku. Dia
baik. Dialah orang yang mau mengulurkan tangan untukku dan mau menampung semua
cerita dan keluhanku. Status kami yang sama –sama sedang menjomblo, membuat
kami semakin dekat. Dia habis putus dengan Vita dan aku habis putus dengan
Rian. Impas. Kami seperti punya nasib yang sama. Tapi, tak terlalu persis untuk
seluk-beluknya. Hehe J
“Heh!
Ngelamun aja?” sentak Mario hingga mengagetkanku.
“Apaan
sih?” hirauku.
“Gak
mau makan?” tanyanya.
“Enggak
ah. Males!”
“Ya
udah, gue mau ke kantin dulu. Mau nitip?”
“Enggak
usah,” jawabku pendek sambil tersenyum.
“Oke,”
ucapnya lalu berlalu dari hadapanku yang sedang asyik memikirkan sesuatu di
bangku depan kelasku. Ah, apa-apaan sih.
Aku
kok jadi gila sendiri kaya gini? Tapi, Mario baik-kan? Ah, dia memang
benar-benar baik kok. Baik banget malah. Sayang ya kalau Vita ninggalin cowok
secakep dan sebaik Mario. Nyesel gak tuh dia.
“Heh!”
teriak perempuan mengagetkanku lagi.
“Anggi!”
teriakku setelah tahu siapa yang mengejutkanku. “Mau apa kau?” aku cemberut
sampai lima senti.
“Hehe..”
dia nyengir lebar sampai menampakkan deretan giginya yang ampuh.. putih banget
sampai akunya silau. “Enggak. Gue cuma mau nyamperin elo aja,” dia lalu
menyodorkan sebungkus besar makanan yang sudah dibuka, “Mau?”
“Enggak,”
jawab ku sambil menggeleng. “Makasih.”
“Eh,
ngomong-ngomong, elo jadian ama Mario?”
Omongan
Anggi membuatku keselek air ludahku sendiri. “Apa? Enggaklah!” sergahku.
Anggi
terus saja melahap makanan ringannya, “Kok gosipnya gitu?”
“Apa?
Gosip?” tanyaku bingung banget.
“Iya,
gossip. Elo gak tahu, elo digossipin mecem-macem sama. Elo pacaranlah sama
Mario.”
“Enggak!
Gue enggak pacaran sama Mario. Kami cuma temenan biasa.”
“Tapi,
kalau gue lihat tadi, kalian emang kaya orang pacaran tau enggak. Lebih dari
sikap ketika lo pacaran sama Rian.”
Aku
melototi Anggi. Tapi, ia tak mempedulikanku. Ia terus melahap makanan ringannya
yang masih banyak di bungkusnya. Apa dia enggak takut gendut?
“Udahlah,
Nggi! Yang penting, gue enggak pacaran sama Mario,” ucapku selanjutnya sambil
menopang wajah dengan tangan.
“Pacaran
juga enggak apa-apa kok,” kata Anggi. Aku lalu menengok untuk melihat wajahnya.
“Lagian, Rian juga udah dapet pengganti lo tu kayaknya.”
Mataku
membulat terkejut. “Apa? Siapa ceweknya yang baru?”
“Belum
pacaran sih, tapi dari gelagatnya, kayaknya mereka mau pacaran deh.”
“Iya.
Tapi siapa ceweknya itu?”
Anggi
menghela napas, “Dia sekarang sama Dian.”
Aku
membelalakkan mata, “Dian? Dian anak Cheers itu?” tanyaku histeris.
Anggi
mengangguk. “Yang cantik banget itu loh!” Anggi menunjuk salah satu perempuan
yang sednag latian cheers di lapangan.
Mataku
mengikuti tangan Anggi yang menunjuk salah satu perempuan. Dian. Astaga. Cewek
yang lagi deket sama Rian itu Dian. Dian.. Astaga.. jika kau mau lihat, dia itu
cantik banget. Banget cantik. Semua perempuan di sekolahan ini iri sama
kecantikannya dia. Dia cantik banget.
“Beneran
sama Dian, Nggi?” tanyaku lagi. Aku seakan tak percaya dengan omongan Anggi.
“Iya,
Na!” Anggi mempertegas ucapannya. Meyakinkanku untuk mempercayainya.
Aku
lalu mengangguk-angguk dengan tampang tolol sekali. Astaga. Aku menepuk-nepuk
pipiku berulangkali. Kok Rian bisa dapet yang cantik kaya gitu?
***
“Eh!
Elo kenapa sih?” tanya Mario di sampingku.
Aku
dan Mario sedang berjalan menuju parkiran untuk mengambil motornya dan pulang
bersama.
“Enggak
apa-apa.” Jawabku.
“Apa
lo lagi sakit?” tanyanya.
“Enggak.”
“Terus?”
“Enggak
apa-apa kok.”
Aku
menatap lurus kedepan.
“Apa
lo kepikiran dengan Rian yang lagi deket sama Dian?” tanyanya.
Aku
menatap Mario dengan kening berkerut, “Ha?” aku lalu tertawa sumbang, “Enggak
kok.”
“Enggak
usah bo’ong. Gue tahu kok,” katanya dnegan sedikit tertawa.
Aku
lalu menundukkan kepalaku, “Enggak kok.”
Huh
menyebalkan. Kenapa sedari tadi aku memikirkan orang itu terus. Kenapa? Dia itu
kunyuk yang udah bikin aku sakit. Ah. Aduh, Tuhan, tolong hilangkan
baying-bayang Rian dari kepalaku, Amin.
Tanpa
kusadari, Mario sudah tak ada di sampingku. Aku lalu menengok ke belakang.
Mario berada satu meter di belakangku. Dia berdiri mematung di sana dan
menatapku dengan dahi kerkerut dan terlihat marah?
“Lo
ngapain di situ? Ayo, Mario!” ucapku.
Perlahan
dia berjalan menghampiriku. Ia menatapku lekat. Lalu dia duduk di salah satu
bangku koridor. Sekolah sudah lumayan sepi. Hanya ada aku dan Mario di koridor
ini. Sepi.
“Na,
apa lo itu gak tahu sih?” katanya. Ia tak menatapku. Ia menatap kea rah lain.
Entah apa yang ia amati.
“Apa?”
tanyaku lalu duduk di samping Mario.
“Lo
itu gak peka ya?” ia meringis. “Apa lo pura-pura gak tahu?” tanyanya lagi.
Aku
mengerutkan dahi bingung, “Apa maksud lo? Gue nggak mengerti!”
Mario
lalu melihatku tajam. Matanya seperti menusuk mataku. Mengartikan sesuatu yang
tak kupahami. “Lo tahu gossip tentang kita?”
Aku
sedikit berpikir, lalu mengangguk.
“Lalu?”
“Ya,
hiaraukan aja kali. Lagipula, kita enggak pacaran kan,” jawabku.
Mario
mendengus lalu membuang muka.
“Kenapa?”
“Apakah
kau tak tahu jika aku ini menyukaimu?”
teriaknya.
Aku
terpaku ditempatku. Apa? Mario menyukaiku? Aku mengerjap-ngerjap tak percaya.
Ini bukan mimpikan?
“Mario?”
panggilku pelan.
“Hm,”
sahutnya.
Mulutku
terbuka, akan mengatakan sesuatu. Tapi kuurungkan setelah berpikir. Tidak. Aku
tidak berpikir. Aku sama sekali tidak bisa berpikir. Untuk bernapas saja, aku
belum bisa.
Aku
lalu melihat Mario yang sama sekali tidak menatapku. “Sebaiknya kita pulang!”
kataku lalu berdiri.
Mrio
tetap diam.
“Ayo,
Mario!” ajakku setenang mungkin. Aku belum bisa menenangkan emosiku sendiri.
“Aku
perlu jawaban darimu, Na!” teriaknya sambil menatapku.
O_O.
Aku baru sadar, Mario tidak lagi menggunakan ‘Lo’ ‘Gue’. Dan kali ini, aku
benar-benar bingung harus berbuat apa. Aku celingukan menatap sekitar. Untung
sepi.
Aku
menunduk ketika mata Mario terus menatapku tajam menanti kata-kata yang keluar dari
mulutku. Aku terus berpikir, kata-kata apa yang akan aku ucapkan padanya.
“Gu…gue bingung, Mario.”
“Kenapa
lo harus bingung sih? Tinggal berkata ‘iya’ atau ‘enggak’. Itu aja kan?”
Aku
menatap wajah Mario nanar. “Gue pikir dulu. Sekarang.. gue mau pulang dulu.”
Kataku sambil berbalik dan mulai berjalan meninggalkan Mario.
“Biar
gue anter,” katanya lalu menyusulku.
Aku
menghembuskan napas lalu kembali melangkah.
***
“Pikir
dulu, Na. Jangan terlalu lama buat gue nunggu,” ucap Mario setelah aku turun
dari motornya.
Aku
hanya menatap wajah Mario lalu menunduk, “Akan gue usahain.”
Mario
tersenyum. Oh sungguh, senyumannya bisa membuatku meleleh. Keliatannya, aku gak
bisa berdiri terlalu lama. Dan entah kenapa, jantungku berdebar kencang sekali.
“Thank’s
ya, udah nganter,” kataku. Aku lalu berbalik dan meninggalkan Mario menuju
gerbang rumahku. Lalu membukanya. Aku menatap Mario yang sudah menyalakan
motornya. “Hati-hati,” ucapku yang dibalas senyuman oleh Mario.
Mario
pun pergi dan masih meninggalkan senyuman yang membuatku melelh. Aaaaaa…
MARIOOOO…. Kau membuatku gila….
***
Bersambung di chapter 3