Chapter 1
Tiap
hari hanya seperti ini. Apakah hanya ku isi dengan ini? Telepon gak jelas dan
SMS yang sama-sama membuatku pusing setengah mati.
Dia
membuat kepalaku hanya penuh diisi dengan masalah-masalah beruntun darinya.
Membuat semua penuh dengan keinginannya, keegoisannya, keserakahannya, dan
semua rasa tak bersalahnya itu padaku.
Oke,
sekarang aku sedang menatapnya sengit di depan laboratorium fisika. Entah
mengapa, dengusan sebal terus saja aku lakukan dan terus menatapnya seperti
musuhku. Padahal, dia pacarku.
Oke,
dia sedang menatapku memohon dan mengharap maaf dariku. Ia mengucapkan
kata-kata manis yang membuatku muntah. Muntah sekali. Atas apa yang ia perbuat
padaku tempo hari.
Bayangkan,
bagaimana perasaanmu ketika pacarmu sedang memegang lembut tangan perempuan
lain. Dan pacarmu beralasan, itu hanya latihan untuk drama yang akan di
selenggarakan sebulan lagi.
Apakah
aku percaya dengan bualannya itu. Dalam adegan itu, aku seperti orang gila atau
obat nyamuk yang melihat mereka dari pintu rumah pacarku sendiri. Bagaimana aku
tidak marah? Bayangkan, ia memeluk lalu mengelus lembut tangan perempuan di
hadapannya. Aku marah setengah mati.
Apa
ada sih, laki-laki yang seperti itu? Maksudku, ya memang ada. Dia pacarku
sendiri. Tapi, dia itu tak mempunyai perasaan. Dia selalu melukai perasaanku.
Perasaanku yang selalu di buatnya hancur. Tapi, dengan buaian nya, aku balikan
dengan dia lagi. Aaaaa…
“Sayang,
dengarkanlah aku dulu! Maafkan aku!” omong kosongnya masih aku dengar. Apa dia
tidak tahu, banyak murid yang mau melihat tontonan gratis.
Aku
mendengus sengit melihatnya. “Ngaca dulu! Elo pantes gak buat di maafin.”
“Tapi,
perempuan itu bukan siapa-siapa. Hanya kamu yang aku cinta, sayang!”
“Cinta,
cinta.. Selalu kata itu yang lo jadiin alasan. Kali ini gue gak akan kasih lo
kesempatan. Mungkin ini udah berakhir! Sudah sampai di sini. Kalau diterusin,
lo akan lebih tidak menghargai gue lagi!” aku lalu berlalu dari hadapannya. Ia
menatapku kosong dan tak bisa berbuat apa-apa lagi.
***
“Na,
dia terus-terusan nyanyi di depan gerbang rumah lo kaya orang gila,” ucap
Teresa, sepupuku.
“Biarin,
nanti dia pergi kok. Tungguin aja. Nanti dia capek sendiri kok,” ucapku acuh
sambil berdiri dari dudukku dari atas kasurku.
“Natalia,
lo gak boleh gitu! Kasihan dia Na. Panas-panas gini. Mana dia sesekali baca
puisi gak jelas gitu.
“Biarin
Tere!” ucapku dengan suara tinggi. “Biarain dia itu ngaca dulu.”
“Kasih
tu kaca lo,” ucapanya sambil menunjuk kaca besar di atas meja riasku.
“Kasih
aja sendiri! Gue mau ngambil makanan dulu,” aku berlalu dari hadapan Teresa dan
pergi ke dapur untuk mengambil beberapa cemilan untuk ku bawa ke kamarku di
lantai atas.
Di
ruang tengah, aku mendengar suaranya yang menyanyi-nyanyi gak jelas di depan gerbang.
Untung, orangtuaku sedang tak ada di rumah. Hanya Kakakku yang dikit-dikit
ngetuk pintu kamarku dan lekas-lekas ngusir si kunyuk penyanyi gak jelas itu.
Lagunya
gak jelas. Tapi, aku tahu, dalam lagu itu ada permintaan-permintaan maaf.
Astaga. Bukankah dia selalu melakukan hal itu?
Suaranya
semakin ia keraskan dan membuat kupingku serasa ditusuk-tusuk. Mau apa dia?
Dengan
dongkol yang berlebihan. Akhirnya, aku keluar dari rumah dan siap untuk
mengacak-acak rambut dan mukanya itu. Ngeselin banget.
“Oh,
hai sayang. Akhirnya kau keluar juga. Kau mau memaafkanku?”
Apa
dia enggak liat wajahku yang dongkol setengah mati ini? jelas-jelas aku sudah
seperti banteng yang siap mengamuk seperti ini.
“Heh
lo ngapain juga nyanyi-nyanyi gak jelas di depan rumah orang? KAya gak punya
kerjaan aja. Kalau mau cari uang, jangan di sini, sini gak terima yang namanya
pengamen.”
“Bukan
itu niat aku, Sayang. Aku ke sini niatnya mau minta maaf ke kamu.”
“Sudahlah,
Rian. Hal yang lo lakukan itu sudah membuktikan semuanya. Membuktikan bahwa lo
memang gak cocok ama gue.”
“Itu
hanya sandiwara, Na! Plis, tolong percayain aku.” Aku melihat matanya yang
benar-benar tulus mengatakan hal itu.
“Sorry,
perlakuan-perlakuan yang sebelumnya sudah membuatku yakin. Ini pilihan yang
terbaik, Rian. Hubungan kita udah selesai. Terserah lo mau apa sekarang. Hal
apapun tak akan membuat hatiku goyah.”
Aku
lalu berlalu meninggalkannya yang masih berdiri di depan gerbang rumahku dengan
gitar yangia pegang. Aku tak mau cepat-cepat menahan air mata yang mau tumpah
ini.
Oh
tidak. Kenapa air mata harus keluar dari mataku. Aku tidak boleh menangis. Aku
tidak boleh menangis. Kenapa juga aku harus menangis? Apa karena hubunganku
dengan Rian sudah berakhir? Tidak bukan. Lalu, mengapa aku masih menangis?
“Na!
lo tadi ngomong apa sama Rian di sana?” Teresa sudah berada di tangga dan
lekas-lekas mengajukan pertanyaannya.
Buru-buru
aku hapus air mata yang membasahi pipiku. “Enggak kok. Gue cuma ngomong jangan
lagi nyanyi di depan rumah orang.”
“Lalu,
kenapa lo nangis?”
“Enggak
kok.”
“Jawab,
Na!”
“Enggak
kok Teresa! Gue baik-baik aja.”
“Gue
tahu kok, elo sayang banget kan sama Rian. Elo sebenernya cinta sama dia,
Natalia.”
“Sudahlah,
Teresa. Kalau gue sayang dan cinta ama dia—” aku meringis, “percuma. Dia udah
menghianatinya. Semua hal baik, dibalas seperti ini. Gue juga yang sakit.”
***
Ini
sudah malam. Teresa sudah bersiap untuk pulang ke rumahnya yang hanya berjarak
tiga rumah dari rumahku. Hujan membuatnya tinggal lebih lama di rumahku. Dan
ini, dia akan menerobos hujan dengan jas hujan dan payung.
“Natalia,
bujuklah dia unuk pulang! Dia hujan-hujan di sana dari tadi. Bujuklah dia untuk
pulang!”
Aku
mendesah berat. Aku lalu berjalan menuju jendela dan menyibak tirai. Aku
melihat Rian yang menggigil kedinginan yang masih menungguku.
“Lo
kasihankan melihatnya seperti itu. Suruhlah dia untuk pulang. Ini sudah
setengah delapan malam. Dia bisa sakit jika di hujan-hujankan seperti itu
terus.”
“Biarin,
Re. Dia kan yang milih hujan-hujanan kaya gitu.”
“Tapi,
setidaknya lo punya hati, Na.”
Aku
mengerutkan dahi mendengar ucapan Teresa barusan. “Maksud lo gue gak punya hati
gitu? Lagian siapa coba yang mau dirinya hujan-hujanan kaya gitu.”
“Seharusnya
lo tahu apa yang harus lo lakukan!” Teresa lalu keluar dari kamarku.
Aku
hanya diam sambil melihat Teresa yang entah mengapa malah sewot sendiri. Aku
menghembuskan napas. Astaga. Angin malam sampai merembes ke dalam kamarku.
Dingin.
Aku
lalu melihat Rian yang berdiri di depan gerbang seperti orang gila itu. Aku
bisa merasakan dia kedinginan minta ampun. Aku jadi bergidik geli melihatnya.
Entah rasa apa yang membuatku meneteskan air mata.
Cepat-cepat
aku menghapus air mataku dari pipiku. Aku langsung lari dari kamar dan
cepat-cepat turun ke lantai satu. Langkahku terhenti di tangga ketika melihat
Teresa dan Kakakku sedang mengobrol di ruang tengah.
“Natalia,
cepat kau suruh pacarmu itu untuk pulang. Ia seperti orang gila di sana.”
Kakakku sudah cerewet. “Ngapain juga sih kamu gak nemuin dia dari tadi? Masalah
yang sama seperti sebulan yang lalu?”
“Kakak,
kakak tau kan dia itu sangat menyebalkan. Hal seperti ini sudah kerap terjadi.
Dan kali ini, aku akan mempertahankan perasaanku yang seperti ini.”
“Aku
tahu, Na. Tapi, suruhlah dia pulang!” bentak Kakak.
Aku
melihat Teresa yang sudah siap dengan jas hujan dan payungnya. Ia sudah bersiap
pulang menerobos badai hujan di luar. Betapa dinginnya di luar.
“Ayo,
keluar sama gue Na,” ajak Teresa. Ia lalu mengulurkan dua payung padaku.
Teresa
tersenyum lalu berjalan menuju pintu keluar dan membukanya. Aku mengikutinya
dengan ragu. Di luar, aku melihat Rian dengan basah kutup sedang berdiri di
depan gerbang. Ia menatap kosong ke depan dan melamun.
Teresa
membuka payungnya dan menerobos hujan. Aku membuka payungku sendiri dan mulai
berjalan mengikuti Teresa yang sudah membuka gerbang depan.
Aku
melihat wajah Rian yang terlihat gusar. Ia tersenyum ketika melihatku. Bibirnya
bergetar kedinginan. Matanya terlihat ingin mengatup. Namun ia paksakan
semuanya untuk melihatku.
Teresa
lalu berbalik dan melihatku dengan senyumannya lalu menerobos badai hujan untuk
sampai ke rumahnya.
Perlahan,
aku berjalan menghampiri Rian yang berdiri di luar gerbang.
“Seharusnya
kau pulang!” ucapku datar.
“Tidak
sebelum kau memaafkanku.”
“Sulit
untuk memaafkannya, Rian. Please, jangan memaksaku untuk memaafkanmu.”
“Aku
tahu itu sulit dan kau percaya , aku masih mecintaimu. Sama seperti dulu.”
“Sudahlah,
Rian. Kau terlalu sering berkata seperti itu. Sudah berulang kali kau seperti
ini. Mengemis-ngemis memintaku untuk memaafkanmu dan kembali padamu. Sudah
berulang kali kau membuatku sakit, Rian. Sudah berulang kali kau seperti ini.
Aku sudah lelah.” Entah darimana aku mendapatkan kata-kata seperti itu.
Rian
diam sambil menatapku. Wajahnya yang basah, masih terlihat tampan. Bahkan semakin
tampan.
“Maafkan
aku Na jika selama ini aku seperti itu di matamu. Maaf. Maaf sekali.
Sebenarnya, aku—“
“Sudahlah,
Rian! Pulanglah!” kataku sambil menyodorkan payung padanya.
Rian
mengulurkan tangan untuk menerima payung yang aku beri. Namun, dia malah
memegang tanganku dan menarikku ke dalam pelukannya. Jantungku berdebar-debar
luar biasa. Kurasakan tubuh Rian bergetar kedinginan, basah. Aku pun merasakan
dingin dalam pelukannya.
“Lepaskan
aku, Rian!” aku berusaha melepaskan diri dari pelukan Rian. Namun Rian malah
mempererat pelukannya.
“Aku
tak akan melepaskanmu! Aku tahu, cara bicaramu saja sudah menggunakan ‘aku’
‘kamu’. Itu berarti, kamu masih mengharapkanku-kan?”
Aku
berusaha mendongak namun tidak bisa. Kurasakan tubuhku juga mulai basah karena
hujan. Aku sudah hujan-hujanan bersama Rian. “Rian, aku belum memaafkanmu, dan
aku tak mau bersamamu lagi!” aku menegaskan.
Rian
mempererat pelukannya. Itu membuatku sesak. “Tolong jangan pergi, Na. Aku akan
mencintaimu lebih. Tolong tetap bersamaku!”
Aku
mendesah kuat dan berusaha bernapas dalam pelukannya yang membuatku sesak.
“Jangan paksa aku!”
“Tolong,
Na!”
“Jangan
paksa aku sekali lagi, Rian. Apakah kau tidak tahu, kau sudah berulangkali
seperti ini. Tapi, kenapa kau tidak mengerti sama sekali?”
“Ya,
maka dari itu, aku akan memperbaiki kesalahanku yang sebelum-sebelumnya.”
“Sudahlah,
Rian! Aku tidak mau sakit lagi. Relakan aku!”
Rian
mengendurkan pelukannya. Segera aku melepaskan diri dari Rian. Tubuhku basah.
Aku kedinginan luar biasa. Aku bisa merasakan bibirku bergetar. Aku kedinginan
di bawah hujan lebat. Dan bersama Rian.
“Terimakasih,”
ucapku. “Pulanglah!” aku lalu mengambil payung yang tergeletak di bawah lalu
menyerahkannya pada Rian.
Tanpa
berucap, Rian menerima payung pemberianku. Dia diam. Dan aku berlalu dari
hadapannya dan lekas masuk ke dalam rumah.
***
Tangisku
pecah setelah di kamar. Sekarang aku tahu, cinta itu tak selamanya indah atau
manis. Cinta ternyata pahit saat ditelan. Saat dirasakan itu manis dan sungguh
menyenangkan.
Rasanya
ini sama seperti yang lalu-lalu. Namun tak berakhir indah seperti yang aku
harapkan. Cinta yang kuharapkan bermain api di belakang. Tak peduli denganku
yang membawa mawar di hadapannya. Sungguh ironis. Cinta yang diharapkan,
ternyata tak menguntungkan. Apalah ini semua?
Aku
tak sadar atau aku memang seperti ini? Aku terlalu mengharapkan, sedangkan dia
terlalu mengabaikan. Ah, sudahlah. Mungkin dia tak pantas untukku. Cinta yang
dusta. Iya, selama ini aku salah mengamati cinta. Cintalah yang emmbuatku
terluka.
***
Bersambung ke chapter ke 2....

0 comments:
Post a Comment