Wednesday, 18 December 2013

I Don’t Know About Love : Chapter 1


Chapter 1
Tiap hari hanya seperti ini. Apakah hanya ku isi dengan ini? Telepon gak jelas dan SMS yang sama-sama membuatku pusing setengah mati.
Dia membuat kepalaku hanya penuh diisi dengan masalah-masalah beruntun darinya. Membuat semua penuh dengan keinginannya, keegoisannya, keserakahannya, dan semua rasa tak bersalahnya itu padaku.
Oke, sekarang aku sedang menatapnya sengit di depan laboratorium fisika. Entah mengapa, dengusan sebal terus saja aku lakukan dan terus menatapnya seperti musuhku. Padahal, dia pacarku.
Oke, dia sedang menatapku memohon dan mengharap maaf dariku. Ia mengucapkan kata-kata manis yang membuatku muntah. Muntah sekali. Atas apa yang ia perbuat padaku tempo hari.
Bayangkan, bagaimana perasaanmu ketika pacarmu sedang memegang lembut tangan perempuan lain. Dan pacarmu beralasan, itu hanya latihan untuk drama yang akan di selenggarakan sebulan lagi.
Apakah aku percaya dengan bualannya itu. Dalam adegan itu, aku seperti orang gila atau obat nyamuk yang melihat mereka dari pintu rumah pacarku sendiri. Bagaimana aku tidak marah? Bayangkan, ia memeluk lalu mengelus lembut tangan perempuan di hadapannya. Aku marah setengah mati.
Apa ada sih, laki-laki yang seperti itu? Maksudku, ya memang ada. Dia pacarku sendiri. Tapi, dia itu tak mempunyai perasaan. Dia selalu melukai perasaanku. Perasaanku yang selalu di buatnya hancur. Tapi, dengan buaian nya, aku balikan dengan dia lagi. Aaaaa…
“Sayang, dengarkanlah aku dulu! Maafkan aku!” omong kosongnya masih aku dengar. Apa dia tidak tahu, banyak murid yang mau melihat tontonan gratis.
Aku mendengus sengit melihatnya. “Ngaca dulu! Elo pantes gak buat di maafin.”
“Tapi, perempuan itu bukan siapa-siapa. Hanya kamu yang aku cinta, sayang!”
“Cinta, cinta.. Selalu kata itu yang lo jadiin alasan. Kali ini gue gak akan kasih lo kesempatan. Mungkin ini udah berakhir! Sudah sampai di sini. Kalau diterusin, lo akan lebih tidak menghargai gue lagi!” aku lalu berlalu dari hadapannya. Ia menatapku kosong dan tak bisa berbuat apa-apa lagi.
***
“Na, dia terus-terusan nyanyi di depan gerbang rumah lo kaya orang gila,” ucap Teresa, sepupuku.
“Biarin, nanti dia pergi kok. Tungguin aja. Nanti dia capek sendiri kok,” ucapku acuh sambil berdiri dari dudukku dari atas kasurku.
“Natalia, lo gak boleh gitu! Kasihan dia Na. Panas-panas gini. Mana dia sesekali baca puisi gak jelas gitu.
“Biarin Tere!” ucapku dengan suara tinggi. “Biarain dia itu ngaca dulu.”
“Kasih tu kaca lo,” ucapanya sambil menunjuk kaca besar di atas meja riasku.
“Kasih aja sendiri! Gue mau ngambil makanan dulu,” aku berlalu dari hadapan Teresa dan pergi ke dapur untuk mengambil beberapa cemilan untuk ku bawa ke kamarku di lantai atas.
Di ruang tengah, aku mendengar suaranya yang menyanyi-nyanyi gak jelas di depan gerbang. Untung, orangtuaku sedang tak ada di rumah. Hanya Kakakku yang dikit-dikit ngetuk pintu kamarku dan lekas-lekas ngusir si kunyuk penyanyi gak jelas itu.
Lagunya gak jelas. Tapi, aku tahu, dalam lagu itu ada permintaan-permintaan maaf. Astaga. Bukankah dia selalu melakukan hal itu?
Suaranya semakin ia keraskan dan membuat kupingku serasa ditusuk-tusuk. Mau apa dia?
Dengan dongkol yang berlebihan. Akhirnya, aku keluar dari rumah dan siap untuk mengacak-acak rambut dan mukanya itu. Ngeselin banget.
“Oh, hai sayang. Akhirnya kau keluar juga. Kau mau memaafkanku?”
Apa dia enggak liat wajahku yang dongkol setengah mati ini? jelas-jelas aku sudah seperti banteng yang siap mengamuk seperti ini.
“Heh lo ngapain juga nyanyi-nyanyi gak jelas di depan rumah orang? KAya gak punya kerjaan aja. Kalau mau cari uang, jangan di sini, sini gak terima yang namanya pengamen.”
“Bukan itu niat aku, Sayang. Aku ke sini niatnya mau minta maaf ke kamu.”
“Sudahlah, Rian. Hal yang lo lakukan itu sudah membuktikan semuanya. Membuktikan bahwa lo memang gak cocok ama gue.”
“Itu hanya sandiwara, Na! Plis, tolong percayain aku.” Aku melihat matanya yang benar-benar tulus mengatakan hal itu.
“Sorry, perlakuan-perlakuan yang sebelumnya sudah membuatku yakin. Ini pilihan yang terbaik, Rian. Hubungan kita udah selesai. Terserah lo mau apa sekarang. Hal apapun tak akan membuat hatiku goyah.”
Aku lalu berlalu meninggalkannya yang masih berdiri di depan gerbang rumahku dengan gitar yangia pegang. Aku tak mau cepat-cepat menahan air mata yang mau tumpah ini.
Oh tidak. Kenapa air mata harus keluar dari mataku. Aku tidak boleh menangis. Aku tidak boleh menangis. Kenapa juga aku harus menangis? Apa karena hubunganku dengan Rian sudah berakhir? Tidak bukan. Lalu, mengapa aku masih menangis?
“Na! lo tadi ngomong apa sama Rian di sana?” Teresa sudah berada di tangga dan lekas-lekas mengajukan pertanyaannya.
Buru-buru aku hapus air mata yang membasahi pipiku. “Enggak kok. Gue cuma ngomong jangan lagi nyanyi di depan rumah orang.”
“Lalu, kenapa lo nangis?”
“Enggak kok.”
“Jawab, Na!”
“Enggak kok Teresa! Gue baik-baik aja.”
“Gue tahu kok, elo sayang banget kan sama Rian. Elo sebenernya cinta sama dia, Natalia.”
“Sudahlah, Teresa. Kalau gue sayang dan cinta ama dia—” aku meringis, “percuma. Dia udah menghianatinya. Semua hal baik, dibalas seperti ini. Gue juga yang sakit.”
***
Ini sudah malam. Teresa sudah bersiap untuk pulang ke rumahnya yang hanya berjarak tiga rumah dari rumahku. Hujan membuatnya tinggal lebih lama di rumahku. Dan ini, dia akan menerobos hujan dengan jas hujan dan payung.
“Natalia, bujuklah dia unuk pulang! Dia hujan-hujan di sana dari tadi. Bujuklah dia untuk pulang!”
Aku mendesah berat. Aku lalu berjalan menuju jendela dan menyibak tirai. Aku melihat Rian yang menggigil kedinginan yang masih menungguku.
“Lo kasihankan melihatnya seperti itu. Suruhlah dia untuk pulang. Ini sudah setengah delapan malam. Dia bisa sakit jika di hujan-hujankan seperti itu terus.”
“Biarin, Re. Dia kan yang milih hujan-hujanan kaya gitu.”
“Tapi, setidaknya lo punya hati, Na.”
Aku mengerutkan dahi mendengar ucapan Teresa barusan. “Maksud lo gue gak punya hati gitu? Lagian siapa coba yang mau dirinya hujan-hujanan kaya gitu.”
“Seharusnya lo tahu apa yang harus lo lakukan!” Teresa lalu keluar dari kamarku.
Aku hanya diam sambil melihat Teresa yang entah mengapa malah sewot sendiri. Aku menghembuskan napas. Astaga. Angin malam sampai merembes ke dalam kamarku. Dingin.
Aku lalu melihat Rian yang berdiri di depan gerbang seperti orang gila itu. Aku bisa merasakan dia kedinginan minta ampun. Aku jadi bergidik geli melihatnya. Entah rasa apa yang membuatku meneteskan air mata.
Cepat-cepat aku menghapus air mataku dari pipiku. Aku langsung lari dari kamar dan cepat-cepat turun ke lantai satu. Langkahku terhenti di tangga ketika melihat Teresa dan Kakakku sedang mengobrol di ruang tengah.
“Natalia, cepat kau suruh pacarmu itu untuk pulang. Ia seperti orang gila di sana.” Kakakku sudah cerewet. “Ngapain juga sih kamu gak nemuin dia dari tadi? Masalah yang sama seperti sebulan yang lalu?”
“Kakak, kakak tau kan dia itu sangat menyebalkan. Hal seperti ini sudah kerap terjadi. Dan kali ini, aku akan mempertahankan perasaanku yang seperti ini.”
“Aku tahu, Na. Tapi, suruhlah dia pulang!” bentak Kakak.
Aku melihat Teresa yang sudah siap dengan jas hujan dan payungnya. Ia sudah bersiap pulang menerobos badai hujan di luar. Betapa dinginnya di luar.
“Ayo, keluar sama gue Na,” ajak Teresa. Ia lalu mengulurkan dua payung padaku.
Teresa tersenyum lalu berjalan menuju pintu keluar dan membukanya. Aku mengikutinya dengan ragu. Di luar, aku melihat Rian dengan basah kutup sedang berdiri di depan gerbang. Ia menatap kosong ke depan dan melamun.
Teresa membuka payungnya dan menerobos hujan. Aku membuka payungku sendiri dan mulai berjalan mengikuti Teresa yang sudah membuka gerbang depan.
Aku melihat wajah Rian yang terlihat gusar. Ia tersenyum ketika melihatku. Bibirnya bergetar kedinginan. Matanya terlihat ingin mengatup. Namun ia paksakan semuanya untuk melihatku.
Teresa lalu berbalik dan melihatku dengan senyumannya lalu menerobos badai hujan untuk sampai ke rumahnya.
Perlahan, aku berjalan menghampiri Rian yang berdiri di luar gerbang.
“Seharusnya kau pulang!” ucapku datar.
“Tidak sebelum kau memaafkanku.”
“Sulit untuk memaafkannya, Rian. Please, jangan memaksaku untuk memaafkanmu.”
“Aku tahu itu sulit dan kau percaya , aku masih mecintaimu. Sama seperti dulu.”
“Sudahlah, Rian. Kau terlalu sering berkata seperti itu. Sudah berulang kali kau seperti ini. Mengemis-ngemis memintaku untuk memaafkanmu dan kembali padamu. Sudah berulang kali kau membuatku sakit, Rian. Sudah berulang kali kau seperti ini. Aku sudah lelah.” Entah darimana aku mendapatkan kata-kata seperti itu.
Rian diam sambil menatapku. Wajahnya yang basah, masih terlihat tampan. Bahkan semakin tampan.
“Maafkan aku Na jika selama ini aku seperti itu di matamu. Maaf. Maaf sekali. Sebenarnya, aku—“
“Sudahlah, Rian! Pulanglah!” kataku sambil menyodorkan payung padanya.
Rian mengulurkan tangan untuk menerima payung yang aku beri. Namun, dia malah memegang tanganku dan menarikku ke dalam pelukannya. Jantungku berdebar-debar luar biasa. Kurasakan tubuh Rian bergetar kedinginan, basah. Aku pun merasakan dingin dalam pelukannya.
“Lepaskan aku, Rian!” aku berusaha melepaskan diri dari pelukan Rian. Namun Rian malah mempererat pelukannya.
“Aku tak akan melepaskanmu! Aku tahu, cara bicaramu saja sudah menggunakan ‘aku’ ‘kamu’. Itu berarti, kamu masih mengharapkanku-kan?”
Aku berusaha mendongak namun tidak bisa. Kurasakan tubuhku juga mulai basah karena hujan. Aku sudah hujan-hujanan bersama Rian. “Rian, aku belum memaafkanmu, dan aku tak mau bersamamu lagi!” aku menegaskan.
Rian mempererat pelukannya. Itu membuatku sesak. “Tolong jangan pergi, Na. Aku akan mencintaimu lebih. Tolong tetap bersamaku!”
Aku mendesah kuat dan berusaha bernapas dalam pelukannya yang membuatku sesak. “Jangan paksa aku!”
“Tolong, Na!”
“Jangan paksa aku sekali lagi, Rian. Apakah kau tidak tahu, kau sudah berulangkali seperti ini. Tapi, kenapa kau tidak mengerti sama sekali?”
“Ya, maka dari itu, aku akan memperbaiki kesalahanku yang sebelum-sebelumnya.”
“Sudahlah, Rian! Aku tidak mau sakit lagi. Relakan aku!”
Rian mengendurkan pelukannya. Segera aku melepaskan diri dari Rian. Tubuhku basah. Aku kedinginan luar biasa. Aku bisa merasakan bibirku bergetar. Aku kedinginan di bawah hujan lebat. Dan bersama Rian.
“Terimakasih,” ucapku. “Pulanglah!” aku lalu mengambil payung yang tergeletak di bawah lalu menyerahkannya pada Rian.
Tanpa berucap, Rian menerima payung pemberianku. Dia diam. Dan aku berlalu dari hadapannya dan lekas masuk ke dalam rumah.
***
Tangisku pecah setelah di kamar. Sekarang aku tahu, cinta itu tak selamanya indah atau manis. Cinta ternyata pahit saat ditelan. Saat dirasakan itu manis dan sungguh menyenangkan.
Rasanya ini sama seperti yang lalu-lalu. Namun tak berakhir indah seperti yang aku harapkan. Cinta yang kuharapkan bermain api di belakang. Tak peduli denganku yang membawa mawar di hadapannya. Sungguh ironis. Cinta yang diharapkan, ternyata tak menguntungkan. Apalah ini semua?
Aku tak sadar atau aku memang seperti ini? Aku terlalu mengharapkan, sedangkan dia terlalu mengabaikan. Ah, sudahlah. Mungkin dia tak pantas untukku. Cinta yang dusta. Iya, selama ini aku salah mengamati cinta. Cintalah yang emmbuatku terluka.

***
Bersambung ke chapter ke 2....

0 comments: