Thursday, 8 May 2014

Cinta

Aku akan membicarakan tentang cinta. Tentu kita punya banyak cerita tentang cinta. Seperti apa dan bagaimana, hanya masing-masing diri yang mengalaminya.


Katakanlah… menurutku cinta seperti air yang mengalir dengan tenang dan jernih. Seperti itulah cinta. Sempurna dengan sendirinya. Walaupun masing-masing diri kadang meragukannya.
Setiap jiwa pasti punya cerita. Siap untuk dibagikan pada siapa? Kekasih?
Berbicara tentang kekasih, aku mempunyainya di dunia ini. Begitu banyak. Dari mulai orangtuaku, sahabatku, saudara-saudariku, guru-guruku juga pun pacar (meskipun belum punya). Aku menganggap mereka semua adalah kekasih. Cinta yang tulus. Bagaimana setiap tarikan napas mereka adalah cinta yang murni. Bukan rekayasa dan itu semua sempurna.
Dengusan kecil, mungkin juga kadang keluar. Namun cinta meluluhkan segalanya. Seakan amarah melelh seperti keju yang sedang dipanasi.
Cinta itu bagiku adalah kata singkat yang bisa mengikat seseorang dengan orang lain dengan perasaan lebih.

Sikap dan rasa untuk menyayangi dan melindungi pasti ada dalam benak orang-orang yang sedang merasakan namanya cinta. Tanpa ada paksaan dan tulus diuraikan dari hati yang mengucap kata penuh dorongan untuk selalu ingin menyayangi dan melindungi orang-orang yang kita cintai.

Saturday, 19 April 2014

Berdiri Untuk Harapan Baru

Bukalah hati dengan segala kerinduan
Hiruplah udara dengan tenang
Tataplah lembaran baru yang terbina
Dalam hati, lakukan apa yang kau katakan

Sabar menunggu
Hanya itu harapanmu
dengan segala siksaan batin yang membekas rona jiwa
Hati sedikit lara
Mungkin lebih dar sekadar

Kau tahu...
Bangkit rasanya sakit
Hanya satu yang bisa
Sekarang ku bisa
Kukatakan aku bisa

Berdiri untuk harapan yang baru
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
@KataAsteniasti
20.00, rumah djokja
21/03/2014

Lirik lagu Let It Go

Mumpung lagi demen ama ini lagu... Aku mau ngasih liriknya. Bagus banget. Walaupun aku belum nonton filmnya, tapi aku percaya bagus banget. Buat kalian yang kepo bagaimana lirik lagunya, aku kasih nih. Kangen juga udah nggak ngasih postingan lama banget.
Let it go
Let it go
Can’t hold you back anymore
Let it go
Let it go
Turn my back and slam the door
The snow blows white on the mountain tonight
Not a footprint to be seen
A kingdom of isolation and it looks like I’m the Queen
The wind is howling like the swirling storm inside
Couldn’t keep it in, heaven knows I tried


Don’t let them in, don’t let them see
Be the good girl
You always had to be
Conceal, don’t feel
Don’t let them know
Well, now they know

Saturday, 8 February 2014

Lyric : Donghae-Eunhyuk__-Still You

[Donghae] Oneuldo geotda uyeonhi neol bwasseo,
Yeojeonhi jal jinae boin ni moseup
Iksukhan perfume, and still I miss you,
Naege judeon miso, oh yeah
[Eunhyuk] Ttansaram chae tago, pyeonhage paljjang kkigo,
Utneun neoran geol
[Donghae] Nan ije gwaenchantago, amureochi antago,
Saenggakhaetdeon nainde,
[Donghae] Hajiman nan ajikdo you, you, you, mot ijeonna bwa,
[Eunhyuk] Ajikdo you, you, you, geudaeroinga bwa, yeah
[Donghae] Apeun geoni ([Eunhyuk] Apeun geoni), apeunga bwa,
I don’’t know ([Eunhyuk] I don’’t know), oh no …yeah
[All] Ajikdo nan, geudaero neol, ajikdo nan neol
[Eunhyuk] Yo, nan ajikdo jeonhwa butdeulgo,
Neoui sajin humchyeobogo naseo sakjereul nureugo
Jeonhwahalkka gomine ppajigo
Sumi beokchan haruga da neo ttaemun,
Barojabeun maeum gireobwatja myeot sipbun
Nae mame nega geurin nakseoreul jiuneun ge,
Ajik sirheungabwa neol jiundaneun ge
[Donghae] Neoui geurimja doeeo, maeil ttaradanigo,
Jichin eokkael gamssamyeo
Hanbal deo dagagamyeon, dubal deo domangganeun,
Neoreul bara bol su bakke eomneun na
Hajiman nan ajikdo you, you, you, mot ijeonna bwa,
([Donghae] Only you)
Ajikdo you, you, you, geudaeroinga bwa, yeah
[Donghae] Apeun geoni ([Eunhyuk] Apeun geoni), apeunga bwa,
I don’’t know ([Eunhyuk] I don’’t know), oh no…
([Eunhyuk] Cause baby I say)
Ajikdo nan ([Donghae] Ajikdo nan),
Geudaero neol ([Donghae] Geudaero neol),
Ajikdo nan neol ([Donghae] Ajikdo nan neol)
([Eunhyuk] Cause baby I say)
Ajikdo nan ([Donghae] Ajikdo nan),
Geudaero neol ([Donghae] Geudaero neol),
Ajikdo nan neol ([Donghae] Ajikdo nan neol)
[Eunhyuk] Apeun geonga, apeunga bwa,
[Donghae] Nado nal jal moreugesseo
[Eunhyuk] Ijeun geonga, aninga bwa,
[Donghae] Jakku niga saenggagina baby
[All] Hajiman nan ajikdo you, you, you, mot ijeonna bwa,
([Donghae] Hey, it’s only you)
Ajikdo you, you, you, geudaeroinga bwa, yeah
[Eunhyuk] Apeun geoni ([Donghae] Apeun geoni), apeunga bwa,
I don’’t know ([Donghae] I don’’t know), oh no…
(cause baby I say)
[All] Ajikdo nan ([Donghae] Ajikdo nan),
Geudaero neol ([Donghae] Geudaero neol),
Ajikdo nan neol ([Donghae] Ajikdo nan neol)
([Eunhyuk] Cause baby I say)
Ajikdo nan ([Donghae] Ajikdo nan),
Geudaero neol ([Donghae] Geudaero neol),
Ajikdo nan neol ([Donghae] Ajikdo nan neol)
([Donghae] Ajikdo nan, geudaero neol, ajikdo nan neol)

I Don't Know About Love : Chapter 4

Semua memang sudah ditentukan atau kita menentukan sendiri. Aku masih bingung dengan itu. Aku akan menceritakan hubunganku dengan Mario saja. Semua baik-baik saja. Dia baik dan sangat perhatian padaku. Dan yang paling membuatku senang adalah, dia orang yang romantis.
Setiap pagi, Mario menjemputku. Pulang, dia mengantarku. Kecuali, jika dia ada urusan. Ya, semua di jalanini dengan baiklah.
Dan juga, mantan pacarku kelihatannya makin mesra sama Dian. Jika aku lihat, perhatian Rian ke Dian melebihi perhatiannya padaku dulu. Ah, sudahlah. Dan, mereka selalu membayang di kepalaku. Ah. Sialan.
Tapi, Mario tak kalah kok sama Rian. Mario mungkin laki-laki yang lebih baik dari Rian. Aku yakin itu. Rian hanya selalu membuatku sakit. Ah, sudahlah. Aku tak perlu lagi membahas Rian.
“Na, gimana hubungan lo sama Mario? Dia orang baik kan?” tanya Anggi di sampingku. Kami sedang bersandar di dinding balkon lantai dua.
Aku tersenyum menatap Anggi, “Iyalah. Kalau dia enggak baik, gue enggak bakalan tahan sama dia. Lo liat kan kita udah pacaran tiga minggu,” ucapku. Pandnaganku beralih menuju lapangan melihat Rian yang sedang bermain basket bersama teman-temannya.
“Heh, liatin apa lo?” tanya Anggi sambil mengibaskan tangannya di hadapanku.
“Haa?” tanyaku kaget.
Anggi mengikuti pandanganku yang sedar tadi mengamati Rian. “Lo dari tadi liatin Rian?”
Aku diam.
“Apa lo masih sayang sama dia, Na?” tanya Anggi pelan.
Pipiku memerah. Entah kenapa aku jadi salah tingkah sendiri, “Tidak, lagi pula aku udah sama Mario, Nggi.”
“Gak usah bo’ong. Ketahuan dari sikap lo.”
“Enggak kok,” ucapku setenang mungkin.
“Kelihatannya iya,” gumam Anggi meyakinkan pernyataannya sendiri.
Aku hanya menunduk.
“Tapi, coba jujur deh, Na. Lo masih sayang kan sama Rian?”
“Apaan sih?-.,-“
“Bener kan?”
“Udahlah, gue mau ke kelas dulu,” ucapku sambil mengibaskan tangan dan meluncur menuju kelas meninggalkan Anggi yang masih berdiri di sana.
***
Istirahat kedua, waktuku kugunakan untuk pergi ke perpustakaan. Ya, sekadar cari buku untuk dibaca-baca. Mario pergi entah kemana. Dan aku malas untuk mencarinya. Mungkin sednag rapat tentang pertandingan basket bulan depan. Entahlah.
Cari buku yang bagus emang susah. Ngeselin juga. Sebenarnya ke sini gak pakai niat. Ya, Cuma jalan-jalan dan iseng-iseng aja. Tau-tau kan dapat sesuatu yang nyenengin hati. Hohoho..
Lorong untuk sastra? Ha? Gak salah nih aku berjalan di sini? Yah, mau apalagi. Dari tadi cari-cari teenlit gak ketemu-ketemu.
“Hai, Na,” seseorang menyapaku dari belakang. Aku mengumpat setelah mendengar suara itu.
Aku menoleh ke belakang untuk melihat siapa itu. “Hai,” jawabku.
“Cari novel?” tanyanya.
Aku salah tingkah, “Ya. Lo sendiri?” tanyaku. Bodoh.
“Ada tugas.”
Yah, aku sangat ingat orang ini jika tidak ada perlu sekali tak akan pergi ke tempat seperti ini.
“Oh iya, Na. Ngomong-ngomong, gimana hubungan lo sama Mario?” tanyanya tanpa memandangku.
“Baik,” aku memalingkan wajahku ke buku-buku yang tersusun rapi di rak. “Juga, gimana hubungan lo sama Dian?” tanyaku setenang mungkin. Agar tak kelihatan suaraku bergetar. Sungguh, aku merasakan lututku kelu.
 “Ya. Seperti itu,” jawabnya. Kalai ini dia memandnagku dengan tersenyum. Oh, astaga, kalau aku tidak berpegangan pada rak, aku bisa jatuh karena meleleh. Itu senyuman yang pernah ia berikan padaku dulu.
“Oh, lalu di mana Dian?” tanyaku agak terlihat gugup. Oh, astaga.
“Dia lagi ada rapat sama anggota basket,” ia menatapku. “Bukankah Mario juga?”
“Iya.” Jawabku.
Hening. Aduh, di saat hening seperti ini, jantungku malah berdebar keras sekali. Rian masih berada di sampingku yang membuatku salah tingkah. Kenapa sih kok aku jadi begini? Lututku kelu. Aku harus bagaimana sekarang. Jika aku melangkah, aku takut aku melakukan kesalahan.
Suara bel masuk pun terdengar. Aku bersyukur.
“Oh, Na. gue pergi duluan ya,” ucap Rian sambil melambaikan tangannya dan tersenyum. Ia lalu berlalu dari hadapanku.
Oh, aku masih bisa merasakan senyumannya tertinggal di sini.
Ah, apa-apaan sih. Aku menggeleng-gelengkan kepala dan cepat-cepat berlari menuju kelas.
***
Perjalanan pulang, aku di antar Mario. Aku masih memeikirkan tentang pertemuanku dengan Rian siang tadi. Ah, masih terbayang-bayang sampai sekarang. Bagaimana ini?
“Na, kamu enggak apa-apa?”
Aku terlonjak, “Iya. Gak pa-pa.”
“Kamu kelihatan aneh. Ada apa? O.O”
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, “Aku tidak apa-apa.”
“Oh, iya. Akhir-akhir ini kelihatannya aku banyak latihan basket buat pertenadingan bulan depan. Jadi, ya.. mungkin atau kadang aku gak bisa nganter kamu.”
“Enggak apa-apa. Lagi pula, itu juga buat sekolah kita kan?” kataku sambil menyikut lengannya.
Mario tertawa kecil, “Kau bisa saja.”
“Aku harap kau yang paling banyak memasukkan bola ke ring nantinya.”
Mario tersenyum lebar, “Semoga.”
***
Hari ini aku menunggu Mario latihan basket. Aku mendengarkan musik dari hpku menggunakan headset. Aku menunggu di pinggir lapangan di atas bangku penonton.
Tak banyak yang kulakukan. Aku menyantap makanan ringan dan membawa dua buah komik. Aku membacanya dan tak sekalipun melirik permainan basket Mario. Aku terfokus pada komikku.
Ada seseorang yang duduk di sampingku. Aku hiraukan dan terus terfokus pada komikku.
“Nunggu Mario?” tanya orang di sebelahku. Astaga. Aku tahu siapa yang mempunyai suara itu.
Aku menoleh melihat orang di sampingku. Jantungku sudah dag-dig-dug. “Rian? Ngapain di sini?”
“Gue yang tanya. Malah balik tanya. -.,-“
“Oke, iya. Gue nunggu Mario. Terus lo?” tanyaku.
Ia mengarahkan dagunya ke luar lapangan. Di mana ada sekelompok anak-anak cheers sedang berlatih.
“Oh. I see,” ucapku lalu membaca komikku kembali. “Nunggu Dian kan?” gumamku.
“Iya. Dia manja,” ucapnya lirih tapi seperti umpatan.
Aku menatap Rian dengan kening berkerut. “?”
“Iya. Padahal hari ini gue ada les tau gak? Dia mint ague untuk nemenin dia.”
Aku mengangguk-angguk paham. “Tapi, gue nunggu Mario karna kemauan gue.”
“Itu kan elo. Gue enggak mau kali. Setiap nunggu dia gue bosen.”
“Terus? Ya itu resiko,” ucapku.
Rian menatapku dengan alis bertaut, “Maksud?”
“Setiap tindakan pasti ada resikonya. Lo berbuat, harus tahu apa yang bakal terjadi dengan perbuatan lo itu. Harus siap menghadapi, siap menanggung kalau salah—“ aku memandang komikku, “dan gak kecewa kalau hal yang buruk udah terjadi.”
Rian menundukkan kepalanya. “Gue tau gue salah kok. Gue udah tahu maksud lo.”
Aku diam. Sok serius dengan bacaan di komikku.
“Dan sampai saat ini aku masih mengaharapkan,” Rian memalingkan wajahnya.
Aku berani mendongak untuk melihatnya. “Mengharapkan apa? Hal yang tak mungkin kembali? Iya kan? Memang susah untuk menerima kanyataan kan?”
“Aku masih sayang, Na.”
“Lalu?”
“Aku mengharapkan.”
“Mengharapkan apa? Gue kembali sama lo lagi gitu? Setelah apa yang lo lakuin?” aku marah dan berbicara dengan nada tinggi. Untung anak-anak basket tidak mendnegar teriakanku. Trerbukti mereka masih melakukan aktifitas mereka dengan serius.
Rian menatapku nanar dengan mata yang sulit kupahami. “Gue emang salah. Salah sekali tentang apa yang gue lakukan terhadap lo. Dulu.”
“Kalau dulu, kenapa sekarang dibawa-bawa?” aku kembali membaca komikku.
“Karena sampai sekarang aku masih memikirkannya. Dan aku mau tanya sesuatu padamu, Na. Apa kamu masih sayang?”
Tenggorokanku tercekat. Aku menelan ludah. Aku tak tahu apa yang harus aku katakan.
“Oke. Kalau kamu gak jawab, aku bisa menyimpulkan. Sebenarnya kamu sayang. Tetapi kalah sama yang namanya sakit. Sakit yang timbul karena salah paham.”
Sehabis mengatakan itu, Rian pergi dariku. Dia berjalan cepat meninggalkanku. Aku tak mempedulikannya dan berpura-pura membaca komikku.
Apa maksud dari kata-kata Rian yang terakhir? Salah paham?
***
“Kalian tadi mengobrol tentang apa?” tanya Mario usai latihan basket. Ia menegak air dalam kemasan botol mineral dnegan terburu-buru.
“Hanya mengobrol biasa saja,” jawabku sambil tersenyum. Aku lalu mengulurkan handuk putih polos padanya.
“Kalian tadi telrihat serius,” ucap Mario.
“Oh ya?” alisku sengaja kunaikkan.
“Ya. Kalian serius sekali. Hingga aku khawatir, kalian membahas tentang hubungan diam-diam kalian nantinya.-.,-“
“Apaan sih? Tidak mungkin,” aku meninju lengannya.
“Sakit,” erangnya sambil mengelus-elus lengannya.
“Makannya, jangan berpikiran yang aneh-aneh,” ucapku.
“Iya-iya,”ia berkata seperti gemas dan mencubit pipiku.
“Udahlah, ayo cepat pulang! Aku laper,” manjaku.
“Iya-iya. Aku ganti baju dulu.”
Aku tersenyum lebar.

***

Bersambung ke chapter 5

Saran Lo Bikin Gue Nyesekk, Pizz.. & Pepzz..

Postingan ini aku buat khusus untuk si Pizz and si Pepzz. Duo kembar yang sama-smaa iseng. Yang satu unyuk yang satu nyebelin. Yang satu tingkat kegalauannya tinggi, yang satu pecicilannya kurang ajar.

Kalau kalian liat mereka, timpuk aja langsung pake baskom. Kalian pernah gak liat tukang jualan ember yang setiap masuk kampung selalu nggembor-nggemborin embernya biar bunyi “blok.. blok…” gitu… nah mereka juga sama. Sekali timpuk udah… udah… lo yang bakalan capek ngurusi mereka. Gue yakin..
Tragedi ini terjadi pada hari Sabtu tanggal 01 Februari 2014. Pulang sekolah rencanyanya ada ekstra. E… gurunya malah gak dateng. Ya udah.. ngobrol asik ama temen sambil liatin anak-anak kelas lain lagi latihan upacara buat seninnya.
Nah.. saat itu, ketika temen gue—si Pepzz itu megang buku ‘Radikus Makan Kakus’ dia ngusulin untuk buka bab 12. Nah itu… gue penasaran.. Gue buka tuh bab 12. Judulnya adalah symbol yang gak bakal gue tulis sekarang. Gue gak ngerti apaan tuh symbol. Nah gue baca…
Gue baca… gue baca… terus… nah… akhirnya gue tahu apa tu maksud dari symbol itu. Bikin gue nyesekkkkk tau gak? Rasanya si Pepzz ama si Pizz pingin gue gampar. Si Pipzz cuma cengengesan.

Buat yang penasaran? Buka sendiri. Dan dengan bacaan itu, aku baru tahu, jika ternyata aku masih sangat polos. Bahhh…

Wednesday, 5 February 2014

Journal of Asteniasti: Donghae & Eunhyuk – Still You Lyrics

Journal of Asteniasti: Donghae & Eunhyuk – Still You Lyrics

Februari 2014. Semoga tahun ini, harapan dapat terwujudkan.

Hai-hai... Lama gak muncul nih. Januari gak postingin apa-apa. Cuma males aja. Hehe :D
Udah di tahun 2014. di tahun lalu, novel udah gak muncul dari Asti Yulinia. Semoga tahun ini, Asti Yulinia bakal munculin novel perdananya... AMIEN...


Keinginan ini emang udah lama banget di incer. semoga tahun ini bisa. Dan, semoga pengumuan lombanya cepetan di umumin... Semoga aku jadi juaranya. AMIEN..
Semoga di tahun ini, semua bakalan sukses ya... Semuanya. Yang jelek-jelek di tiinggalin, dan yang baik-baik dideketin lah. Gitulah. Semangat aja buat semuanya.
Salam dari Asti Yulinia untuk para teman-teman... Terimakasih