Ini aku Cuma iseng-iseng buat. Yah,
bagus atau enggaknya, bisa dinilai sendirilah. Kalian pasti lebih tau dari yang
buat. Yang buat emang belum terlalu mahir buat cerita yang lucu-lucu. Yang
absurd gitu, gak bisa. Akhir-akhirnya, pasti ceritanya jadi formal banget gitu,
Yahhh…
Selamat MEmbaca ya!
………………………………………………………………………………………………………………………….
Di
suatu hari yang lumayan cerah untuk mencari makan untuk seekor kura-kura yang
lamban. Hari yang mendung, panas, selalu ia hiraukan. Semua seakan hanya ngin
berlalu yang hanya melintas dalam hdupnya. #Wuss
Ddangkoma
namanya. Punyanya Artis, tapi, kura-kuranya tetep kritis. Gak kebayang kalau
dia iri ama Kris. Maklum lah, dari dulu ia gak tinggi-tinggi, Kris udah gak
keliatan kalo di pandang ama dia dari bawah. Wahh..
Jalannya,
jangan tanya. Sekali melangkah, satu meter kurangi 99 cm, lewat ama dia. Gak
kebayang, seberapa cepatnya sang kura-kura bernama Ddangkoma ini.
Nah, di
saat itu juga, ia bertemu dengan sosok yang item, bolet, untung gak tinggi,
rambutnya pendek, Ahh.. hal jelek-jelek udah lekat ama itu orang. Ddangkoma
bergidik ngeri liat sosok menyeramkan yang menuju ke arahnya.
“Oh,
hai kura-kura malang!” sapa sosok yang item dan bullet.
“Hih!
Jangan deket-deket! Gue juga bukan kembarannya apel Malang yang bullet-bulet
itu. Gue Ddangkoma!” menjerit histeris.
“Oh,
Hai Ddangkoma, Aku Dora!”
“Mau
apa lo?” katkutan.
“Mmm..
Aku mau cari jodoh. Aku habis dari dukun bicarain kapan jodoh aku datang.
Katanya, jodoh aku, yang huruf depan di namanya sama kaya huruf depan nama aku
aku!”
Mata
Ddangkoma melotot. “Lalu?”
“Nama
kamu dimulai dari huruf apa?”
“Heh,
Lu udah lulus TK belom sih? Udah gue kasih tau nama gue. Elonya emang goblok.”
“Oh,
ucapan kamu emang bener. Gara-gara setiap hari Sweeper godain aku, aku jadi
bosen sekolah. Makannya, aku ngadu ke Mama biar aku gak sekolah!”
“Emang
Sweeper serius godain lo?”
“Iya,
dia suka banget, nyuri barang-barang aku, kalau gak godain, namanya apa?”
Ddangkoma
ngelus dada tanda sabar. Tapi, dia udah gak sabar kalau Dora yang ada di
hadapannya, terus aja curhat yang enggak-enggak.
“Tapi,
satu pertanyaan buat lo, Dora! Apa Ibu lu ngakuin lo sebagai anaknya?”
Dora
diam sejenak, lalu menjitak kepala Ddangkoma yang lalu masuk ke tempurungnya.
“Dasar!”
“Emang
ada yang ngakuin anak kaya kamu?”
“Ada.”
“Siapa?”
“Mama
aku.”
Ddangkoma
mencibir. #Weekk.. “Terus, apa maumu?”
“Aku
lagi nyari jodoh, Ddangkoma!”
“Emang
ada yang mau ama lo yang buntet gini?”
“Kalau
dia mau kenapa enggak?”
Ddangkoma
muntah.
“Oh
iya, aku mau tanya. Huruf depan nama kamu apa ya?”
Ddangkoma
syok.
“Pikir
sendiri,” bentak Ddangkoma lalu bergegas meninggalkan Dora.
“Mau
kemana Ddangkoma?”
“Bukan
urusan Lo!”
Ddangkoma
lalu melihat sebuah perkebunan di depan. Matanya langsung bersinar-sinar. Ia
melihat sayuran yang seger-seger. Perutnya udah laper benget. Tambah laper
dengan bertemu orang buntet gak sempurna abis.
Ddangkoma
langsung berlari menuju kangkung yang seger-seger. Ia terus melahapnya hingga
penuh di perutnya. Perutnya nyampe melembung.
“Ddangkoma,
kamu habis makan kangkung?”
Ddangkoma
mengangguk sambil merasa puas udah mengisi perutnya.
“Lho,
bukannya kangkung bikin lemes ya? Nanti jalanmu jadi setengah centi lho.”
“Maksud
lo?”
“Iya,
biasanya, kamu kalau jalan jangkah nya satu sampai dua centi, sekarang Cuma
setengah centi. Soalnya kamu habis makan kangkung.”
“HAAAAAA???”
“Iya.”
Dari
kejauhan, Ddangkoma mendengar suaranya dipanggil berulang kali. Ddangkoma tahu
siapa suara itu. MAjikannya. Yesung.
“Oh,
Ddangkoma!” sembur Yesung haru sambil berusaha nangkap Ddangkomanya.
Yesung
mencari Ddangkoma bersama Eunhyuk. Dan mereka menganga saat melihat pemandangan
di hadapannya. Yesung dan Eunhyuk melihat itu dengan tak percaya. Mereka
melihat, Ddangkoma sedang tiduran dengan tempurungnya di bawah. Dan di
sampingnya, ada Dora yang lagi jongkok liatin Ddangkoma.
“Hah?
Lo apain Ddangkoma, ITEM!” teriak Yesung.
“Haaaa,
lo mau yadongin Ddangkomakan? Ngaku! Lo liat gak sih? Muka Ddangkoma udah mau
nangis kaya gitu. Gak bisa berdiri lagi tau nggak?” Bentak Eunhyuk.
Dora
natap bingung dua orang ganteng-ganteng di depannya. “Enggak kok, Oppa.”
“Terus?”
bentak Yesung emosi.
“Namaku
Dora, Oppa. Aku cuma bicara ama Ddangkoma, kalau—“
“UDAHH..
STOOPP!!!!!” teriak Eunhyuk. “Terus, apa hubungan lo, si pendek item buntet
ngobrol sama kura-kura elite kaya Ddangkoma?”
“Aku
cuma ketemu ama dia di jalan kok, Oppa.”
“Bener?
Udah deh, sekarang, jauh-jauh deh Lo ama Ddangkoma. NAnti ketularan deh dia.”
“Ketularan
apa?”
“Gak
sempurananya!!” bentak Eunhyuk dan Yesung bareng.
“Oppa
jahat!”
“Emang!
Kenapa emang?”
“Kan
aku perempuan!”
“Lo
perempuan?”
“Oppa
baru tahu?”
“Kok
gak nampak?”
“OPPA
Jahat!”
“Emang
lo ada urusan apa ama Ddangkoma?” tanya Yesung berkacak pinggang sambil
mendengus sengit kepada Dora.
“Aku
tanya dia, di mana jodohku.”
“Oh
itu, cari aja di kebun binatang. Banyak kok. Gak usah bingung,” jawab Eunhyuk
santai.
Di
samping Yesung dan Eunhyuk berdebat dengan Dora. Ddangkoma menunggu lama mereka
dengan tidur. Mungkin, habis sarapan, ia langsung ngantuk dan kelimpuk.
“Eh,
Oppa! Apa salah satu dari kalian, huruf pertama yang mengawali nama kalian ada
yang sama sepertiku?”
Yesung
dan Eunhyuk berpandangan. Lalu menggeleng-geleng. Yesung lalu berjongkok untuk
mengambil Ddangkoma yang udah tidur menunggu debatnya Yesung-Eunhyuk dengan
Dora.
“Tapi,
kalau Ddangkoma iya. Huruf pertamanya D dan huruf pertama lo juga D. Emang
kenapa?”
Dora
langsung menganga kaget begitu tahu itu.
“Lo
kenapa? Kesurupan?”
Dora
menggeleng-geleng lalu berjalan menghampiri Ddangkoma. “Ddangkoma, akhirnya aku
ketemu dengan jodohku!”
Ddangkoma
yang tidur langsung terbangun.
“Tuhan
itu baik ya, Jodohku itu sebenernya kamu! Hurup depan nama kita aja sama. Kita
jodoh, Ddangkoma!”
Ddangkoma
menganga dan jijik liat ekpresi Dora saat ini. “Apaan sih lo?”
Dan di
saat Dora mau ngambil Ddangkoma untuk dipeluk, Yesung dan Eunhyuk teriak
histeris. “AAAaaaaa… Jangan sentuh Ddangkoma!!!!!!”
*SELESAI*
Hore, akhirnya. Selesai juga
ceritanya. Hehe. Gak tahu sih, bagus apa enggak. Kalian yang nilai. Jelek ya?
Hehe. Maaf kalau ternyata jelek. Kalau bikin kamunya tertawa, syukur.deh.


1 comments:
Ceritanya bgua enggak sih? tolong komentar!
Post a Comment