Saturday, 23 November 2013

Cerpen : Hanya Perlu Membawa Sebuah Cinta


Di saat semuanya sedang tertawa terbahak-bahak membahas sesuatu yang ku anggap sangat tak menguntungkanku, aku malah memandnag jauh ke sana. Pandanganku hanya tertuju ke sana. Mataku tak dapat ku belokkan. Begitu melihat wajah yang memesonaku itu.
Jauh di sana. Dia duduk dengan membaca bukunya. Kerudungnya berkibar-kibar diterpa angin. Seakan semua angin mengerubuti untuk melihat dan mendekatinya.

Ia tampak tertawa di sela-selanya membaca bukunya. Membuat seulas senyum yang sangat manis. Ku bisa jelas melihatnya dari sini. Ia begitu memukauku. Wajahnya yang manis tak lepas dari pandanganku. Aku ikut tersenyum saat ia tersenyum ceria kepada salah satu teman perempuannya.
Hantu apa yang bisa membuatku terpaku melihati ciptaan-Nya yang sungguh membuatku terpesona. Mata coklat itu, kerudung dengan warna lembut itu, senyuman itu, wajah yang cantik itu, mengapa aku tak bisa menghindari sihir-sihir yang tak sadar membuatku ingin terus melihatinya.
***


Ia sedang membeli sesuatu ke kantin. Aku mengikutinya. Berpura-pura duduk di kursi depan kantin. Ia ternyata juga duduk di meja sebelahku. Astaga. Ia duduk dengan posisi menghadap padaku.
Aku bisa merasakan jantungku berdegup keras. Aku bisa melihat wajahnya yang sungguh cantik itu dari dekat. Ia benar-benar cantik dengan kerudung biru dongker yang menutupi kepalanya. Ia bahkan begitu sempurna saat mengenakannya.
Ia mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Lagi-lagi buku itu. Aku sangat mengenali buku itu. Ia sangat menggemari buku itu. Ia selalu membawanya kemana-mana dan ia sellau membcanya tanpa henti.
Oh, mengapa mataku tak bisa melepas wajahnya yang membuatku salah tingkah di sini? Bahakan, aku sudah merasakan pipiku memerah. Juga, membuat aku susah menelan roti yang aku makan ke dalam kerongkonganku. Semua tertahan saat aku memandangi wajah itu.
Perempuan berkerudung itu melirik ke arahku. Buru-buru aku memalingkan wajahku. Supaya tak berhadapan langsung dengannya. Itu membuatku salah tingkah dan jantungku berdegup keras.
Berusaha aku menahan diri untuk tak banyak bergerak dan berusaha untuk bersikap biasa saja. Tapi, rasanya aneh dan kakiku melemas saat merasakan getar itu. Ia lagi-lagi menyihirku. Kapan dia tak berbuat seperti ini padaku? Terperangkap ke dalam sihirnya yang membuatku tak bisa berpikir dengan tenang.
***
Aku sudah tahu. Apakah yang aku rasakan selama ini kepada perempuan berkerudung yang sangat manis itu. Yang selalu membuat mataku berbuat dosa untuk selalu melihatinya. Ya Allah, aku tak bisa menjaga pandanganku padanya.
Suka atau, malah lebih seperti cinta. Ya, aku sudah jatuh cinta pada perempuan yang berkerudung lembut itu. Ia membuatku slaah tingkah dan dengan pipi yang memerah. Astaga. Aku sudah benar-benar jatuh cinta.
Aku baru menyadarinya. Kenapa juga aku baru menyadarinya. Padahal, ia sudah banayk membuat perubahan hari-hariku di sekolah.
Tak tahu harus apa yang aku perbuat. Satu bulan lagi, aku akan lulus. Sudah pasti aku akan berpisah dengan sang wanita yang membuatku tersihir untuk terus menatapnya.
Pusing aku dibuatnya. Bagaimana aku harus bertindak. Ia jelas-jelas adalah seorang muslimah yang taa beragama. Sudah jelas dengan penampilannya dengan krudung yang lebar dan sikpanya yang kalem. Itu yang membuatku jatuh cinta padanya. Aku malu dan takut untuk mengakui, aku suka padanya.
***
Ini-lah hari di mana semua berkumpul ramai-ramai untuk menyelanggarakan acara kelulusan. Di mana banyak yang berjingkrak-jingkrak sangat senang, ada pula yang menangis karena terharu. Semua kejadian akan di tinggalkan dan akan menjadi kenangan. Dan, apakah rasa ini nantinya juga akan menjadi kenangan? Aku mendesah memikirkan itu.
Aku menggigit bibir bawahku sambil memegangi sepucuk surat berwarna biru. Berulangkali aku menggeleng tak percaya diri untuk memberikan surat ini padanya. Astaga. Apa yang akan aku perbuat? Aku bakal malu nantinya jika ia malah meneriakiku atau malah marah padaku atas kelancanagnku.
Surat ini bisa lecek jika terus-terusan kuputar-putar tak jelas dengan mendesah kuat berpikir jelek atas tindakan yang akan aku lakukan. Bagaimana ini?
Jika aku tak menyampaikan perasaan ini, kapan aku akan melepaskannya?
“Hei,” salah satu temanku menepuk bahuku. “Kau tak mau ke sana? Teman-teman saling berebut untuk meminta tanda tangan cewek yang mereka taksir.”
Aku melihatnya dengan dahi berkerut, lalu menghela napas berat, “Sudahlah!”
“Ada apa ini? Kau membawa surat,” ucapnya sambil menunjuk suratku. “Untuk siapa? Atau dari siapa?”
Aku mendesah sebelum mengatakan apa yang akan aku katakana, “Aku ingin memberikannya pada seseorang.”
“Berikanlah! Kenapa masih kau pegang?”
“Aku ragu-ragu memberikannya.”
“Kenapa ragu-ragu?” tanyanya dnegan pertanyaan yang membuatku muak.
Mataku teralihkan. Berganti melihat perempuan itu berjalan di depanku. Berjalan dengan tersenyum pada temannya. Astaga. Ia sangat cantik dan manis. Mataku terus mengekor padanya. Hingga temanku ini menyadari aku telah berbuat hal yang tak semestinya.
“Hei,” panggilnya membuatku tersentak. “Kenapa kau?” ia lalu mengikuti pandanganku yang sekilas-sekilas melihati perempuan itu yang berjalan semakin menjauh. “Zahra?”
Aku tersentak dengan pertanyaannya. “Apa?” dahiku berkerut menyembunyikan rasa yang mulai aneh.
“Ya, Zahra. Kau menyukainya?”
Dengan ragu-ragu, aku mengangguk.
“Surat itu untuknya?” tanyanya kemudian.
Sekali lagi dengan menunduk, aku mengangguk.
“Cepat berikan. Tapi, aku ragu dia bakal menerimamu.”
Aku mendesah, “Aku tak mau balasan darinya. Aku hanya ingin mengutarakan perasaanku. Perasaanku yang membuatku gila. Aku ingin perasaan ini bisa aku bagikan padanya. Aku tak menginginkan balasan. Aku menyukainya tulus, tidak karena balasan semata. Kau ia menyukaiku,” aku tersenyum lalu melihat wajah temanku. Seakan mengartikan sesuatu dari mataku.
“Ya sudah, lekas kau beraksi,!” suruhnya sambil mendorong punggungku.
“Astaga, nanti saja,” erangku.
“Sana. Nanti-nanti tak ada waktu,” ucapnya sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
Ku amati wajah cantik berkerudung itu, ia sedang melambaikan tangannya pada teman-temannya. Jantungku berdebar kuat. Aku menghela napas beberapa kali untuk meyakinkan diriku sendiri.
Aku berjalan menghampiri perempuan cantik bernama Zahra itu. Ia sedang tersenyum sendiri di depan kelasnya yang sudah agak sepi karena semua murid sedang berada di lapangan. Teman-temannya tadi sudah pergi dan berbelok di ujung koridor.
Zahra sedang memperbaiki kerudungnya. Aku tahu, walau ia sedang membelakangiku.
“Permisi,” ucapku hati-hati. Suratku ku genggam erat dan kusembunyikan di balik badan.
Zahra langsung Berbalik. Mungkin ia terkejut atau kenapa. Dan lebih terkejutnya aku. Ia sangt cantik di hadapanku. Mungkin, wajahku sudah memerah saat ini.
“Ya?” tanyanya. Astaga, kenapa wajahnya sangat manis?
Aku sudah mulai salah tingkah. Mulutku juga tak bisa diajak kompromi. “Mmm—“ ucapanku terdengar sangat payah.
“Iya?” tanya Zahra lagi. Aduh, dia membuatku salah tingkah.
Dengan tangan gemetaran hebat, aku memberikan suratku padanya. Aku merasakan keringat sudah membasahi tanganku.
Zahra menerima tanganku sambil menunduk sedikit.
Aku menunduk sembari Zahra membaca surat dariku. JAntungku berdebar-debar menanti kalimat apa yang keluar dari bibirnya yang mungil.
Aku mendongak berusaha melihat wajah Zahra, kini kulihat pipinya merah. Ia memalingkan wajahnya saat aku berusaha menatapnya. Lamat-lamat, kulihat sudut bibir nya tertarik ke atas.
“Zahra,” panggilku pelan padanya.
Zahra langsung menengok melihatku. Sedetik melihatku, wajahnya langsung memerah lalu menunduk menyembunyikan wajahnya.
Wajah Zahra kembali menatapku perlahan. Berusaha melihat wajahku. Aku sudah salah tingkah di hadapannya. “Mmm—“ ucapku ragu. “Zahra, terimakasih.”
Zahra menatapku dengan pandangan bertanya.
“Terimakasih, selama ini kamu sudah membuat aku jatuh cinta padamu. Aku tak berharap kamu membalas perasaanku. Aku hanya ingin mengutarakan perasaanku saja. Terimakasih,” entah dari mana aku bisa berkata seperti itu lancarnya. Selanjutnya, aku berbalik dan melangkah meninggalkan Zahra.
“Tunggu!” suara Zahra membuatku menengok ke belakang.
Zahra agak berlari menghampiriku.
“Kenapa?” tanyaku.
“Aku kan belum berkata apa-apa, Dani.”
Aku memandang wajah Zahra yang putih dan cantik.
“Dani, aku memang tak mau ada hubungan apapun. Seperti pacaran atau apapun itu. Tapi—,“ ucapannya menggantung. Wajah Zahra sedikit tertunduk, “Apakah kau bisa menyimpan cinta itu dan membawa cinta dariku sampai nanti?”
Tak kuasa aku menahan senyuman. Senyuaman yang hangat mengembang di bibirku, “Zahra, aku bisa membawa cintamu dan menyimpan cinta itu. Asalkan kamu juga membawa dan menyimpan cinta dariku.”
Zahra tersenyum. Hingga menampakkan deretan gigi-gigi putihnya.
Aku pun juga tersenyum.
***

Cerita ini hanya dapat kamu lihat di kataastiyulinia.blogspot.com
Jika kamu menemukan cerita serupa di blog lain, berarti dia hanya mengopy tempat saya. Mau yang original kan? Kunjungi kataastiyulinia.blogspot.com selalu. (Berlaku hanya untuk karya Fiksi dan asli tulisan tangan saya. Huahahaha)


0 comments: