Di saat semuanya sedang tertawa
terbahak-bahak membahas sesuatu yang ku anggap sangat tak menguntungkanku, aku
malah memandnag jauh ke sana. Pandanganku hanya tertuju ke sana. Mataku tak
dapat ku belokkan. Begitu melihat wajah yang memesonaku itu.
Jauh di sana. Dia duduk dengan
membaca bukunya. Kerudungnya berkibar-kibar diterpa angin. Seakan semua angin
mengerubuti untuk melihat dan mendekatinya.
Ia tampak tertawa di sela-selanya membaca bukunya. Membuat seulas senyum yang sangat manis. Ku bisa jelas melihatnya dari sini. Ia begitu memukauku. Wajahnya yang manis tak lepas dari pandanganku. Aku ikut tersenyum saat ia tersenyum ceria kepada salah satu teman perempuannya.
Hantu apa yang bisa membuatku
terpaku melihati ciptaan-Nya yang sungguh membuatku terpesona. Mata coklat itu,
kerudung dengan warna lembut itu, senyuman itu, wajah yang cantik itu, mengapa
aku tak bisa menghindari sihir-sihir yang tak sadar membuatku ingin terus
melihatinya.
Ia sedang membeli sesuatu ke
kantin. Aku mengikutinya. Berpura-pura duduk di kursi depan kantin. Ia ternyata
juga duduk di meja sebelahku. Astaga. Ia duduk dengan posisi menghadap padaku.
Aku bisa merasakan jantungku
berdegup keras. Aku bisa melihat wajahnya yang sungguh cantik itu dari dekat.
Ia benar-benar cantik dengan kerudung biru dongker yang menutupi kepalanya. Ia
bahkan begitu sempurna saat mengenakannya.
Ia mengeluarkan buku dari dalam
tasnya. Lagi-lagi buku itu. Aku sangat mengenali buku itu. Ia sangat menggemari
buku itu. Ia selalu membawanya kemana-mana dan ia sellau membcanya tanpa henti.
Oh, mengapa mataku tak bisa
melepas wajahnya yang membuatku salah tingkah di sini? Bahakan, aku sudah
merasakan pipiku memerah. Juga, membuat aku susah menelan roti yang aku makan
ke dalam kerongkonganku. Semua tertahan saat aku memandangi wajah itu.
Perempuan berkerudung itu melirik
ke arahku. Buru-buru aku memalingkan wajahku. Supaya tak berhadapan langsung
dengannya. Itu membuatku salah tingkah dan jantungku berdegup keras.
Berusaha aku menahan diri untuk
tak banyak bergerak dan berusaha untuk bersikap biasa saja. Tapi, rasanya aneh
dan kakiku melemas saat merasakan getar itu. Ia lagi-lagi menyihirku. Kapan dia
tak berbuat seperti ini padaku? Terperangkap ke dalam sihirnya yang membuatku
tak bisa berpikir dengan tenang.
***
Aku sudah tahu. Apakah yang aku
rasakan selama ini kepada perempuan berkerudung yang sangat manis itu. Yang
selalu membuat mataku berbuat dosa untuk selalu melihatinya. Ya Allah, aku tak
bisa menjaga pandanganku padanya.
Suka atau, malah lebih seperti
cinta. Ya, aku sudah jatuh cinta pada perempuan yang berkerudung lembut itu. Ia
membuatku slaah tingkah dan dengan pipi yang memerah. Astaga. Aku sudah
benar-benar jatuh cinta.
Aku baru menyadarinya. Kenapa
juga aku baru menyadarinya. Padahal, ia sudah banayk membuat perubahan hari-hariku
di sekolah.
Tak tahu harus apa yang aku
perbuat. Satu bulan lagi, aku akan lulus. Sudah pasti aku akan berpisah dengan
sang wanita yang membuatku tersihir untuk terus menatapnya.
Pusing aku dibuatnya. Bagaimana
aku harus bertindak. Ia jelas-jelas adalah seorang muslimah yang taa beragama.
Sudah jelas dengan penampilannya dengan krudung yang lebar dan sikpanya yang
kalem. Itu yang membuatku jatuh cinta padanya. Aku malu dan takut untuk
mengakui, aku suka padanya.
***
Ini-lah hari di mana semua
berkumpul ramai-ramai untuk menyelanggarakan acara kelulusan. Di mana banyak
yang berjingkrak-jingkrak sangat senang, ada pula yang menangis karena terharu.
Semua kejadian akan di tinggalkan dan akan menjadi kenangan. Dan, apakah rasa
ini nantinya juga akan menjadi kenangan? Aku mendesah memikirkan itu.
Aku menggigit bibir bawahku
sambil memegangi sepucuk surat berwarna biru. Berulangkali aku menggeleng tak
percaya diri untuk memberikan surat ini padanya. Astaga. Apa yang akan aku
perbuat? Aku bakal malu nantinya jika ia malah meneriakiku atau malah marah
padaku atas kelancanagnku.
Surat ini bisa lecek jika
terus-terusan kuputar-putar tak jelas dengan mendesah kuat berpikir jelek atas
tindakan yang akan aku lakukan. Bagaimana ini?
Jika aku tak menyampaikan
perasaan ini, kapan aku akan melepaskannya?
“Hei,” salah satu temanku menepuk
bahuku. “Kau tak mau ke sana? Teman-teman saling berebut untuk meminta tanda
tangan cewek yang mereka taksir.”
Aku melihatnya dengan dahi
berkerut, lalu menghela napas berat, “Sudahlah!”
“Ada apa ini? Kau membawa surat,”
ucapnya sambil menunjuk suratku. “Untuk siapa? Atau dari siapa?”
Aku mendesah sebelum mengatakan
apa yang akan aku katakana, “Aku ingin memberikannya pada seseorang.”
“Berikanlah! Kenapa masih kau
pegang?”
“Aku ragu-ragu memberikannya.”
“Kenapa ragu-ragu?” tanyanya
dnegan pertanyaan yang membuatku muak.
Mataku teralihkan. Berganti
melihat perempuan itu berjalan di depanku. Berjalan dengan tersenyum pada
temannya. Astaga. Ia sangat cantik dan manis. Mataku terus mengekor padanya.
Hingga temanku ini menyadari aku telah berbuat hal yang tak semestinya.
“Hei,” panggilnya membuatku
tersentak. “Kenapa kau?” ia lalu mengikuti pandanganku yang sekilas-sekilas
melihati perempuan itu yang berjalan semakin menjauh. “Zahra?”
Aku tersentak dengan
pertanyaannya. “Apa?” dahiku berkerut menyembunyikan rasa yang mulai aneh.
“Ya, Zahra. Kau menyukainya?”
Dengan ragu-ragu, aku mengangguk.
“Surat itu untuknya?” tanyanya
kemudian.
Sekali lagi dengan menunduk, aku
mengangguk.
“Cepat berikan. Tapi, aku ragu
dia bakal menerimamu.”
Aku mendesah, “Aku tak mau
balasan darinya. Aku hanya ingin mengutarakan perasaanku. Perasaanku yang
membuatku gila. Aku ingin perasaan ini bisa aku bagikan padanya. Aku tak
menginginkan balasan. Aku menyukainya tulus, tidak karena balasan semata. Kau
ia menyukaiku,” aku tersenyum lalu melihat wajah temanku. Seakan mengartikan
sesuatu dari mataku.
“Ya sudah, lekas kau beraksi,!”
suruhnya sambil mendorong punggungku.
“Astaga, nanti saja,” erangku.
“Sana. Nanti-nanti tak ada
waktu,” ucapnya sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
Ku amati wajah cantik berkerudung
itu, ia sedang melambaikan tangannya pada teman-temannya. Jantungku berdebar
kuat. Aku menghela napas beberapa kali untuk meyakinkan diriku sendiri.
Aku berjalan menghampiri
perempuan cantik bernama Zahra itu. Ia sedang tersenyum sendiri di depan
kelasnya yang sudah agak sepi karena semua murid sedang berada di lapangan.
Teman-temannya tadi sudah pergi dan berbelok di ujung koridor.
Zahra sedang memperbaiki
kerudungnya. Aku tahu, walau ia sedang membelakangiku.
“Permisi,” ucapku hati-hati.
Suratku ku genggam erat dan kusembunyikan di balik badan.
Zahra langsung Berbalik. Mungkin
ia terkejut atau kenapa. Dan lebih terkejutnya aku. Ia sangt cantik di
hadapanku. Mungkin, wajahku sudah memerah saat ini.
“Ya?” tanyanya. Astaga, kenapa
wajahnya sangat manis?
Aku sudah mulai salah tingkah.
Mulutku juga tak bisa diajak kompromi. “Mmm—“ ucapanku terdengar sangat payah.
“Iya?” tanya Zahra lagi. Aduh,
dia membuatku salah tingkah.
Dengan tangan gemetaran hebat,
aku memberikan suratku padanya. Aku merasakan keringat sudah membasahi
tanganku.
Zahra menerima tanganku sambil
menunduk sedikit.
Aku menunduk sembari Zahra
membaca surat dariku. JAntungku berdebar-debar menanti kalimat apa yang keluar
dari bibirnya yang mungil.
Aku mendongak berusaha melihat
wajah Zahra, kini kulihat pipinya merah. Ia memalingkan wajahnya saat aku
berusaha menatapnya. Lamat-lamat, kulihat sudut bibir nya tertarik ke atas.
“Zahra,” panggilku pelan padanya.
Zahra langsung menengok melihatku.
Sedetik melihatku, wajahnya langsung memerah lalu menunduk menyembunyikan
wajahnya.
Wajah Zahra kembali menatapku
perlahan. Berusaha melihat wajahku. Aku sudah salah tingkah di hadapannya.
“Mmm—“ ucapku ragu. “Zahra, terimakasih.”
Zahra menatapku dengan pandangan
bertanya.
“Terimakasih, selama ini kamu
sudah membuat aku jatuh cinta padamu. Aku tak berharap kamu membalas
perasaanku. Aku hanya ingin mengutarakan perasaanku saja. Terimakasih,” entah
dari mana aku bisa berkata seperti itu lancarnya. Selanjutnya, aku berbalik dan
melangkah meninggalkan Zahra.
“Tunggu!” suara Zahra membuatku
menengok ke belakang.
Zahra agak berlari menghampiriku.
“Kenapa?” tanyaku.
“Aku kan belum berkata apa-apa,
Dani.”
Aku memandang wajah Zahra yang
putih dan cantik.
“Dani, aku memang tak mau ada
hubungan apapun. Seperti pacaran atau apapun itu. Tapi—,“ ucapannya
menggantung. Wajah Zahra sedikit tertunduk, “Apakah kau bisa menyimpan cinta
itu dan membawa cinta dariku sampai nanti?”
Tak kuasa aku menahan senyuman.
Senyuaman yang hangat mengembang di bibirku, “Zahra, aku bisa membawa cintamu
dan menyimpan cinta itu. Asalkan kamu juga membawa dan menyimpan cinta dariku.”
Zahra tersenyum. Hingga
menampakkan deretan gigi-gigi putihnya.
Aku pun juga tersenyum.
***
Cerita
ini hanya dapat kamu lihat di kataastiyulinia.blogspot.com
Jika
kamu menemukan cerita serupa di blog lain, berarti dia hanya mengopy tempat
saya. Mau yang original kan? Kunjungi kataastiyulinia.blogspot.com selalu.
(Berlaku hanya untuk karya Fiksi dan asli tulisan tangan saya. Huahahaha)


0 comments:
Post a Comment