Friday, 11 October 2013

Cerpen : Menunggu Datang yang Sudah Pergi

Menunggu Datang yang Sudah Pergi
Semua ini berawal dari ketidak sengajaan. Saat ku bertemu dengan matanya yang fokus itu, dunia serasa hanya milikku dan dia. Hanya dia yang ada di mataku dan di hatiku. Tak ada yang lain. Dulu aku menyangka, itu adalah mimpi. Ternyata itu nyata. Sungguh nyata hingga aku akan meledak.
Apa yang aku pikirkan waktu itu? Hingga aku tak menyadari, dahinya berkerut bingung menatapku. Ini nyata? Aku lama memandangnya. Tak bisa berkedip atau sadar dari mimpi ini. Semua tak nyata, atau nyata?
***
Buku-buku itu harus ku kembalikan ke perpustakaan. Ya, ini tugas dari guru itu. Ahh, jangan begitu. Dia guruku. Guru baikku. Guru yang semangat mengajarku. Walau aku banyak kekurangan. Membuat beliau darah tinggi atau membuat wajahnya penuh dengan kerutan.
Perpustakaan sedang sepi. Maklum, ini masih jam pelajaran. Semua anak sedang mantab-mantabnya belajar. Walau agak pusing juga melihat kelakuan mereka di kelas. Yang hanya mengumbarkan kelucuan dan guyonan. Tak ada semangat-semangatnya untuk belajar. Atau, bisa jadi sedangn ngantuk-ngantuknya dan terpaksa tidur dengan iler yang menempel pada buku. Ihh.
Ku taruh tumpukan buku-buku tebal itu di atas meja depan Bu Ipah, petugas perpustakaan. Bu Ipah sudah biasa dengan kelakuanku. Yang memang agak. Mmm.. gak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Jail. Ups..
Bu Ipah agak lesu hari ini. Ku tawarkan untuk mengambilkannya obat. Tapi, Bu ipah menolak. Ya sudah, aku segera kembali ke ruang kelasku.
Adegan ini terjadi. Aww.. sakitnya lenganku.
Aku baru saja bertabrakan dengan seseorang. Yang kuyakin pasti, tulangnya terbuat dari besi. Keras sekali. Jika aku masuk rumah sakit bagaimana? Kalau orang tadi sih, kalau sakit, ya tinggal pergi ke tukang las. Jadi.
“Sakit tau,” sumpah serampah sudah aku keluarkan dari mulutku.
Ada  uluran tangan seseorang yang siap menolongku. Aku tepis uluran tangan itu. “Jangan sok baik,” ucapku ketus.
Dengan kaki yang agak sakit dan lengan yang agak memar, aku paksakan untuk berdiri. Lalu, ku lihat wajah orang yang menabrakku. Aku terpengarah. Mulutku terbuka lebar karena kaget. Aku menutp mulutku dan berusaha lari dari hadapan orang itu. Walau enggak bisa lari karena kakiku sedikt sakit karena jatuh tadi.
“Hey, tunggu Lisa,” panggil orang itu dari belakang. Berusaha mengejarku.
Apa daya. Karena kakiku yang sakit, aku tak bisa berlari lebih cepat. Orang itu sudah memgang erat pergelangan tanganku. Sudah berada di hadapanku.
Mataku terpejam saking takutnya. Aku takut dengan orang di hadapanku ini. Takut akan kata-katanya dan kelakuannya. Apa yang akan ia lakukan terhadapku sekarang?
“Ray, tolong lepaskan tanganku,” ucapku berusaha melepas genggamannya yang erat memegangi pergelangan tanganku.
“Kenapa kau lari?” tanyanya dingin.
Aku menatapnya bingung.
Ia berbalik dan menarik tanganku. Aku terkejut. Kaki yang masih terasa sakit, tak bisa ku gerakkan lagi. Sakit sekali. Sekarang pergelangan tanganku yang sakit karena tangan Ray yang terlalu kuat memegang tanganku. “Kau harus ke UKS,” ucapnya kasar tetap menarikku.
Kakiku yang sudah tak kuat lgi, berhenti tak melangkah. Aku tak kuat. Ray terlalu memaksaku. “Ray, jangan,” teriakku di belakangnya yang sudah terkulai lemas di atas lantai dan terpaksa menyapu lantai dengan rokku.
Ray menengok ke belakang. Matanya menatapku khawatir. Aku terngah-engah. Dan sepertinya ingin sekali pingsan. Aku tak kuat berdiri lagi.
Ray medesah. Dan dengan cepat membopongku. “Aaaa,” jeritku. “turunkan aku!” teriakku.
“Diamlah, anak kecil,” Ray dengan cepat membopongku menuju UKS.
Ia membaringkanku ke atas ranjang putih UKS. Bibirku bergemeletukan menahan sakit. Kaki terasa nyeri. Apakah kesleo? Ahh, mungkin iya. Sakit sekali.
Ray membuka sepatuku. Aku memandangnya pasrah. Mau bagaimana lagi? Aku tak bisa berlari kali ini. Aku tak bisa berlari dari orang yang sudah mengkhianatiku.
Aku mendesah kuat. “Aaaa,” jeritku tiba-tiba. Aku merasakan kakiku di pencet sangat keras. Serasa seperti di tendang sepuluh orang.
“Diamlah,” Ray berbicara dingin. Aku menatapnya sengit.
“Hey, sakit tahu.”
“Aku tahu. Kakimu hanya keseleo,” katanya tenang. Ia lalu mengambil sesuatu dari lemari UKS.
Aku menatpnya tak percaya. “Hanya kesleo? Kau pikir kesleo enak?”
“Nikmati saja,” bicaranya masih dingin. Dingin sekali. Bahkan jika dinginnya di taruh di bawah garis katulistiwa, tak akan meleleh.
Aku mendengus kelas dan membiasrkan diriku tidur di atas ranjang. aku merasa ngantuk. Dasar. Orang jahat memang selamanya jahat ya?
***
Mataku terbuka. Ruangan yanga masih sama. Bau alkohol tercium. Membuatku serasa ingin muntah. Baunya menyengat. Hidungku terasa gatal karena terus mencium bau yang tidak mengenakkan itu.
Kakiku masih terasa senyeri. Tapi, kuaraskan ada yang berbeda dengan kakiku. Kakiku seperti dibalut. Dibalut kain atau apalah. atau perban? Aku tak begitu tahu.
Aku mencoba mengedarkan pandanganku. Dan bertemu dengan sosok itu. Ia sedang berdiri memunggungiku. Ia sedang melakukan sesuatu.
Kucoba bangun supaya ku bisa melihat keadaan kakiku. Huh benar. Sudah di balut perban.
“Kau sudah bangun?” Tanya orang itu. Membuatku kaget. Ia mendekatiku. “Kau sudah tertidur selama satu jam kurang.”
“Apa?” teriakku.
“Tidak usah teriak,” getaknya.
Aku merengut sambil memperhatikan kakiku.
“Nanti akan aku antar pulang. Tenang saja.”
Aku melirik Ray. Memadanginya dengan sengit dan marah.
“Lagipula, semua ini terjadi karena aku menabrak kamu bukan?” ia tersenyum. Bisa-bisanya ia tersenyum begini. Pasti ada apa-apanya.
“Tidak usah,” jawabku ketus.
Ray menghela napas. Ia duduk di sampingku. “Kenapa kau begini?”
Aku melirik Ray bingung.
“Kenapa kau selalu tak mempercayaiku?” tanyanya lagi.
Aku menelan ludah. “Maksudmu apa?”
Ray menunduk. Lalu melihat wajahku dan medesah, “Kau tak ingat? Kau benar-benar lupa dengan masa lalumu. Cepat sekali kau melupakannya.”
Aku menggeram, “Kau tahu kenapa? Kau sangat jahat. Jahat sekali. Tega-teganya kau berbuat itu,” aku mulai mengeluarkan emosiku. “aku sangat merana. Aku tak tahu hal apa yang harus aku lakukan. Kau menghianatiku bukan? Menusukku dari belakang,” ucapku kasar sambil melihat wajahnya.
“Kau salah paham. Aku tak melakukan apapun waktu itu.”
“Salah paham? Aku melihatnya dengan mataku sendiri,” air mataku mulai keluar dari pelupuk mataku. “Kau sedang bersamanya. Kau sedang bersama perempuan itu. Kalian bermesraan. Bahkan waktu itu, kau tak menyadari aku sedang berdiri di sana sedang menatap kamu dengan perempuan itu. kalian—“ aku terisak.
“Bukan. Kau salah paham.”
“Salah paham? Kau bahkan tak mengerti perasaanku. Kau tak memikirkan aku. Bagaimana sakitnya aku waktu itu,” air mataku meleleh. “bahkan, walaupun aku sudah sekuat tenaga melupakan cintamu, aku masih mencintaimu, teramat dalam mencintaimu.”
Ray menatapku. Ia merengkuhku. Dalam pelukannya aku menangis. Menangis tiada henti. Aku ingin melepaskan pellukan dari lak-laki ini. Tapi, entah bagaimana, aku tak punya tenaga untuk memberontak sekarang.
“Kau salah liat, Lisa. Aku dan Anggi, waktu itu kami hanya kebetulan ketemu di kafe itu. Kami cipika-cipiki biasa aja. Di teman lamaku.”
Aku masih menangis di pelukan Ray, “Kau bohong. Kalian terlalu mesra jika hanya melakukan hal itu.”
Ray mendesah keras, “Tidak. Kau yang tak mempercayaiku. Kenapa kau seperti menghilang tiba-tiba. Aku tak selalu melihatmu yang sebenarnya. Kau seperti orang lain di sekolah ini. Kau tak membalas sapaanku. Kau tak membalas sms atau mengangkat telponku. Kau benar-benar menghilang dari dirimu.”
“Kau begitu memperhatikanku?” tanyaku.
“Ya. Aku begitu memperhatikanmu yang bukan dirimu.”
Aku tersenyum masam, “Kau tak perlu lagi memperhatikanku. Jangan terlalu berharap untuk mendapatku kembali. Sebentar lagi, kita sudah lulus bukan. Tinggal beberapa bulan lagi,” aku mengusap air mataku. “Setelah lulus, aku juga tak akan bertemu denganmu. Kita impas. Aku tak akan mengingat cintamu kembali. Yang dulu. Yang membuatku sakit, Ray. Sudahlah.”
Ray menatapku, “Jangan. Kumohon, kembalilah padaku.”
Aku menggeleng, “Aku akan melanjutkan sekolahku di Paris.”
“Kau akan meninggalkan Indonesia dan pergi ke Prancis?”
Ya.
***
Empat tahun berlalu..
Hari-hariku di Paris cukup menyenangkan. Karena aku bisa tinggal berasama Ayah dan Ibu. Hidup mereka di habiskan untuk mengurusi butik, rancangan busana, dan pagelaran busana. Itulah hidup mereka. Hidupku juga akan seperti mereka sebentar lagi. Sekolahku masih satu tahun lagi. Sesudah itu, aku bisa membantu Ibu dan Ayah merancang busana yang berbeda dan unik.
Di sini, banyak sekali hal yang aku lakukan. Positif tentunya. Bertemu dengan orang-orang baru yang cukup membuatku tersenyum dalam gelak tawa. Kadang, bertemu dengan orang Prancis yang super romantis. Membuatku gemas dan ingin cepat-cepat berlari.
Berlari? Aku menggigit bibir saat memikirkan satu kata itu. Berlari dari kenyataan. Dan, berlari dari cintaku. Cintanya.
***
Saat ku bertemu dengan matanya yang fokus itu, dunia serasa hanya milikku dan dia. Hanya dia yang ada di mataku dan di hatiku. Tak ada yang lain. Dulu aku menyangka, itu adalah mimpi. Ternyata itu nyata. Sungguh nyata hingga aku akan meledak.
Apa yang aku pikirkan waktu itu? Hingga aku tak menyadari, dahinya berkerut bingung menatapku. Ini nyata? Aku lama memandangnya. Tak bisa berkedip atau sadar dari mimpi ini. Semua tak nyata, atau nyata?
Pikiran itu. Aku ingat. Ingat sekali. Di saat aku, pertama kali melihatnya. Melihat mata yang fokus itu. Melihat urat wajahnya yang tampan itu. Atau melihat senyumannya yang memesonaku itu. cukup nyata waktu itu. Cukup nyata. Bisa dan sangat mampu kurasakan. Dullu.
Dulu, saat bertemu dengannya, dunia serasa hanya milik berdua. Tapi, sekarang apa? Aku merasakan masih sama. Saat aku kembali menyaksikan mata itu. Senyuman yang mampu membuatku tak berkedip. Wajah yang tampan yang membuatku terbengong. Mengamati ciptaan-Nya yang sempurna.
Ia menatapku. Bukan seperti dulu. Dulu, ia mengerutkan kening bingung melihatku. Sekarang, ia tersenyum penuh arti melihatku. Arti itu, bisa aku telaah. Ia mendatangiku, yang seharusnya sudah pergi darinya.
Ia mendekat. Aku hanya diam. Masih melihatnya tak percaya. Aku bermimpi?
Aku tak bermimpi. Nyatanya, tangan-tangan yang kekar itu masih sama. Sama manisnya dan sama rupanya, ketika tangan-tangan itu merengkuhku dan seakan melindungiku ke dalam pelukan hangatnya. Hangat sekali. Ia mendekapku erat. Seakan, ia tak mau melepasku kembali.
Apakah cinta yang selama ini aku tinggalkan, masih mengikutiku?
Apakah ini cinta? Cinta? Aku masih mencintai laki-laki ini?
Nyatanya, aku tak ingin melepaskan pelukan laki-laki ini. Aku ingin terus berada dalam dekapannya yang hangat. Yang mampu melindungiku dari segala bahaya. Dan mampu melewati rintangan segala rintangan bersamaku.
***
“Bagaimana kau bisa di sini?”
“Kau harus tanya itu?” ia tersenyum padaku. Ia mempererat genggaman tangannnya pada tanganku.
Aku diam dan menunduk. Apakah selama ini aku rindu padanya? Terkadang, hatiku merasa resah jika aku sedang emosi. Entah, emosi apa yang aku keluarkan. Tanpa hal yang jelas, aku bisa menangis sendiri. Entah apa yang aku pikirkan bisa menangis sendiri. Apa karena hatiku yang tidak bisa tenang karna tidak bersama orang di dekatku ini? dan saat aku di dekatnya, hatiku tenang. Menghangat. Di dekatnya, aku merasa nyaman dan aman.
“Maafkan aku,” ucapnya pelan. Ia meringis lalu memandang wajahku, “aku sudah membuatmu tak percaya padaku.”
Aku menatapnya dengan dahi berkerut. Lalu tersenyum, “Tidak, seharusnya aku yang minta maaf. Aku sudah tak percaya padamu.”
“Kembalilah padaku, Lisa. Aku sesak tanpamu. Aku rindu padamu. Aku sangat-sangat mencintaimu,” ia kini memegang kedua tanganku.
“Ray, aku kini juga sadar setelah aku jauh darimu. Aku tahu, dulu kau pasti tak akan melkukan itu. Maksudku, dalam pikiranku dan pikiranku berbeda. Aku hanya egois. Mementingkan diriku sendiri,” aku terdiam sejenak. “Tapi, setelah aku jauh darimu, aku baru mulai sadar. Aku amat merindukanmu. Dan—“ ucapanku terputus.
“Dan apa?”
Aku menundukkan kepalaku. Menyembunyikan wajahku yang mulai memerah, “Aku mencintaimu.”
Ray menyentuh daguku. Ia menegakkan wajahku agar ia bisa melihatku. Ia tersenyum lalu memeluk tubuhku erat.
***
Asti Yulinia-8F/05 = kataastiyulinia.blogspot.com

1 comments:

Anonymous said...

Bagus cuuyy.. Tetap berkarya ya. :D