Menunggu Datang yang Sudah Pergi
Semua ini berawal dari ketidak
sengajaan. Saat ku bertemu dengan matanya yang fokus itu, dunia serasa hanya
milikku dan dia. Hanya dia yang ada di mataku dan di hatiku. Tak ada yang lain.
Dulu aku menyangka, itu adalah mimpi. Ternyata itu nyata. Sungguh nyata hingga
aku akan meledak.
Apa yang aku pikirkan waktu itu?
Hingga aku tak menyadari, dahinya berkerut bingung menatapku. Ini nyata? Aku
lama memandangnya. Tak bisa berkedip atau sadar dari mimpi ini. Semua tak
nyata, atau nyata?
Buku-buku itu harus ku kembalikan ke
perpustakaan. Ya, ini tugas dari guru itu. Ahh, jangan begitu. Dia guruku. Guru
baikku. Guru yang semangat mengajarku. Walau aku banyak kekurangan. Membuat
beliau darah tinggi atau membuat wajahnya penuh dengan kerutan.
Perpustakaan sedang sepi. Maklum,
ini masih jam pelajaran. Semua anak sedang mantab-mantabnya belajar. Walau agak
pusing juga melihat kelakuan mereka di kelas. Yang hanya mengumbarkan kelucuan
dan guyonan. Tak ada semangat-semangatnya untuk belajar. Atau, bisa jadi
sedangn ngantuk-ngantuknya dan terpaksa tidur dengan iler yang menempel pada
buku. Ihh.
Ku taruh tumpukan buku-buku tebal
itu di atas meja depan Bu Ipah, petugas perpustakaan. Bu Ipah sudah biasa
dengan kelakuanku. Yang memang agak. Mmm.. gak bisa dijelaskan dengan
kata-kata. Jail. Ups..
Bu Ipah agak lesu hari ini. Ku
tawarkan untuk mengambilkannya obat. Tapi, Bu ipah menolak. Ya sudah, aku
segera kembali ke ruang kelasku.
Adegan ini terjadi. Aww.. sakitnya
lenganku.
Aku baru saja bertabrakan dengan
seseorang. Yang kuyakin pasti, tulangnya terbuat dari besi. Keras sekali. Jika
aku masuk rumah sakit bagaimana? Kalau orang tadi sih, kalau sakit, ya tinggal
pergi ke tukang las. Jadi.
“Sakit tau,” sumpah serampah sudah
aku keluarkan dari mulutku.
Ada
uluran tangan seseorang yang siap menolongku. Aku tepis uluran tangan
itu. “Jangan sok baik,” ucapku ketus.
Dengan kaki yang agak sakit dan
lengan yang agak memar, aku paksakan untuk berdiri. Lalu, ku lihat wajah orang
yang menabrakku. Aku terpengarah. Mulutku terbuka lebar karena kaget. Aku
menutp mulutku dan berusaha lari dari hadapan orang itu. Walau enggak bisa lari
karena kakiku sedikt sakit karena jatuh tadi.
“Hey, tunggu Lisa,” panggil orang
itu dari belakang. Berusaha mengejarku.
Apa daya. Karena kakiku yang sakit,
aku tak bisa berlari lebih cepat. Orang itu sudah memgang erat pergelangan
tanganku. Sudah berada di hadapanku.
Mataku terpejam saking takutnya. Aku
takut dengan orang di hadapanku ini. Takut akan kata-katanya dan kelakuannya.
Apa yang akan ia lakukan terhadapku sekarang?
“Ray, tolong lepaskan tanganku,”
ucapku berusaha melepas genggamannya yang erat memegangi pergelangan tanganku.
“Kenapa kau lari?” tanyanya dingin.
Aku menatapnya bingung.
Ia berbalik dan menarik tanganku.
Aku terkejut. Kaki yang masih terasa sakit, tak bisa ku gerakkan lagi. Sakit
sekali. Sekarang pergelangan tanganku yang sakit karena tangan Ray yang terlalu
kuat memegang tanganku. “Kau harus ke UKS,” ucapnya kasar tetap menarikku.
Kakiku yang sudah tak kuat lgi,
berhenti tak melangkah. Aku tak kuat. Ray terlalu memaksaku. “Ray, jangan,”
teriakku di belakangnya yang sudah terkulai lemas di atas lantai dan terpaksa
menyapu lantai dengan rokku.
Ray menengok ke belakang. Matanya
menatapku khawatir. Aku terngah-engah. Dan sepertinya ingin sekali pingsan. Aku
tak kuat berdiri lagi.
Ray medesah. Dan dengan cepat
membopongku. “Aaaa,” jeritku. “turunkan aku!” teriakku.
“Diamlah, anak kecil,” Ray dengan
cepat membopongku menuju UKS.
Ia membaringkanku ke atas ranjang
putih UKS. Bibirku bergemeletukan menahan sakit. Kaki terasa nyeri. Apakah
kesleo? Ahh, mungkin iya. Sakit sekali.
Ray membuka sepatuku. Aku
memandangnya pasrah. Mau bagaimana lagi? Aku tak bisa berlari kali ini. Aku tak
bisa berlari dari orang yang sudah mengkhianatiku.
Aku mendesah kuat. “Aaaa,” jeritku
tiba-tiba. Aku merasakan kakiku di pencet sangat keras. Serasa seperti di
tendang sepuluh orang.
“Diamlah,” Ray berbicara dingin. Aku
menatapnya sengit.
“Hey, sakit tahu.”
“Aku tahu. Kakimu hanya keseleo,”
katanya tenang. Ia lalu mengambil sesuatu dari lemari UKS.
Aku menatpnya tak percaya. “Hanya
kesleo? Kau pikir kesleo enak?”
“Nikmati saja,” bicaranya masih
dingin. Dingin sekali. Bahkan jika dinginnya di taruh di bawah garis
katulistiwa, tak akan meleleh.
Aku mendengus kelas dan membiasrkan
diriku tidur di atas ranjang. aku merasa ngantuk. Dasar. Orang jahat memang
selamanya jahat ya?
***
Mataku terbuka. Ruangan yanga masih
sama. Bau alkohol tercium. Membuatku serasa ingin muntah. Baunya menyengat.
Hidungku terasa gatal karena terus mencium bau yang tidak mengenakkan itu.
Kakiku masih terasa senyeri. Tapi,
kuaraskan ada yang berbeda dengan kakiku. Kakiku seperti dibalut. Dibalut kain
atau apalah. atau perban? Aku tak begitu tahu.
Aku mencoba mengedarkan pandanganku.
Dan bertemu dengan sosok itu. Ia sedang berdiri memunggungiku. Ia sedang
melakukan sesuatu.
Kucoba bangun supaya ku bisa melihat
keadaan kakiku. Huh benar. Sudah di balut perban.
“Kau sudah bangun?” Tanya orang itu.
Membuatku kaget. Ia mendekatiku. “Kau sudah tertidur selama satu jam kurang.”
“Apa?” teriakku.
“Tidak usah teriak,” getaknya.
Aku merengut sambil memperhatikan
kakiku.
“Nanti akan aku antar pulang. Tenang
saja.”
Aku melirik Ray. Memadanginya dengan
sengit dan marah.
“Lagipula, semua ini terjadi karena
aku menabrak kamu bukan?” ia tersenyum. Bisa-bisanya ia tersenyum begini. Pasti
ada apa-apanya.
“Tidak usah,” jawabku ketus.
Ray menghela napas. Ia duduk di
sampingku. “Kenapa kau begini?”
Aku melirik Ray bingung.
“Kenapa kau selalu tak
mempercayaiku?” tanyanya lagi.
Aku menelan ludah. “Maksudmu apa?”
Ray menunduk. Lalu melihat wajahku
dan medesah, “Kau tak ingat? Kau benar-benar lupa dengan masa lalumu. Cepat
sekali kau melupakannya.”
Aku menggeram, “Kau tahu kenapa? Kau
sangat jahat. Jahat sekali. Tega-teganya kau berbuat itu,” aku mulai
mengeluarkan emosiku. “aku sangat merana. Aku tak tahu hal apa yang harus aku
lakukan. Kau menghianatiku bukan? Menusukku dari belakang,” ucapku kasar sambil
melihat wajahnya.
“Kau salah paham. Aku tak melakukan
apapun waktu itu.”
“Salah paham? Aku melihatnya dengan
mataku sendiri,” air mataku mulai keluar dari pelupuk mataku. “Kau sedang
bersamanya. Kau sedang bersama perempuan itu. Kalian bermesraan. Bahkan waktu
itu, kau tak menyadari aku sedang berdiri di sana sedang menatap kamu dengan
perempuan itu. kalian—“ aku terisak.
“Bukan. Kau salah paham.”
“Salah paham? Kau bahkan tak
mengerti perasaanku. Kau tak memikirkan aku. Bagaimana sakitnya aku waktu itu,”
air mataku meleleh. “bahkan, walaupun aku sudah sekuat tenaga melupakan
cintamu, aku masih mencintaimu, teramat dalam mencintaimu.”
Ray menatapku. Ia merengkuhku. Dalam
pelukannya aku menangis. Menangis tiada henti. Aku ingin melepaskan pellukan
dari lak-laki ini. Tapi, entah bagaimana, aku tak punya tenaga untuk
memberontak sekarang.
“Kau salah liat, Lisa. Aku dan
Anggi, waktu itu kami hanya kebetulan ketemu di kafe itu. Kami cipika-cipiki
biasa aja. Di teman lamaku.”
Aku masih menangis di pelukan Ray,
“Kau bohong. Kalian terlalu mesra jika hanya melakukan hal itu.”
Ray mendesah keras, “Tidak. Kau yang
tak mempercayaiku. Kenapa kau seperti menghilang tiba-tiba. Aku tak selalu
melihatmu yang sebenarnya. Kau seperti orang lain di sekolah ini. Kau tak
membalas sapaanku. Kau tak membalas sms atau mengangkat telponku. Kau
benar-benar menghilang dari dirimu.”
“Kau begitu memperhatikanku?”
tanyaku.
“Ya. Aku begitu memperhatikanmu yang
bukan dirimu.”
Aku tersenyum masam, “Kau tak perlu
lagi memperhatikanku. Jangan terlalu berharap untuk mendapatku kembali.
Sebentar lagi, kita sudah lulus bukan. Tinggal beberapa bulan lagi,” aku
mengusap air mataku. “Setelah lulus, aku juga tak akan bertemu denganmu. Kita
impas. Aku tak akan mengingat cintamu kembali. Yang dulu. Yang membuatku sakit,
Ray. Sudahlah.”
Ray menatapku, “Jangan. Kumohon,
kembalilah padaku.”
Aku menggeleng, “Aku akan
melanjutkan sekolahku di Paris.”
“Kau akan meninggalkan Indonesia dan
pergi ke Prancis?”
Ya.
***
Empat tahun berlalu..
Hari-hariku di Paris cukup
menyenangkan. Karena aku bisa tinggal berasama Ayah dan Ibu. Hidup mereka di
habiskan untuk mengurusi butik, rancangan busana, dan pagelaran busana. Itulah
hidup mereka. Hidupku juga akan seperti mereka sebentar lagi. Sekolahku masih
satu tahun lagi. Sesudah itu, aku bisa membantu Ibu dan Ayah merancang busana
yang berbeda dan unik.
Di sini, banyak sekali hal yang aku
lakukan. Positif tentunya. Bertemu dengan orang-orang baru yang cukup membuatku
tersenyum dalam gelak tawa. Kadang, bertemu dengan orang Prancis yang super
romantis. Membuatku gemas dan ingin cepat-cepat berlari.
Berlari? Aku menggigit bibir saat
memikirkan satu kata itu. Berlari dari kenyataan. Dan, berlari dari cintaku.
Cintanya.
***
Saat
ku bertemu dengan matanya yang fokus itu, dunia serasa hanya milikku dan dia.
Hanya dia yang ada di mataku dan di hatiku. Tak ada yang lain. Dulu aku
menyangka, itu adalah mimpi. Ternyata itu nyata. Sungguh nyata hingga aku akan
meledak.
Apa
yang aku pikirkan waktu itu? Hingga aku tak menyadari, dahinya berkerut bingung
menatapku. Ini nyata? Aku lama memandangnya. Tak bisa berkedip atau sadar dari
mimpi ini. Semua tak nyata, atau nyata?
Pikiran itu. Aku ingat. Ingat
sekali. Di saat aku, pertama kali melihatnya. Melihat mata yang fokus itu.
Melihat urat wajahnya yang tampan itu. Atau melihat senyumannya yang memesonaku
itu. cukup nyata waktu itu. Cukup nyata. Bisa dan sangat mampu kurasakan.
Dullu.
Dulu, saat bertemu dengannya, dunia
serasa hanya milik berdua. Tapi, sekarang apa? Aku merasakan masih sama. Saat
aku kembali menyaksikan mata itu. Senyuman yang mampu membuatku tak berkedip.
Wajah yang tampan yang membuatku terbengong. Mengamati ciptaan-Nya yang
sempurna.
Ia menatapku. Bukan seperti dulu.
Dulu, ia mengerutkan kening bingung melihatku. Sekarang, ia tersenyum penuh
arti melihatku. Arti itu, bisa aku telaah. Ia mendatangiku, yang seharusnya
sudah pergi darinya.
Ia mendekat. Aku hanya diam. Masih
melihatnya tak percaya. Aku bermimpi?
Aku tak bermimpi. Nyatanya,
tangan-tangan yang kekar itu masih sama. Sama manisnya dan sama rupanya, ketika
tangan-tangan itu merengkuhku dan seakan melindungiku ke dalam pelukan
hangatnya. Hangat sekali. Ia mendekapku erat. Seakan, ia tak mau melepasku
kembali.
Apakah cinta yang selama ini aku
tinggalkan, masih mengikutiku?
Apakah ini cinta? Cinta? Aku masih mencintai
laki-laki ini?
Nyatanya, aku tak ingin melepaskan
pelukan laki-laki ini. Aku ingin terus berada dalam dekapannya yang hangat.
Yang mampu melindungiku dari segala bahaya. Dan mampu melewati rintangan segala
rintangan bersamaku.
***
“Bagaimana kau bisa di sini?”
“Kau harus tanya itu?” ia tersenyum
padaku. Ia mempererat genggaman tangannnya pada tanganku.
Aku diam dan menunduk. Apakah selama
ini aku rindu padanya? Terkadang, hatiku merasa resah jika aku sedang emosi.
Entah, emosi apa yang aku keluarkan. Tanpa hal yang jelas, aku bisa menangis
sendiri. Entah apa yang aku pikirkan bisa menangis sendiri. Apa karena hatiku
yang tidak bisa tenang karna tidak bersama orang di dekatku ini? dan saat aku
di dekatnya, hatiku tenang. Menghangat. Di dekatnya, aku merasa nyaman dan
aman.
“Maafkan aku,” ucapnya pelan. Ia
meringis lalu memandang wajahku, “aku sudah membuatmu tak percaya padaku.”
Aku menatapnya dengan dahi berkerut.
Lalu tersenyum, “Tidak, seharusnya aku yang minta maaf. Aku sudah tak percaya
padamu.”
“Kembalilah padaku, Lisa. Aku sesak
tanpamu. Aku rindu padamu. Aku sangat-sangat mencintaimu,” ia kini memegang
kedua tanganku.
“Ray, aku kini juga sadar setelah
aku jauh darimu. Aku tahu, dulu kau pasti tak akan melkukan itu. Maksudku,
dalam pikiranku dan pikiranku berbeda. Aku hanya egois. Mementingkan diriku
sendiri,” aku terdiam sejenak. “Tapi, setelah aku jauh darimu, aku baru mulai
sadar. Aku amat merindukanmu. Dan—“ ucapanku terputus.
“Dan apa?”
Aku menundukkan kepalaku.
Menyembunyikan wajahku yang mulai memerah, “Aku mencintaimu.”
Ray menyentuh daguku. Ia menegakkan
wajahku agar ia bisa melihatku. Ia tersenyum lalu memeluk tubuhku erat.
***
Asti Yulinia-8F/05 = kataastiyulinia.blogspot.com

1 comments:
Bagus cuuyy.. Tetap berkarya ya. :D
Post a Comment