Cintaku Terlalu Sulit
Terpaksa, aku harus jalan kaki.
Pulang sekolah, ban sepedaku bocor. Terpaksa, aku harus meninggalkannnya di
bengkel.
Panas, capek. Huh. Apalagi, cuma
sendiri. Tambah capek.
“Hei,” seseorang aku dengar dari
belakangku. Aku kaget setangah mati. Aku langsung mengenali suara tersebut.
Dengan cepat aku menoleh ke
belakang. Ternyata benar. “Iya?” tanyaku dengan alis terangkat.
Orang itu lalu berhenti di
sampingku. Dengan masih menunggangi sepedanya. Sungguh, jantungku serasa mau
copot. “Ayo, naik.”
“Apa?” tanyaku serileks mungkin.
Sungguh, aku tak bisa mengatur jantungku yang dari tadi dag-dig-dug tak karuan.
“Cepat. Kalau enggak, aku tinggal
nih,” katanya.
“Beneran?”
“Bener. Cepetan.”
Tanpa dikmando lagi, aku naik
pada sepedanya di belakangnya. Sungguh, ini serasa seperti mimpi. Bisa-bisa,
kalau seperti ini, sepanjang hari, mukaku selalu merah.
“Ngomong-ngomong, kenapa dengan
sepedamu?” tanyanya tiba-tiba memecah lamunanku.
“Sepedaku, bannya bocor.”
“Ohh.”
“Oh iya, Dan. Anterin aku sampai
rumah ya. Hehehe.” Candaku agar suasana tak tampak tegang.
“Siap-siap.”
Astaga,
Dani mau nganter aku sampai rumah? Mimpi apa aku semalam.
“Udah, stop.” Kataku ketika tepat
sampai di depan rumahku.
“Disini rumahmu?”
“Yes. Mau mampir?”
“Enggak usah. Aku mau langsung
pulang aja. Bye,” katanya sambil
melambaikan tangan dan pergi menjauh dariku.
Aku meloncat-loncat kegirangan
seperti orang gila di depan rumah. Cepat-cepat aku berlari masuk rumah dan
lekas masuk kamarku.
“Kamu kesurupan, Sa?” tanya Kak
Na dari bawah.
“Enggak, Kak,” jawabku.
Aku masih tak mempercayai hal
ini. Dani. Orang yang ganteng, tinggi, putih. Pujaan perempuan di sekolah.
Bisa-bisanya dia megantarku pulang. Sungguh, aku masih tak mempercayai hal ini.
Bagaimana ini bisa terjadi?
Kembali lagi aku melonjak
kegirangan. Dan kali ini, aku meneruskannya dengan mengambrukkan badanku ke
atas kasur empukku.
Aku sudah suka banget sama si Dani, sejak
beberapa bulan yang lalu. Pertamanya, aku selalu bingung. Ada apa gitu, kalau
sehari aja aku enggak ketemu sama dia. Rasanya kurang banget. apalagi, Dani itu
banyak baget yang suka. Jadi, kemungkinan aku pacaran dengan dia, hanya 0.2%
mungkin.
***
Pagi ini, alias hari ini, begitu
aku memasuki gerbang, rasanya seneng banget. Rasanya seneng aja. Mungkin juga,
karena kemarin.
Aku masih senyum-senyum sendiri
melewati koridor demi koridor. Sekolah juga masih sepi. Jadinya, aku tak perlu
malu senyum-senyum sendiri.
“Hei, kamu,” suara sinis seorang
perempuan mengusikku dari belakang.
Aku lalu menoleh ke arah suara,
di belakangku.
“Iya, kamu,” kata orang itu lagi.
Orang itu, perlahan maju dan mendekat ke arahku.
Aku hanya menunduk.
“Kamu ngapain kemarin deket-deket
sama Dani, Haa?” tanyanya kasar sambil mendorong bahuku.
Aku lalu mendongak menatap wajah
garang tersebut. “Dia hanya mengantarku pulang. Itu saja,” jawabku.
“Apa? Berani-beraninya kamu menyuruh
Dani untuk mengantar kamu pulang?” matanya melotot menatap diriku lekat.
“Bukan ak…” belum sempat aku
mengakhiri kalimatku, sebuah tamparan mulus sudah mendarat di pipiku.
Aku menyentuh pipiku yang terasa
panas. Aku tak dapat berbuat apa-apa. Aku hanya membalas orang itu dengan
pelototanku.
Namun, belum sempat aku membalas
orang itu, sudah ada seseorang yang tiba-tiba saja sudah menyembunyikanku di
balik punggungnya. Dan aku masih terasa sesak dengan tamparan mulus itu.
“Apa-apaan kau ini, Lydia?” suara
Dani terdengar menyentak pada orang itu.
“A.. Aku hanya…,” terdengar lirih dan tergagap jawaban perempuan itu.
“Sudahlah. Aku tahu apa yang kamu
perbuat terhadapnya,” jantungku merasa kembali berlomba. “Dan dengar. Kemarin
itu, aku memang menghantarnya karena kemuanku sendiri.”
Aku menatap Dani. Namun, dengan
cepat, Dani menarik tanganku.
***
“Lihat, pipimu memar,” kata Dani
sambil mengusap pipiku dengan tangannya.
“Tidak apa-apa. Aku bisa
mengurusnya sendiri,” kataku sambil menurunkan tangan Dani dari wajahku.
“Tapi, kau mendapatkan memar ini
karena aku,” balas Dani.
“Sudahlah. Lupakan saja,” kataku
sambil tersenyum.
Aku lalu masuk ke dalam kelasku
untuk menaruh tas dan menghindari Dani. Kelas juga masih sepi. Hanya ada
beberapa tas di atas meja. Namun, sama sekali tak ada orang di kelas.
“Tunggu, Sasa,” suara Dani
kembali terdengar dari belakangku. “Maaf.”
Aku lalu menoleh ke belakang,
“Untuk apa?” tanyaku sambil mengerutkan dahi.
“Yang tadi.”
“Sudah ku katakan bukan. Lupakan
saja,” sungguh, aku ingin sekali mengungkapkan perasaanku pada Dani. Dan
suruhan itu makin mendesak dalam hatiku.
“Sasa, aku ingin mengatakan
sesuatu padamu,” kata Dani tiba-tiba. Dan itu membuat jantungku berdetak
semakin keras. Aku berharap suara itu tak sampai terdengar sampai telinga Dani.
“Apa itu?”
“Kau mungkin, mendengarnya
terlalu bodoh. Namun, sungguh. Aku bersunggguh-sungguh dengan ini.”
“Apa maksudmu?”
“Maksudku, aku ingin setengah
dari jiwamu adalah…”
Aku alu mengamati bola mata Dani
lekat. “Apa?”
“Aku.”
***
Ini terdengar seperti mimpi. Baru
sehari yang lalu, Dani menyatakan perasaanya padaku. Namun, entah mengapa
wajahku masih panas sampai sekarang.
Pagi-pagi, aku sudah menghampiri
perpustakaan utuk menenangkan diriku sejenak. Entah mengapa, pikiranku seperti
sedang ribut. Aku tahu. Sekarang statusku sudah berpacaran dengan Dani. Setelah
aku menjawabnya dengan satu anggukan saja. Dengan cepat Dani memelukku waktu
itu.
Wajahku panas mengingat hal itu.
Buku-buku yang terjajar rapi pada
rak. Aku hanya menyentuhnya sambil berjalan melalui mereka. Aku masih bengong.
Seharusnya momen seperti ini aku bahagia. Namun, aku malah seperti orang galau
yang baru putus dengan pacarnya.
“Hei, kamu,” suara perempuan
galak menyentekkanku dari lamunanku.
Aku lalu menoleh ke sumber suara.
Bukan perempuan yang kemarin. “Ya?”
“Tunggu, aku dengar kamu deket
sama Dani ya?”
Aku hanya diam.
“Kau tahu, Dani itu milikku.
Janga dekat-dekat sama Dani deh,” katanya sambil mendorong bahuku.
Aku lalu menunduk dan berjalan
keluar dari perpustakaan. Sungguh, kenapa banyak sekali perempuan yang menyukai
Dani.
***
Aku menuju toilet setelah aku
tersenyum pada Dani di koridor. Aku merasa bersalah pada Dani.
Setelah aku selesai, aku buka
pintu bilik toilet. Namun, sungguh sepertinya ada yang sengaja mengurungku di
sini. Ya Tuhan, dosa besar apakah yang aku perbuat?
Aku tak bisa keluar. Berulang
kali pintu aku dorong sekuat tenagaku. Dan, beberapa detik aku mendorong, aku
lelah dan duduk di atas kloset. Dan dengan satu detik, berliter-iter air sudah
membasahi tubuhku. Air itu dari atas. Aku sungguh tahu siapa yang melakukan ini
semua.
“Rasain lo. Mampus gak lo,” suara
perempuan terdengar dari balik pintu.
Aku ingin menangis sekarang.
Sungguh, aku ingin menangis. Dingin dan sunyi di sini. Apalagi, aku sudah mendengar
suara bel masuk. Aku sungguh khawatir di sini.
Rambutku, wajahku, dan seluruh
badanku basah kuyup. Aku kedinginan di sini.
Aku sudah merasa capek seperti
ini.
***
Aku keluar dari toilet setelah
seseorang mengetahuiku terkurung di dalam bilik toilet. Dan, saat ku buka
mataku, aku sudah berada di UKS saat ini. Dengan ada Dani yang sedang duduk di
sampingku.
“Kau kedinginan bukan?” tanyanya
sambil memegang tanganku.
Aku hanya diam sambil melihatnya.
“Maafkan aku,” katanya
memepererat genggamannya.
Aku lalu meneteskan air mata,
“Dani, kenapa. Sungguh kenapa? Aku tak bisa bersamamu. Aku sakit, begini Dani.
Aku malah sakit seperti ini.”
Dani lalu memelukku. “Maafkan
aku, Sasa. Kau bisa bertahan untukku? Aku akan menjagamu mulai sekarang.
Percayalah.”
Aku lalu menangis di dalam
pelukan Dani.
“Maafkan aku, Sasa. Walaupun
begitu, aku tak bisa melepaskanmu begitu saja.” Dengan lembut, Danni melepaskan
pelukanya. Lalu, mengusap air mataku dengan tangannya.
“Tapi, Dani. Aku tak ingin
seperti ini terus. Aku, sebenarnya juga tak ingin melepaskanmu. Aku juga
menyayangimu.”
“Jadi?”
“Maafkan aku,” kataku sambil
membuang muka.
“Terserah, Sasa. Jika itu maumu.
Namun, kembalilah padaku suatu saat nanti. Aku masih menunggumu. Tapi, jangan
sakiti aku dengan kamu, berada di sisi seorang pria lain selain aku.”
***
Memang, setelah aku putus dengan
Dani. Dan menjauhinya, tak lagi aku mendapat gangguan dari beberapa siswi yang
sangat menyukai Dani itu.
Hariku tenang. Walau, cintaku
itu, hanya dapat aku rasakan hanya sekedip saja.
Hari ini juga, hari kelulusan.
Aku merasa bahagia karena nilaiku cukup memuaskan. Namun, juga cukup menahan
pilu, karena aku tak dapat lagi melihat wajah Dani. Karena sangat mungkin aku
dengan Dani, tidak satu universitas yang sama.
Aku. Sekarang berdiri di
segerombolan siswa-siswi yang sedang berbahagia menyambut kelulusan
masing-masing. Sungguh, aku hanya menampilkan raut muka yang datar dan terlihat
tak ada sisi ceria atau bahagia sedikitpun dari wajahku.
“Hai,” sapa seseorang yang
menepuk bahuku dari belakang.
Aku lantas menoleh. Dan aku hanya
tersenyum padanya.
“Jadi, bagaimana? mau melanjutkan
kemana?” tanyanya.
Aku hanya tersenyum sebagai
jawaban. Namun, aku tak bisa seperti ini sampai sekarang. Aku menyadari, bahwa
aku membutuhkannya. “Entah.”
“Ayo,” katanya sambil menggeret
tanganku keluar dari segerombolan anak-anak.
Aku hanya menurut saja. Entah aku
mau di bawa kemana. Namun, aku dapat merasakan kembali genggaman hangat itu
kembali.
Di taman sekolah yang lumayan
sepi. Karena anak-anak sedang bersuka-ria di lapangan. Yang jauh dari taman.
Dani berhenti dan melepaskan genggamannya dariku.
Aku hanya memandangnya
kebingungan.
“Sasa, sungguh. Aku merasakan hal
lain saat aku berada di dekat kamu. Aku seakan lebih bahagia,” katanya. “Namun,
dulu hanya dua hari aku merasakan kebahagiaan yang paling bahagia itu. Seakan, saat itu. Tak ada lagi tawa dan
senyuman yang benar-benar sempurna dan lepas dari diriku. Hanya karena, kurang
dirimu.”
“Maaf, Dani. Aku membuatmu sakit
hati. Namun, saat itu. Aku juga merasakan sakit. Maaf,” kataku sambil menunduk.
Menutupi wajahku dari Dani.
“Seharusnya, aku yang minta maaf
padamu.”
Aku hanya diam. Lidahku kelu.
Aku, entah ingin bicara apa. namun, rasanya ada sebuah kata yang harus aku
sampaikan pada Dani. “Dani,” kataku ragu-ragu.
“Hm?”
Dengan satu tarikan dari Dani,
aku sudah berada di pelukan Dani. Rasanya nyaman. Dan sudah lama aku tak
merasakannya. “Sasa, kembalilah padaku. Tolong. Jadikan aku separuh dari
jiwamu.”
Dani,
tak ada yang menggeser posisimu dari hatiku. Hingga saat ini. “Makasih, Dani.”
Dani hanya tersenyum bahagia.
Perlahan, Dani melepaskan pelukan
itu. Akupun tersenyum. Dani juga
tersenyum sama sepertiku. Dia lalu mencium keningku. Aku lalu tersenyum lagi.
Aku lalu memeluknya lagi. Aku
senang. Sungguh. Aku bahagia sekarang.
***
Asti Yulinia-8F/05 =
kataastiyulinia.blogspot.com

0 comments:
Post a Comment