Monday, 14 October 2013

Cerpen : Cintaku Terlalu Sulit

Baca nih, cerpen yang bahasanya berantakan dan ceritanya sudah sangt populer.

 Cintaku Terlalu Sulit
Terpaksa, aku harus jalan kaki. Pulang sekolah, ban sepedaku bocor. Terpaksa, aku harus meninggalkannnya di bengkel.
Panas, capek. Huh. Apalagi, cuma sendiri. Tambah capek.
“Hei,” seseorang aku dengar dari belakangku. Aku kaget setangah mati. Aku langsung mengenali suara tersebut.
Dengan cepat aku menoleh ke belakang. Ternyata benar. “Iya?” tanyaku dengan alis terangkat.
Orang itu lalu berhenti di sampingku. Dengan masih menunggangi sepedanya. Sungguh, jantungku serasa mau copot. “Ayo, naik.”
“Apa?” tanyaku serileks mungkin. Sungguh, aku tak bisa mengatur jantungku yang dari tadi dag-dig-dug tak karuan.
“Cepat. Kalau enggak, aku tinggal nih,” katanya.
“Beneran?”
“Bener. Cepetan.”
Tanpa dikmando lagi, aku naik pada sepedanya di belakangnya. Sungguh, ini serasa seperti mimpi. Bisa-bisa, kalau seperti ini, sepanjang hari, mukaku selalu merah.
“Ngomong-ngomong, kenapa dengan sepedamu?” tanyanya tiba-tiba memecah lamunanku.
“Sepedaku, bannya bocor.”
“Ohh.”
“Oh iya, Dan. Anterin aku sampai rumah ya. Hehehe.” Candaku agar suasana tak tampak tegang.
“Siap-siap.”
Astaga, Dani mau nganter aku sampai rumah? Mimpi apa aku semalam.
***
“Udah, stop.” Kataku ketika tepat sampai di depan rumahku.
“Disini rumahmu?”
Yes. Mau mampir?”
“Enggak usah. Aku mau langsung pulang aja. Bye,” katanya sambil melambaikan tangan dan pergi menjauh dariku.
Aku meloncat-loncat kegirangan seperti orang gila di depan rumah. Cepat-cepat aku berlari masuk rumah dan lekas masuk kamarku.
“Kamu kesurupan, Sa?” tanya Kak Na dari bawah.
“Enggak, Kak,” jawabku.
Aku masih tak mempercayai hal ini. Dani. Orang yang ganteng, tinggi, putih. Pujaan perempuan di sekolah. Bisa-bisanya dia megantarku pulang. Sungguh, aku masih tak mempercayai hal ini. Bagaimana ini bisa terjadi?
Kembali lagi aku melonjak kegirangan. Dan kali ini, aku meneruskannya dengan mengambrukkan badanku ke atas kasur empukku.
 Aku sudah suka banget sama si Dani, sejak beberapa bulan yang lalu. Pertamanya, aku selalu bingung. Ada apa gitu, kalau sehari aja aku enggak ketemu sama dia. Rasanya kurang banget. apalagi, Dani itu banyak baget yang suka. Jadi, kemungkinan aku pacaran dengan dia, hanya 0.2% mungkin.
***
Pagi ini, alias hari ini, begitu aku memasuki gerbang, rasanya seneng banget. Rasanya seneng aja. Mungkin juga, karena kemarin.
Aku masih senyum-senyum sendiri melewati koridor demi koridor. Sekolah juga masih sepi. Jadinya, aku tak perlu malu senyum-senyum sendiri.
“Hei, kamu,” suara sinis seorang perempuan mengusikku dari belakang.
Aku lalu menoleh ke arah suara, di belakangku.
“Iya, kamu,” kata orang itu lagi. Orang itu, perlahan maju dan mendekat ke arahku.
Aku hanya menunduk.
“Kamu ngapain kemarin deket-deket sama Dani, Haa?” tanyanya kasar sambil mendorong bahuku.
Aku lalu mendongak menatap wajah garang tersebut. “Dia hanya mengantarku pulang. Itu saja,” jawabku.
“Apa? Berani-beraninya kamu menyuruh Dani untuk mengantar kamu pulang?” matanya melotot menatap diriku lekat.
“Bukan ak…” belum sempat aku mengakhiri kalimatku, sebuah tamparan mulus sudah mendarat di pipiku.
Aku menyentuh pipiku yang terasa panas. Aku tak dapat berbuat apa-apa. Aku hanya membalas orang itu dengan pelototanku.
Namun, belum sempat aku membalas orang itu, sudah ada seseorang yang tiba-tiba saja sudah menyembunyikanku di balik punggungnya. Dan aku masih terasa sesak dengan tamparan mulus itu.
“Apa-apaan kau ini, Lydia?” suara Dani terdengar menyentak pada orang itu.
“A.. Aku hanya…,” terdengar  lirih dan tergagap jawaban perempuan itu.
“Sudahlah. Aku tahu apa yang kamu perbuat terhadapnya,” jantungku merasa kembali berlomba. “Dan dengar. Kemarin itu, aku memang menghantarnya karena kemuanku sendiri.”
Aku menatap Dani. Namun, dengan cepat, Dani menarik tanganku.
***
“Lihat, pipimu memar,” kata Dani sambil mengusap pipiku dengan tangannya.
“Tidak apa-apa. Aku bisa mengurusnya sendiri,” kataku sambil menurunkan tangan Dani dari wajahku.
“Tapi, kau mendapatkan memar ini karena aku,” balas Dani.
“Sudahlah. Lupakan saja,” kataku sambil tersenyum.
Aku lalu masuk ke dalam kelasku untuk menaruh tas dan menghindari Dani. Kelas juga masih sepi. Hanya ada beberapa tas di atas meja. Namun, sama sekali tak ada orang di kelas.
“Tunggu, Sasa,” suara Dani kembali terdengar dari belakangku. “Maaf.”
Aku lalu menoleh ke belakang, “Untuk apa?” tanyaku sambil mengerutkan dahi.
“Yang tadi.”
“Sudah ku katakan bukan. Lupakan saja,” sungguh, aku ingin sekali mengungkapkan perasaanku pada Dani. Dan suruhan itu makin mendesak dalam hatiku.
“Sasa, aku ingin mengatakan sesuatu padamu,” kata Dani tiba-tiba. Dan itu membuat jantungku berdetak semakin keras. Aku berharap suara itu tak sampai terdengar sampai telinga Dani.
“Apa itu?”
“Kau mungkin, mendengarnya terlalu bodoh. Namun, sungguh. Aku bersunggguh-sungguh dengan ini.”
“Apa maksudmu?”
“Maksudku, aku ingin setengah dari jiwamu adalah…”
Aku alu mengamati bola mata Dani lekat. “Apa?”
“Aku.”
***
Ini terdengar seperti mimpi. Baru sehari yang lalu, Dani menyatakan perasaanya padaku. Namun, entah mengapa wajahku masih panas sampai sekarang.
Pagi-pagi, aku sudah menghampiri perpustakaan utuk menenangkan diriku sejenak. Entah mengapa, pikiranku seperti sedang ribut. Aku tahu. Sekarang statusku sudah berpacaran dengan Dani. Setelah aku menjawabnya dengan satu anggukan saja. Dengan cepat Dani memelukku waktu itu.
Wajahku panas mengingat hal itu.
Buku-buku yang terjajar rapi pada rak. Aku hanya menyentuhnya sambil berjalan melalui mereka. Aku masih bengong. Seharusnya momen seperti ini aku bahagia. Namun, aku malah seperti orang galau yang baru putus dengan pacarnya.
“Hei, kamu,” suara perempuan galak menyentekkanku dari lamunanku.
Aku lalu menoleh ke sumber suara. Bukan perempuan yang kemarin. “Ya?”
“Tunggu, aku dengar kamu deket sama Dani ya?”
Aku hanya diam.
“Kau tahu, Dani itu milikku. Janga dekat-dekat sama Dani deh,” katanya sambil mendorong bahuku.
Aku lalu menunduk dan berjalan keluar dari perpustakaan. Sungguh, kenapa banyak sekali perempuan yang menyukai Dani.
***
Aku menuju toilet setelah aku tersenyum pada Dani di koridor. Aku merasa bersalah pada Dani.
Setelah aku selesai, aku buka pintu bilik toilet. Namun, sungguh sepertinya ada yang sengaja mengurungku di sini. Ya Tuhan, dosa besar apakah yang aku perbuat?
Aku tak bisa keluar. Berulang kali pintu aku dorong sekuat tenagaku. Dan, beberapa detik aku mendorong, aku lelah dan duduk di atas kloset. Dan dengan satu detik, berliter-iter air sudah membasahi tubuhku. Air itu dari atas. Aku sungguh tahu siapa yang melakukan ini semua.
“Rasain lo. Mampus gak lo,” suara perempuan terdengar dari balik pintu.
Aku ingin menangis sekarang. Sungguh, aku ingin menangis. Dingin dan sunyi di sini. Apalagi, aku sudah mendengar suara bel masuk. Aku sungguh khawatir di sini.
Rambutku, wajahku, dan seluruh badanku basah kuyup. Aku kedinginan di sini.
Aku sudah merasa capek seperti ini.
***
Aku keluar dari toilet setelah seseorang mengetahuiku terkurung di dalam bilik toilet. Dan, saat ku buka mataku, aku sudah berada di UKS saat ini. Dengan ada Dani yang sedang duduk di sampingku.
“Kau kedinginan bukan?” tanyanya sambil memegang tanganku.
Aku hanya diam sambil melihatnya.
“Maafkan aku,” katanya memepererat genggamannya.
Aku lalu meneteskan air mata, “Dani, kenapa. Sungguh kenapa? Aku tak bisa bersamamu. Aku sakit, begini Dani. Aku malah sakit seperti ini.”
Dani lalu memelukku. “Maafkan aku, Sasa. Kau bisa bertahan untukku? Aku akan menjagamu mulai sekarang. Percayalah.”
Aku lalu menangis di dalam pelukan Dani.
“Maafkan aku, Sasa. Walaupun begitu, aku tak bisa melepaskanmu begitu saja.” Dengan lembut, Danni melepaskan pelukanya. Lalu, mengusap air mataku dengan tangannya.
“Tapi, Dani. Aku tak ingin seperti ini terus. Aku, sebenarnya juga tak ingin melepaskanmu. Aku juga menyayangimu.”
“Jadi?”
“Maafkan aku,” kataku sambil membuang muka.
“Terserah, Sasa. Jika itu maumu. Namun, kembalilah padaku suatu saat nanti. Aku masih menunggumu. Tapi, jangan sakiti aku dengan kamu, berada di sisi seorang pria lain selain aku.”
***
Memang, setelah aku putus dengan Dani. Dan menjauhinya, tak lagi aku mendapat gangguan dari beberapa siswi yang sangat menyukai Dani itu.
Hariku tenang. Walau, cintaku itu, hanya dapat aku rasakan hanya sekedip saja.
Hari ini juga, hari kelulusan. Aku merasa bahagia karena nilaiku cukup memuaskan. Namun, juga cukup menahan pilu, karena aku tak dapat lagi melihat wajah Dani. Karena sangat mungkin aku dengan Dani, tidak satu universitas yang sama.
Aku. Sekarang berdiri di segerombolan siswa-siswi yang sedang berbahagia menyambut kelulusan masing-masing. Sungguh, aku hanya menampilkan raut muka yang datar dan terlihat tak ada sisi ceria atau bahagia sedikitpun dari wajahku.
“Hai,” sapa seseorang yang menepuk bahuku dari belakang.
Aku lantas menoleh. Dan aku hanya tersenyum padanya.
“Jadi, bagaimana? mau melanjutkan kemana?” tanyanya.
Aku hanya tersenyum sebagai jawaban. Namun, aku tak bisa seperti ini sampai sekarang. Aku menyadari, bahwa aku membutuhkannya. “Entah.”
“Ayo,” katanya sambil menggeret tanganku keluar dari segerombolan anak-anak.
Aku hanya menurut saja. Entah aku mau di bawa kemana. Namun, aku dapat merasakan kembali genggaman hangat itu kembali.
Di taman sekolah yang lumayan sepi. Karena anak-anak sedang bersuka-ria di lapangan. Yang jauh dari taman. Dani berhenti dan melepaskan genggamannya dariku.
Aku hanya memandangnya kebingungan.
“Sasa, sungguh. Aku merasakan hal lain saat aku berada di dekat kamu. Aku seakan lebih bahagia,” katanya. “Namun, dulu hanya dua hari aku merasakan kebahagiaan yang paling bahagia  itu. Seakan, saat itu. Tak ada lagi tawa dan senyuman yang benar-benar sempurna dan lepas dari diriku. Hanya karena, kurang dirimu.”
“Maaf, Dani. Aku membuatmu sakit hati. Namun, saat itu. Aku juga merasakan sakit. Maaf,” kataku sambil menunduk. Menutupi wajahku dari Dani.
“Seharusnya, aku yang minta maaf padamu.”
Aku hanya diam. Lidahku kelu. Aku, entah ingin bicara apa. namun, rasanya ada sebuah kata yang harus aku sampaikan pada Dani. “Dani,” kataku ragu-ragu.
“Hm?”
Dengan satu tarikan dari Dani, aku sudah berada di pelukan Dani. Rasanya nyaman. Dan sudah lama aku tak merasakannya. “Sasa, kembalilah padaku. Tolong. Jadikan aku separuh dari jiwamu.”
Dani, tak ada yang menggeser posisimu dari hatiku. Hingga saat ini. “Makasih, Dani.”
Dani hanya tersenyum bahagia.
Perlahan, Dani melepaskan pelukan itu.  Akupun tersenyum. Dani juga tersenyum sama sepertiku. Dia lalu mencium keningku. Aku lalu tersenyum lagi.
Aku lalu memeluknya lagi. Aku senang. Sungguh. Aku bahagia sekarang.
***
Asti Yulinia-8F/05 = kataastiyulinia.blogspot.com

0 comments: