Thursday, 29 August 2013

Cerpen : Sepongebob Jadi Idola

Sepogebob Jadi Idola
Mona terlihat sedang asyik menonton tayangan kartun ‘Sepongebob’ di layar televisinya. Hingga ibu Mona memanggilnya, ia tak menyahut sedikitpun. Ibu Mona pun menyerah untuk mengingatkan pada Mona.
Pak Muhdin sudah mengumandangkan Adzan Ashar di Mushola dekat rumah Mona. Mona lupa waktu. Jika, jam setengah empat ia harus ke rumah Lita. Apalagi, ia harus menghampiri Rani.
“Mona, sana Ashar dulu,” Ayah Mona menghampiri Mona.
“Iya, Yah. Sebentar kalau ini udah iklan.”
“Sini…” ayah Mona merebut remot tv dari tangan Mona. “Sana Ashar dahulu,” Ayah Mona membentak.
“Memang Ayah mau lihat apa?” Tanya Mona sambil sewot.
“Lihat berita,” seru ayah sambil mengganti saluran tv.
Dengan kesal, Mona meninggalkan ayahnya dengan cemberut dan sewot. Ia lalu sholat dan harus pergi menemui teman-temannya.
Ayah Mona terlihat asyik melihat berita. Namun, Ayah Mona celingukan ke belakang memeriksa. Apakah ada Mona atau tidak. Dan untung Mona pergi ke kamarnya untuk sholat.
Ayah Mona malah tertawa dan mengganti saluran tv yang semula Mona tonton. Ayah Mona sangat bahagia dan malah tertawa. Ayah Mona melihat kartun anak-anak yaitu ‘Sepongebob’ yang juga kartun kesukaan Mona.
Mona menuruni tangga. Ia melihat ayahnya tertawa terbahak-bahak melihat kartun yang ia senangi. Dengan kesal, Mona berlari ke ayahnya.
“Ayah, katanya mau lihat berita?” Tanya Mona yang membuat Ayah Mona kaget di buatnya.
“Iya,” Ayah Mona menjawab sambil tertawa melihat adegan Sepongebob dengan sahabatnya, Patrick Star.
“Kok malah Sepongebob yang dilihat?” Mona tampak kesal.
“Lucu sih.”
“Ayah ini. Udah gede, kok tontonannya masih sepongebob,” Mona sudah kesal dan pergi berlalu meninggalkan ayahnya yang masih sibuk tertawa.
Mona sangat kesal. Masa anaknya yang gak boleh lihat sepongebob, tapi malah orangtuanya yang lihat sepongebob. Heran Mona dalam hati.
Dengan berjalan tersaruk-saruk, akhirnya ia sampai di rumah Rani. Di depan rumah Rani, sepertinya Mona mendengar suara yang sangat meriah terdengar dari dalam rumah Rani.
Tanpa pikir panjang, Mona langsung berjalan menuju pintu rumah Rani. Pintu rumah Rani yang terbuka, membuat Rani langsung melihat Mona yang sudah mengampirinya.
Mona lalu dipersilahkan masuk oleh Rani. Mona pun menurut dan ia duduk di kursi ruang tamu.
“Mona, bentar ya. Aku mau sholat sebentar,” ujar Rani dengan tersenyum sembari meninggalkan Mona.
“Iya, sholat dulu aja. Aku gak apa-apa kok nunggu kamu,” jawab Mona.
Lalu Rani meniggalkan Mona yang duduk sendiri di ruang tamu untuk sholat.
Mona yang duduk sendiri sambil menunggu Rani sholat, hanya duduk-duduk dengan santai. Ia mendengar dari ruang keluarga, ayah dan adik Rani terlihat tertawa terbahak-bahak melihat tayangan tv. Juga tayangan tv favoritnya. Yaitu ‘Sepongebob’.
Ia terheran-heran bagaimana bisa, ayah Rani, Mona sendiri dan ayahnya mempunyai tayangan favorit yang sama. Ayah Rani sampai tertawa terbahak-bahak melihat kartun itu.
Tiba-tiba, Rani datang menemui Mona yang tengah duduk di ruang tamu. Mereka langsung pergi menuju rumah Lita.
Di jalan, Mona mengutarakan pertanyaan yang sedari tadi ingin ia katakana pada Rani, “Rani, ayahmu sangat suka sepongebob?”
“Iya, benar.”
“Ternyata semua ayah sudah tertular anaknya ya.”
“Lho, kok bisa?” protes Rani pada Mona.
“Iya, ayahku juga sangat suka dengan sepongebob. Aku sangat kesal dengan ayahku. Pada saat aku asyik melihat Sepongebob, aku disuruh untuk sholat. Tapi, malah ayahku yang mellihat sepongebob.”
“Benar Mona. Ayahku juga selalu marah-marah jika tayangan tv yang sangat ayah sukai, diganti. Apalagi sepogebob. Ayah dan adikku pasti sudah punya strategi sendiri.”
Tibalah Mona dan Rani di depan rumah Lita. Di jalan, Mona dan Rani hanya membicarakan tentang Sepogebob. Tentang ayah mereka yang sangat senang dengan tokoh kartun tersebut.
Lita ternyata sudah berada di depan rumahnya. Ia sedang duduk-duduk di teras depan rumahnya. Ia tampak cemberut dan kesal. Mona dan Rani yang berada di jalan depan rumah Lita terheran-heran dengan tingkah laku Lita yang tampak kesal di depan rumahnya.
“Lita,” panggil Mona dan Rani kepada Lita.
Lita kaget dengan kemunculan Mona dan Rani yang datang dengan tiba-tiba, “Mona, Rani?”
“Kau kenapa Lita? Kok cemberut? Tampak kesal lagi?” ujar Rani mengoda Lita yang masih terlihat kesal.
“Papaku.” Jawab Lita.
“Kenapa dengan papamu?” Tanya Mona dengan tiba-tiba.
“Tayangan tv tak boleh diganti.”
“Memang apa yang dilihat papamu?” Tanya Mona penasaran.
“Papaku memang anak kecil. Udah besar malah liat ‘Sepongebob’,” kesal Lita sambil menghentak-henakkan kaki di atas lantai.
“Kalau begitu, ayah kita sama-sama pecinta ‘Sepongebob’ dong?” ujar Mona sambil tertawa. Dan langsung di ikuti Rani.
“Benar itu.” Seru Rani memperkeras tawanya.
“Memang ayah kalian juga suka dengan ‘Sepongebob’ ya?” Tanya Lita dengan tak percaya.
Mona, dan Rani, malah memperkeras tawa mereka. Lita hanya bengong melihat Mona dan Rani tertawa terbahak-bahak karena sangat lucu.
Ternyata, ‘Sepongebob’ tak hanya di sukai oleh anak-anak.Tetapi, orangtua sebesar ayah-ayah. Masih saja senang dengan tokoh kartun yang sangat lucu tersebut.



0 comments: