Sepogebob Jadi Idola
Mona terlihat sedang asyik menonton
tayangan kartun ‘Sepongebob’ di layar televisinya. Hingga ibu Mona
memanggilnya, ia tak menyahut sedikitpun. Ibu Mona pun menyerah untuk
mengingatkan pada Mona.
Pak Muhdin sudah mengumandangkan Adzan
Ashar di Mushola dekat rumah Mona. Mona lupa waktu. Jika, jam setengah empat ia
harus ke rumah Lita. Apalagi, ia harus menghampiri Rani.
“Mona, sana Ashar dulu,” Ayah Mona
menghampiri Mona.
“Iya, Yah. Sebentar kalau ini udah
iklan.”
“Sini…” ayah Mona merebut remot tv
dari tangan Mona. “Sana Ashar dahulu,” Ayah Mona membentak.
“Memang Ayah mau lihat apa?” Tanya
Mona sambil sewot.
“Lihat berita,” seru ayah sambil
mengganti saluran tv.
Dengan kesal, Mona meninggalkan
ayahnya dengan cemberut dan sewot. Ia lalu sholat dan harus pergi menemui
teman-temannya.
Ayah Mona terlihat asyik melihat
berita. Namun, Ayah Mona celingukan ke belakang memeriksa. Apakah ada Mona atau
tidak. Dan untung Mona pergi ke kamarnya untuk sholat.
Ayah Mona malah tertawa dan mengganti
saluran tv yang semula Mona tonton. Ayah Mona sangat bahagia dan malah tertawa.
Ayah Mona melihat kartun anak-anak yaitu ‘Sepongebob’ yang juga kartun kesukaan
Mona.
Mona menuruni tangga. Ia melihat
ayahnya tertawa terbahak-bahak melihat kartun yang ia senangi. Dengan kesal,
Mona berlari ke ayahnya.
“Ayah, katanya mau lihat berita?” Tanya
Mona yang membuat Ayah Mona kaget di buatnya.
“Iya,” Ayah Mona menjawab sambil
tertawa melihat adegan Sepongebob dengan sahabatnya, Patrick Star.
“Kok malah Sepongebob yang dilihat?” Mona
tampak kesal.
“Lucu sih.”
“Ayah ini. Udah gede, kok tontonannya
masih sepongebob,” Mona sudah kesal dan pergi berlalu meninggalkan ayahnya yang
masih sibuk tertawa.
Mona sangat kesal. Masa anaknya yang
gak boleh lihat sepongebob, tapi malah orangtuanya yang lihat sepongebob. Heran
Mona dalam hati.
Dengan berjalan tersaruk-saruk,
akhirnya ia sampai di rumah Rani. Di depan rumah Rani, sepertinya Mona
mendengar suara yang sangat meriah terdengar dari dalam rumah Rani.
Tanpa pikir panjang, Mona langsung
berjalan menuju pintu rumah Rani. Pintu rumah Rani yang terbuka, membuat Rani
langsung melihat Mona yang sudah mengampirinya.
Mona lalu dipersilahkan masuk oleh Rani.
Mona pun menurut dan ia duduk di kursi ruang tamu.
“Mona, bentar ya. Aku mau sholat
sebentar,” ujar Rani dengan tersenyum sembari meninggalkan Mona.
“Iya, sholat dulu aja. Aku gak
apa-apa kok nunggu kamu,” jawab Mona.
Lalu Rani meniggalkan Mona yang duduk
sendiri di ruang tamu untuk sholat.
Mona yang duduk sendiri sambil menunggu
Rani sholat, hanya duduk-duduk dengan santai. Ia mendengar dari ruang keluarga,
ayah dan adik Rani terlihat tertawa terbahak-bahak melihat tayangan tv. Juga
tayangan tv favoritnya. Yaitu ‘Sepongebob’.
Ia terheran-heran bagaimana bisa,
ayah Rani, Mona sendiri dan ayahnya mempunyai tayangan favorit yang sama. Ayah
Rani sampai tertawa terbahak-bahak melihat kartun itu.
Tiba-tiba, Rani datang menemui Mona
yang tengah duduk di ruang tamu. Mereka langsung pergi menuju rumah Lita.
Di jalan, Mona mengutarakan pertanyaan
yang sedari tadi ingin ia katakana pada Rani, “Rani, ayahmu sangat suka
sepongebob?”
“Iya, benar.”
“Ternyata semua ayah sudah tertular
anaknya ya.”
“Lho, kok bisa?” protes Rani pada
Mona.
“Iya, ayahku juga sangat suka dengan
sepongebob. Aku sangat kesal dengan ayahku. Pada saat aku asyik melihat
Sepongebob, aku disuruh untuk sholat. Tapi, malah ayahku yang mellihat
sepongebob.”
“Benar Mona. Ayahku juga selalu
marah-marah jika tayangan tv yang sangat ayah sukai, diganti. Apalagi
sepogebob. Ayah dan adikku pasti sudah punya strategi sendiri.”
Tibalah Mona dan Rani di depan rumah
Lita. Di jalan, Mona dan Rani hanya membicarakan tentang Sepogebob. Tentang
ayah mereka yang sangat senang dengan tokoh kartun tersebut.
Lita ternyata sudah berada di depan rumahnya.
Ia sedang duduk-duduk di teras depan rumahnya. Ia tampak cemberut dan kesal.
Mona dan Rani yang berada di jalan depan rumah Lita terheran-heran dengan
tingkah laku Lita yang tampak kesal di depan rumahnya.
“Lita,” panggil Mona dan Rani kepada Lita.
Lita kaget dengan kemunculan Mona dan
Rani yang datang dengan tiba-tiba, “Mona, Rani?”
“Kau kenapa Lita? Kok cemberut?
Tampak kesal lagi?” ujar Rani mengoda Lita yang masih terlihat kesal.
“Papaku.” Jawab Lita.
“Kenapa dengan papamu?” Tanya Mona
dengan tiba-tiba.
“Tayangan tv tak boleh diganti.”
“Memang apa yang dilihat papamu?”
Tanya Mona penasaran.
“Papaku memang anak kecil. Udah besar
malah liat ‘Sepongebob’,” kesal Lita sambil menghentak-henakkan kaki di atas
lantai.
“Kalau begitu, ayah kita sama-sama
pecinta ‘Sepongebob’ dong?” ujar Mona sambil tertawa. Dan langsung di ikuti
Rani.
“Benar itu.” Seru Rani memperkeras
tawanya.
“Memang ayah kalian juga suka dengan
‘Sepongebob’ ya?” Tanya Lita dengan tak percaya.
Mona, dan Rani, malah memperkeras
tawa mereka. Lita hanya bengong melihat Mona dan Rani tertawa terbahak-bahak
karena sangat lucu.
Ternyata, ‘Sepongebob’ tak hanya di
sukai oleh anak-anak.Tetapi, orangtua sebesar ayah-ayah. Masih saja senang
dengan tokoh kartun yang sangat lucu tersebut.

0 comments:
Post a Comment