Thursday, 29 August 2013

Cerpen : Mimpi Dalam Mimpi

Kali ini, aku mau menampangkan sebuah cerpen hasil buah tanganku sendiri. Yang berjudul "Mimpi Dalam Mimpi". Semoga kalian suka.

Mimpi Dalam Mimpi
Aku baru saja pulang dari sekolah. Kulihat ada seorang anak yang sedang sibuk menjualkan dagangannya kepada orang-orang yang sedang berlalu lalang. Kudekati dia bersama temanku, Gita.
Ku hampiri dia. Ternyata, gadis kecil sebaya denganku sedang berusaha menjual kuenya yang terlihat masih banyak.
“Heh,” sapaku kasar pada anak tersebut. “Kamu tau-kan di sana ada papan yang bertulis ‘DILARANG BERJUALAN DI LINGKUNGAN SEKOLAH,” kataku sambil menunjuk papan dengan tulisan tersebut yang tertempel di pagar depan sekolah.
“Tahu,” jawabnya dengan tertunduk dan dengan suara yang lirih.
“Kenapa kamu masih jualan di sini?sana pergi!” suruhku sambil menunjuk-nunjuk arti ku usir.
“Tapi, jika nanti aku tak berjualan, ibuku bisa marah,” jawabnya sambil mendongak melihatku.
“Sana pergi!” aku lalu mendorongnya untuk segera menjauh dari lingkungan sekolah. “Dasar orang miskin,” cibirku sambil melipat tanganku di depan dada.
Anak it kemudian pergi.
“Mona, seharusnya kamu jangan begitu. Kasihan dia,” Gita yang berada di sampingku angkat bicara.
“Sudahlah. Salah siapa jualan kok di lingkungan sekolah. Jelas-jelas udah ada peraturannya.”
“Baiklah. Ayo pulang saja,” ajak Gita lalu menggandeng tanganku.
Aku menurut lalu berjalan pulang bersamanya.
Di jalan, aku dan Gita bertemu dengan seorang kakek-kakek pengemis yang terus bergeming meminta. Gita yang merasa kasihan ingin memberi kakek tersebut dengan uang.Namun, aku cegah dengan cepat.
“Kamu kok mau sih, Ta. Ngasih pengemis itu. Kakek itukan tidak bekerja, dia hanya menengadahkan tangan dan mendapat uang. Kakek itu sama sekali tak bekerja,” kataku panjang lebar pada Gita.
“Iya, tapi kasihan.”
“Sudahlah,” tepisku langsung.“Orang-orang miskin itu selalu begitu. Ayo pulang saja,” aku langsung menarik tangan Gita, agar cepat pergi dari pengemis itu.
“Mona, seharusnya kamu jangan begitu. Kaya miskin sama saja. Coba kalau kamu, tiba-tiba jatuh miskin?Bagaimana perasaanmu?”
Aku hanya diam dan langsung mempercepat langkahku untuk segera menuju rumah.
***
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan. Kubereskan bukuku dan cepat berlari menuju kamarku. Sebelum tidur, aku menuju ke kamar mandi untuk menggosok gigi terlebih dahulu.
Cepatlah ku bergegas dan siap berbaring di atas kasurku. Dengan di temani sebuah guling, aku dapat tertidur dengan cepat. Tanpa alunan lagu dan tanpa sebuah dongeng penghantar tidur.
Sudahku memejamkan mataku. Sudahku juga terlarut dalam tidur. Dengan cepat pula ku masuki dunia mimpi.
Dunia mimpi…
Di sini. Entah ku berada di mana sekarang. Tempat yang asing bagiku. Yang tak pernah aku kunjungi selama ini. Tempat yang kumal.  Banyak sampah. Dan, rumah-rumah hanya berdinding kardus yang sudah bolong dan dekil.
Sungguh, aku jijik melihat itu. Orang-orang di sini juga seperti itu.Berpakaian dengan baju yang robek-robek, using dekil, kumal dan lecek. Dan anehnya, aku juga mengenakan baju tersebut saat ini.
“Heh, kamu. Kenapa kamu diam di situ terus. Ayo kerja,” suruh seorang ibu tua dengan ketus.
Aku hanya mengangguk lalu berlari ke gunungan sampah. Itu, TPA. Tak dapat dipercaya. Aku seperti orang miskin yang susah untuk makan.
Ku pilahi sampah yang terlihat sama saja. Hitam, coklat. Campur aduk menjadi satu. Ku lihat juga teman-teman sebayaku sedang bekerja sepertiku.
Aku lalu turun dari gunungan sampah tersebut. Aku mencoba beristirahat dai peluh dan keringatku yang sudah membasahi bajuku. Aku menyerahkan keranjangku kepada pengepul. Aku hanya menerima uang sebesar tiga ribu rupiah. Rasa syukur, aku ucapkan pada Tuhan.
Aku pulang menuju rumahku. Yang kecil, sempit dan terbuat dari kumpulan kardus bekas. Entah, aku langsung masuk ke dalamnya.
Aku mencoba beristirhat dan tertidur. Sungguh aku merasa capek hri ini. Setelah bekerja keras aku mencari uang.
Aku tertidur hingga aku bermimpi. Aku entah berada di mana. Di sebuah hutan yang cukup rindang dengan pohon-pohonnya yang nampak asri dan begitu segar. Ku rasakan diriku seperti terbang melayang ke angkasa dan tiba-tiba terdegar suara seekor kucing.
“Meow..” suara kucing yang entah keberadaanya di mana menggugahku untuk mencarinya.
Ternyata ada di sana. Di balik sebuah rumput yang tinggi. Seokor kucing kecil yang manis berwarna putih sedikit coklat. Aku tersenyum melihatnya.
“Kemarilah, kucing manis,” kataku pada kucing itu sambil mendekat kepada kucing tersebut. Aku berjongkok di hadapannya dan berusaha menyentuhnya.
Di saat itulah, tanganku terasa panas ketika aku menyentuh bulu-bulu cantik tersebut. Kurasakan tanganku sakit. Tak terluka sama sekali. Tapi, rasanya sangat sakit. Begitu sakit hingga aku menyadari, air mataku jatuh. Aku tak kuat menopang tubuhku. Aku mengambruk di sana.
Tanganku panas. Aku merasa, aku memerlukan air untuk meredamkan panas di tanganku ini. Saat kulihat, seorang Kakek dengan tangannya yang membawa air datang ke arahku. Menyiram tanganku dengan air yang dibawanya.
Aku mencoba melihat Kakek tersebut. Ia tersenyum padaku. Aku menyadari, siapa orang itu. Dan kulihat, seorang perempuan sebayaku membawa beberapa kue yang dibawanya dan dia serahkan kue itu padaku.
Aku merimanya dengan tersenyum. Dan kusadari, tanganku sudah tak panas sekarang. Rasa sakit itu mulai redam.
Menyadari hal itu, aku melihat kakek dan perempuan tadi. Wajah mereka mulai aneh. Mereka bukan yang tadi. Wajah mereka, sekarang menyeramkan. Sunguh menakutkan. Sampai aku, tak berani menatap langsung pada wajah mereka.
Aku merasa diriku terancam. Mereka seperti ingin diriku. Sekarang, wajah mereka mulai aneh dan berubah menjadi makhlluk seram yang siap untuk menangkapku. Aku berusaha berlari. Berlari. Namun, apa daya, mereka sudah menangkapku. Aku menjerit keras sekali. Tak ada siapapun yang mendengarku.
“Hei, bangunlah. Dasar Pemalas!” seseorang membangunkanku dengan keras.
Seketika, aku merasakan bajuku basah oleh air. Seseorang tadi menyiram tubuhku dengan air. Aku tahu itu.
Aku terbangun dari tidurku. Aneh.. aku basah karena berkeringat. Aku melihat kesekelilingku. Ini jelas tempat tidurku. Yang empuk dan nyaman. Aku bermimpi aneh sekali. Aku tak ingin hal itu terjadi padaku.
Aku menghela napas dan mendesah keras. Hatiku merasa gelisah. Aku teringat dengan gadis dan kakek –kakek siang tadi. Aku merasa bersalah dan aku gelisah. Pikiranku hanya terpenuhi dengan baying-bayang kedua orang tersebut. Betapa aku sangat berdosa…
***
Keesokan harinya, di pagi-pagi sekali, aku mencari seorang gadis dan juga kakek-kakek kemarin-sebelum ke sekolah.
Perasaanku langsung bahagia saat aku melihat mereka di jalan menuju sekolahku. Aku meminta maaf pada mereka atas apa yang aku perbuat kemarin.
Mereka hanya tersenyum dan memaafkanku.
***



0 comments: