Mimpi Dalam Mimpi
Aku baru saja pulang dari sekolah. Kulihat
ada seorang anak yang sedang sibuk menjualkan dagangannya kepada orang-orang
yang sedang berlalu lalang. Kudekati dia bersama temanku, Gita.
Ku hampiri dia. Ternyata, gadis kecil
sebaya denganku sedang berusaha menjual kuenya yang terlihat masih banyak.
“Heh,” sapaku kasar pada anak
tersebut. “Kamu tau-kan di sana ada papan yang bertulis ‘DILARANG BERJUALAN DI
LINGKUNGAN SEKOLAH,” kataku sambil menunjuk papan dengan tulisan tersebut yang
tertempel di pagar depan sekolah.
“Tahu,” jawabnya dengan tertunduk dan
dengan suara yang lirih.
“Kenapa kamu masih jualan di
sini?sana pergi!” suruhku sambil menunjuk-nunjuk arti ku usir.
“Sana pergi!” aku lalu mendorongnya
untuk segera menjauh dari lingkungan sekolah. “Dasar orang miskin,” cibirku sambil
melipat tanganku di depan dada.
Anak it kemudian pergi.
“Mona, seharusnya kamu jangan begitu.
Kasihan dia,” Gita yang berada di sampingku angkat bicara.
“Sudahlah. Salah siapa jualan kok di
lingkungan sekolah. Jelas-jelas udah ada peraturannya.”
“Baiklah. Ayo pulang saja,” ajak Gita
lalu menggandeng tanganku.
Aku menurut lalu berjalan pulang
bersamanya.
Di jalan, aku dan Gita bertemu dengan
seorang kakek-kakek pengemis yang terus bergeming meminta. Gita yang merasa
kasihan ingin memberi kakek tersebut dengan uang.Namun, aku cegah dengan cepat.
“Kamu kok mau sih, Ta. Ngasih
pengemis itu. Kakek itukan tidak bekerja, dia hanya menengadahkan tangan dan
mendapat uang. Kakek itu sama sekali tak bekerja,” kataku panjang lebar pada
Gita.
“Iya, tapi kasihan.”
“Sudahlah,” tepisku
langsung.“Orang-orang miskin itu selalu begitu. Ayo pulang saja,” aku langsung
menarik tangan Gita, agar cepat pergi dari pengemis itu.
“Mona, seharusnya kamu jangan begitu.
Kaya miskin sama saja. Coba kalau kamu, tiba-tiba jatuh miskin?Bagaimana
perasaanmu?”
Aku hanya diam dan langsung
mempercepat langkahku untuk segera menuju rumah.
***
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan.
Kubereskan bukuku dan cepat berlari menuju kamarku. Sebelum tidur, aku menuju
ke kamar mandi untuk menggosok gigi terlebih dahulu.
Cepatlah ku bergegas dan siap
berbaring di atas kasurku. Dengan di temani sebuah guling, aku dapat tertidur
dengan cepat. Tanpa alunan lagu dan tanpa sebuah dongeng penghantar tidur.
Sudahku memejamkan mataku. Sudahku
juga terlarut dalam tidur. Dengan cepat pula ku masuki dunia mimpi.
Dunia mimpi…
Di sini. Entah ku berada di mana
sekarang. Tempat yang asing bagiku. Yang tak pernah aku kunjungi selama ini. Tempat
yang kumal. Banyak sampah. Dan,
rumah-rumah hanya berdinding kardus yang sudah bolong dan dekil.
Sungguh, aku jijik melihat itu. Orang-orang
di sini juga seperti itu.Berpakaian dengan baju yang robek-robek, using dekil,
kumal dan lecek. Dan anehnya, aku juga mengenakan baju tersebut saat ini.
“Heh, kamu. Kenapa kamu diam di situ
terus. Ayo kerja,” suruh seorang ibu tua dengan ketus.
Aku hanya mengangguk lalu berlari ke
gunungan sampah. Itu, TPA. Tak dapat dipercaya. Aku seperti orang miskin yang
susah untuk makan.
Ku pilahi sampah yang terlihat sama
saja. Hitam, coklat. Campur aduk menjadi satu. Ku lihat juga teman-teman
sebayaku sedang bekerja sepertiku.
Aku lalu turun dari gunungan sampah
tersebut. Aku mencoba beristirahat dai peluh dan keringatku yang sudah
membasahi bajuku. Aku menyerahkan keranjangku kepada pengepul. Aku hanya
menerima uang sebesar tiga ribu rupiah. Rasa syukur, aku ucapkan pada Tuhan.
Aku pulang menuju rumahku. Yang
kecil, sempit dan terbuat dari kumpulan kardus bekas. Entah, aku langsung masuk
ke dalamnya.
Aku mencoba beristirhat dan tertidur.
Sungguh aku merasa capek hri ini. Setelah bekerja keras aku mencari uang.
Aku tertidur hingga aku bermimpi. Aku
entah berada di mana. Di sebuah hutan yang cukup rindang dengan pohon-pohonnya
yang nampak asri dan begitu segar. Ku rasakan diriku seperti terbang melayang
ke angkasa dan tiba-tiba terdegar suara seekor kucing.
“Meow..” suara kucing yang entah
keberadaanya di mana menggugahku untuk mencarinya.
Ternyata ada di sana. Di balik sebuah
rumput yang tinggi. Seokor kucing kecil yang manis
berwarna putih sedikit coklat. Aku tersenyum melihatnya.
“Kemarilah, kucing manis,” kataku
pada kucing itu sambil mendekat kepada kucing tersebut. Aku berjongkok di
hadapannya dan berusaha menyentuhnya.
Di saat itulah, tanganku terasa panas
ketika aku menyentuh bulu-bulu cantik tersebut. Kurasakan tanganku sakit. Tak
terluka sama sekali. Tapi, rasanya sangat sakit. Begitu sakit hingga aku
menyadari, air mataku jatuh. Aku tak kuat menopang tubuhku. Aku mengambruk di
sana.
Tanganku panas. Aku merasa, aku
memerlukan air untuk meredamkan panas di tanganku ini. Saat kulihat, seorang
Kakek dengan tangannya yang membawa air datang ke arahku. Menyiram tanganku
dengan air yang dibawanya.
Aku mencoba melihat Kakek tersebut.
Ia tersenyum padaku. Aku menyadari, siapa orang itu. Dan kulihat, seorang
perempuan sebayaku membawa beberapa kue yang dibawanya dan dia serahkan kue itu
padaku.
Aku merimanya dengan tersenyum. Dan
kusadari, tanganku sudah tak panas sekarang. Rasa sakit itu mulai redam.
Menyadari hal itu, aku melihat kakek
dan perempuan tadi. Wajah mereka mulai aneh. Mereka bukan yang tadi. Wajah
mereka, sekarang menyeramkan. Sunguh menakutkan. Sampai aku, tak berani menatap
langsung pada wajah mereka.
Aku merasa diriku terancam. Mereka
seperti ingin diriku. Sekarang, wajah mereka mulai aneh dan berubah menjadi
makhlluk seram yang siap untuk menangkapku. Aku berusaha berlari. Berlari.
Namun, apa daya, mereka sudah menangkapku. Aku menjerit keras sekali. Tak ada
siapapun yang mendengarku.
“Hei, bangunlah. Dasar Pemalas!”
seseorang membangunkanku dengan keras.
Seketika, aku merasakan bajuku basah
oleh air. Seseorang tadi menyiram tubuhku dengan air. Aku tahu itu.
Aku terbangun dari tidurku. Aneh..
aku basah karena berkeringat. Aku melihat kesekelilingku. Ini jelas tempat
tidurku. Yang empuk dan nyaman. Aku bermimpi aneh sekali. Aku tak ingin hal itu
terjadi padaku.
Aku menghela napas dan mendesah
keras. Hatiku merasa gelisah. Aku teringat dengan gadis dan kakek –kakek siang
tadi. Aku merasa bersalah dan aku gelisah. Pikiranku hanya terpenuhi dengan baying-bayang
kedua orang tersebut. Betapa aku sangat berdosa…
***
Keesokan harinya, di pagi-pagi
sekali, aku mencari seorang gadis dan juga kakek-kakek kemarin-sebelum ke sekolah.
Perasaanku langsung bahagia saat aku
melihat mereka di jalan menuju sekolahku. Aku meminta maaf pada mereka atas apa
yang aku perbuat kemarin.
Mereka hanya tersenyum dan memaafkanku.
***

0 comments:
Post a Comment