Menurut artikel-artikel dan buku yang saya baca, kulit
buah manggis dikenal sebagai antibakteri dan secara empiris digunakan sebagai
pengobatan di Indonesia. Banyak masyarakat Indonesia mempercayai bahwa
mengkonsumsi kulit manggis akan menyembuhkan penyakit seperti kanker, tumor
hingga dapat digunakan untuk mempercantik diri. Buah ini dikenal mempunyai
kandungan antioksidan yang tinggi, memiliki rasa yang manis dan tidak sepat, juga
banyak disukai oleh banyak orang.
Saya telah membaca dari suatu artikel penelitian
yang telah dilakukan oleh Pancawati Ariami, Igan
Danuyanti, dan B Ryan Anggreni (2017) dari Poltekkes Mataram. Penelitian mereka
berjudul ‘Efektifitas Teh Kulit Buah
Manggis (Garcinia Mangostana L)
Sebagai Antimikroba Terhadap Pertumbuhan Bakteri Methicillin Resistant Staphylococcus
aureus (MRSA)’. Penelitian ini
membahas tentang kandungan dalam buah manggis untuk penyembuhan penyakit
infeksi nosokomial yang disebabkan oleh bakteri yang disebutkan pada judulnya.
Pengobatan pada penyakit tersebut adalah
vankomisin (jenis antibiotik) yang harganya lumayan mahal. Itu mengapa penulis
meneliti kulit manggis sebagai pengganti pengobatan penyakit tersebut. Mereka memaparkannya
pada artikel yang telah mereka tulis. Kandungan pada kulit buah manggis yang
bernama Xanthone memiliki banyak sekali khasiat. Apabila dengan kadar tinggi xanthone
ini dikonsumsi maka dapat diperoleh khasiat yang sangat bermanfaat antara lain
anti-peradangan, anti-diabetes, anti-kanker, anti-bakteri, anti-jamur,
anti-plasmodial, mampu meningkatkan kekebalan tubuh, serta bersifat
hepatoprotektif (dapat melindungi sel).
Dalam penilitian yang para penulis lakukan mereka
mencoba pada beberapa sampel kulit manggis yang diserbukan untuk menjadi teh
pada konsentrasi yang berbeda-beda. Pada konstenrasi-konsentrasi dibawah 10%,
penulis belum menemukan adanya reaksi bahkawa kandungan dalam kulit manggis
dapat menghambat pertumbuhan bakteri MRSA, hingga penulis meningkatkan
konsentrasinya ke 25% dan 50%. Namun hasilnya kandungan pada kulit manggis
belum dapat menghambat pertumbuhan bakteri tersebut. Hingga penulis mencoba
untuk mencampurkan sampel teh kulit manggis yang berada di pasaran dan dicampur
dengan teh hasil buatan penulis. Hasil yang diperoleh juga belum menunjukkan
penghambatan bakteri. Kemudian penulis menggunakan dua sampel teh kulit manggis
yang berada di pasaran dan hasil pembuatan sendiri menggunakan pelarut dengan
campuran antara etanol dan air dengan perbandingan yang sesuai. Lalu diperoleh
bahwa kulit manggis hasil buatan mampu membunuh pertumbuhan bakteri MRSA dengan
luas hambat 13 mm. Sedangkan sampe teh kulit manggis yang dibeli dipasaran
memperoleh hasil luas hambat bakteri sebesar 17 mm.
Penulis menyimpulkan bahwa teh kulit buah manggis (Garcinia
Mangostana L) tidak dapat menghambat pertumbuhan Methicillin Resistant Staphylococcus
aureus (MRSA). Sehingga teh kulit manggis tidak efektif untuk mengantikan
pengobatan vankomisin. Bahkan penulis juga menyimpulkan bahwa menggunakan air
panas dalam pembuatan teh kulit buah manggis belum tentu mengikat zat yang ada
dalam kulit manggis tersebut.
Sehingga sebagai orang awam saya menyimpulkan dengan
teh kulit buah manggis belum dapat menyembuhkan penyakit infeksi nosokomial.
Teh kulit buah manggis juga belum menjadi pengobatan alternatif penggunaan obat
antibiotik vankomisin yag harganya sangat mahal.
Sumber
Ariami, P., Danuyanti, I., & Anggreni, B. R. (2017).
Efektifitas Teh Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L) Sebagai Antimikroba
Terhadap Pertumbuhan Bakteri Methicillin Resistant Staphylococcus aureus
(MRSA), 3, 1–6.


0 comments:
Post a Comment