Thursday, 14 March 2019

Pembahasan Tentang Penelitian Teh Kulit Buah Manggis Sebagai Pengobatan Infeksi Nosokomial


Menurut artikel-artikel dan buku yang saya baca, kulit buah manggis dikenal sebagai antibakteri dan secara empiris digunakan sebagai pengobatan di Indonesia. Banyak masyarakat Indonesia mempercayai bahwa mengkonsumsi kulit manggis akan menyembuhkan penyakit seperti kanker, tumor hingga dapat digunakan untuk mempercantik diri. Buah ini dikenal mempunyai kandungan antioksidan yang tinggi, memiliki rasa yang manis dan tidak sepat, juga banyak disukai oleh banyak orang.

Saya telah membaca dari suatu artikel penelitian yang telah dilakukan oleh Pancawati Ariami, Igan Danuyanti, dan B Ryan Anggreni (2017) dari Poltekkes Mataram. Penelitian mereka berjudul ‘Efektifitas Teh Kulit Buah Manggis (Garcinia Mangostana L) Sebagai Antimikroba Terhadap Pertumbuhan Bakteri Methicillin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA)’. Penelitian ini membahas tentang kandungan dalam buah manggis untuk penyembuhan penyakit infeksi nosokomial yang disebabkan oleh bakteri yang disebutkan pada judulnya.
Pengobatan pada penyakit tersebut adalah vankomisin (jenis antibiotik) yang harganya lumayan mahal. Itu mengapa penulis meneliti kulit manggis sebagai pengganti pengobatan penyakit tersebut. Mereka memaparkannya pada artikel yang telah mereka tulis. Kandungan pada kulit buah manggis yang bernama Xanthone memiliki banyak sekali khasiat. Apabila dengan kadar tinggi xanthone ini dikonsumsi maka dapat diperoleh khasiat yang sangat bermanfaat antara lain anti-peradangan, anti-diabetes, anti-kanker, anti-bakteri, anti-jamur, anti-plasmodial, mampu meningkatkan kekebalan tubuh, serta bersifat hepatoprotektif (dapat melindungi sel).
Dalam penilitian yang para penulis lakukan mereka mencoba pada beberapa sampel kulit manggis yang diserbukan untuk menjadi teh pada konsentrasi yang berbeda-beda. Pada konstenrasi-konsentrasi dibawah 10%, penulis belum menemukan adanya reaksi bahkawa kandungan dalam kulit manggis dapat menghambat pertumbuhan bakteri MRSA, hingga penulis meningkatkan konsentrasinya ke 25% dan 50%. Namun hasilnya kandungan pada kulit manggis belum dapat menghambat pertumbuhan bakteri tersebut. Hingga penulis mencoba untuk mencampurkan sampel teh kulit manggis yang berada di pasaran dan dicampur dengan teh hasil buatan penulis. Hasil yang diperoleh juga belum menunjukkan penghambatan bakteri. Kemudian penulis menggunakan dua sampel teh kulit manggis yang berada di pasaran dan hasil pembuatan sendiri menggunakan pelarut dengan campuran antara etanol dan air dengan perbandingan yang sesuai. Lalu diperoleh bahwa kulit manggis hasil buatan mampu membunuh pertumbuhan bakteri MRSA dengan luas hambat 13 mm. Sedangkan sampe teh kulit manggis yang dibeli dipasaran memperoleh hasil luas hambat bakteri sebesar 17 mm.
Penulis menyimpulkan bahwa teh kulit buah manggis (Garcinia Mangostana L) tidak dapat menghambat pertumbuhan Methicillin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA). Sehingga teh kulit manggis tidak efektif untuk mengantikan pengobatan vankomisin. Bahkan penulis juga menyimpulkan bahwa menggunakan air panas dalam pembuatan teh kulit buah manggis belum tentu mengikat zat yang ada dalam kulit manggis tersebut.
Sehingga sebagai orang awam saya menyimpulkan dengan teh kulit buah manggis belum dapat menyembuhkan penyakit infeksi nosokomial. Teh kulit buah manggis juga belum menjadi pengobatan alternatif penggunaan obat antibiotik vankomisin yag harganya sangat mahal.

Sumber
Ariami, P., Danuyanti, I., & Anggreni, B. R. (2017). Efektifitas Teh Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L) Sebagai Antimikroba Terhadap Pertumbuhan Bakteri Methicillin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA), 3, 1–6.



0 comments: