Saturday, 8 February 2014

I Don't Know About Love : Chapter 4

Semua memang sudah ditentukan atau kita menentukan sendiri. Aku masih bingung dengan itu. Aku akan menceritakan hubunganku dengan Mario saja. Semua baik-baik saja. Dia baik dan sangat perhatian padaku. Dan yang paling membuatku senang adalah, dia orang yang romantis.
Setiap pagi, Mario menjemputku. Pulang, dia mengantarku. Kecuali, jika dia ada urusan. Ya, semua di jalanini dengan baiklah.
Dan juga, mantan pacarku kelihatannya makin mesra sama Dian. Jika aku lihat, perhatian Rian ke Dian melebihi perhatiannya padaku dulu. Ah, sudahlah. Dan, mereka selalu membayang di kepalaku. Ah. Sialan.
Tapi, Mario tak kalah kok sama Rian. Mario mungkin laki-laki yang lebih baik dari Rian. Aku yakin itu. Rian hanya selalu membuatku sakit. Ah, sudahlah. Aku tak perlu lagi membahas Rian.
“Na, gimana hubungan lo sama Mario? Dia orang baik kan?” tanya Anggi di sampingku. Kami sedang bersandar di dinding balkon lantai dua.
Aku tersenyum menatap Anggi, “Iyalah. Kalau dia enggak baik, gue enggak bakalan tahan sama dia. Lo liat kan kita udah pacaran tiga minggu,” ucapku. Pandnaganku beralih menuju lapangan melihat Rian yang sedang bermain basket bersama teman-temannya.
“Heh, liatin apa lo?” tanya Anggi sambil mengibaskan tangannya di hadapanku.
“Haa?” tanyaku kaget.
Anggi mengikuti pandanganku yang sedar tadi mengamati Rian. “Lo dari tadi liatin Rian?”
Aku diam.
“Apa lo masih sayang sama dia, Na?” tanya Anggi pelan.
Pipiku memerah. Entah kenapa aku jadi salah tingkah sendiri, “Tidak, lagi pula aku udah sama Mario, Nggi.”
“Gak usah bo’ong. Ketahuan dari sikap lo.”
“Enggak kok,” ucapku setenang mungkin.
“Kelihatannya iya,” gumam Anggi meyakinkan pernyataannya sendiri.
Aku hanya menunduk.
“Tapi, coba jujur deh, Na. Lo masih sayang kan sama Rian?”
“Apaan sih?-.,-“
“Bener kan?”
“Udahlah, gue mau ke kelas dulu,” ucapku sambil mengibaskan tangan dan meluncur menuju kelas meninggalkan Anggi yang masih berdiri di sana.
***
Istirahat kedua, waktuku kugunakan untuk pergi ke perpustakaan. Ya, sekadar cari buku untuk dibaca-baca. Mario pergi entah kemana. Dan aku malas untuk mencarinya. Mungkin sednag rapat tentang pertandingan basket bulan depan. Entahlah.
Cari buku yang bagus emang susah. Ngeselin juga. Sebenarnya ke sini gak pakai niat. Ya, Cuma jalan-jalan dan iseng-iseng aja. Tau-tau kan dapat sesuatu yang nyenengin hati. Hohoho..
Lorong untuk sastra? Ha? Gak salah nih aku berjalan di sini? Yah, mau apalagi. Dari tadi cari-cari teenlit gak ketemu-ketemu.
“Hai, Na,” seseorang menyapaku dari belakang. Aku mengumpat setelah mendengar suara itu.
Aku menoleh ke belakang untuk melihat siapa itu. “Hai,” jawabku.
“Cari novel?” tanyanya.
Aku salah tingkah, “Ya. Lo sendiri?” tanyaku. Bodoh.
“Ada tugas.”
Yah, aku sangat ingat orang ini jika tidak ada perlu sekali tak akan pergi ke tempat seperti ini.
“Oh iya, Na. Ngomong-ngomong, gimana hubungan lo sama Mario?” tanyanya tanpa memandangku.
“Baik,” aku memalingkan wajahku ke buku-buku yang tersusun rapi di rak. “Juga, gimana hubungan lo sama Dian?” tanyaku setenang mungkin. Agar tak kelihatan suaraku bergetar. Sungguh, aku merasakan lututku kelu.
 “Ya. Seperti itu,” jawabnya. Kalai ini dia memandnagku dengan tersenyum. Oh, astaga, kalau aku tidak berpegangan pada rak, aku bisa jatuh karena meleleh. Itu senyuman yang pernah ia berikan padaku dulu.
“Oh, lalu di mana Dian?” tanyaku agak terlihat gugup. Oh, astaga.
“Dia lagi ada rapat sama anggota basket,” ia menatapku. “Bukankah Mario juga?”
“Iya.” Jawabku.
Hening. Aduh, di saat hening seperti ini, jantungku malah berdebar keras sekali. Rian masih berada di sampingku yang membuatku salah tingkah. Kenapa sih kok aku jadi begini? Lututku kelu. Aku harus bagaimana sekarang. Jika aku melangkah, aku takut aku melakukan kesalahan.
Suara bel masuk pun terdengar. Aku bersyukur.
“Oh, Na. gue pergi duluan ya,” ucap Rian sambil melambaikan tangannya dan tersenyum. Ia lalu berlalu dari hadapanku.
Oh, aku masih bisa merasakan senyumannya tertinggal di sini.
Ah, apa-apaan sih. Aku menggeleng-gelengkan kepala dan cepat-cepat berlari menuju kelas.
***
Perjalanan pulang, aku di antar Mario. Aku masih memeikirkan tentang pertemuanku dengan Rian siang tadi. Ah, masih terbayang-bayang sampai sekarang. Bagaimana ini?
“Na, kamu enggak apa-apa?”
Aku terlonjak, “Iya. Gak pa-pa.”
“Kamu kelihatan aneh. Ada apa? O.O”
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, “Aku tidak apa-apa.”
“Oh, iya. Akhir-akhir ini kelihatannya aku banyak latihan basket buat pertenadingan bulan depan. Jadi, ya.. mungkin atau kadang aku gak bisa nganter kamu.”
“Enggak apa-apa. Lagi pula, itu juga buat sekolah kita kan?” kataku sambil menyikut lengannya.
Mario tertawa kecil, “Kau bisa saja.”
“Aku harap kau yang paling banyak memasukkan bola ke ring nantinya.”
Mario tersenyum lebar, “Semoga.”
***
Hari ini aku menunggu Mario latihan basket. Aku mendengarkan musik dari hpku menggunakan headset. Aku menunggu di pinggir lapangan di atas bangku penonton.
Tak banyak yang kulakukan. Aku menyantap makanan ringan dan membawa dua buah komik. Aku membacanya dan tak sekalipun melirik permainan basket Mario. Aku terfokus pada komikku.
Ada seseorang yang duduk di sampingku. Aku hiraukan dan terus terfokus pada komikku.
“Nunggu Mario?” tanya orang di sebelahku. Astaga. Aku tahu siapa yang mempunyai suara itu.
Aku menoleh melihat orang di sampingku. Jantungku sudah dag-dig-dug. “Rian? Ngapain di sini?”
“Gue yang tanya. Malah balik tanya. -.,-“
“Oke, iya. Gue nunggu Mario. Terus lo?” tanyaku.
Ia mengarahkan dagunya ke luar lapangan. Di mana ada sekelompok anak-anak cheers sedang berlatih.
“Oh. I see,” ucapku lalu membaca komikku kembali. “Nunggu Dian kan?” gumamku.
“Iya. Dia manja,” ucapnya lirih tapi seperti umpatan.
Aku menatap Rian dengan kening berkerut. “?”
“Iya. Padahal hari ini gue ada les tau gak? Dia mint ague untuk nemenin dia.”
Aku mengangguk-angguk paham. “Tapi, gue nunggu Mario karna kemauan gue.”
“Itu kan elo. Gue enggak mau kali. Setiap nunggu dia gue bosen.”
“Terus? Ya itu resiko,” ucapku.
Rian menatapku dengan alis bertaut, “Maksud?”
“Setiap tindakan pasti ada resikonya. Lo berbuat, harus tahu apa yang bakal terjadi dengan perbuatan lo itu. Harus siap menghadapi, siap menanggung kalau salah—“ aku memandang komikku, “dan gak kecewa kalau hal yang buruk udah terjadi.”
Rian menundukkan kepalanya. “Gue tau gue salah kok. Gue udah tahu maksud lo.”
Aku diam. Sok serius dengan bacaan di komikku.
“Dan sampai saat ini aku masih mengaharapkan,” Rian memalingkan wajahnya.
Aku berani mendongak untuk melihatnya. “Mengharapkan apa? Hal yang tak mungkin kembali? Iya kan? Memang susah untuk menerima kanyataan kan?”
“Aku masih sayang, Na.”
“Lalu?”
“Aku mengharapkan.”
“Mengharapkan apa? Gue kembali sama lo lagi gitu? Setelah apa yang lo lakuin?” aku marah dan berbicara dengan nada tinggi. Untung anak-anak basket tidak mendnegar teriakanku. Trerbukti mereka masih melakukan aktifitas mereka dengan serius.
Rian menatapku nanar dengan mata yang sulit kupahami. “Gue emang salah. Salah sekali tentang apa yang gue lakukan terhadap lo. Dulu.”
“Kalau dulu, kenapa sekarang dibawa-bawa?” aku kembali membaca komikku.
“Karena sampai sekarang aku masih memikirkannya. Dan aku mau tanya sesuatu padamu, Na. Apa kamu masih sayang?”
Tenggorokanku tercekat. Aku menelan ludah. Aku tak tahu apa yang harus aku katakan.
“Oke. Kalau kamu gak jawab, aku bisa menyimpulkan. Sebenarnya kamu sayang. Tetapi kalah sama yang namanya sakit. Sakit yang timbul karena salah paham.”
Sehabis mengatakan itu, Rian pergi dariku. Dia berjalan cepat meninggalkanku. Aku tak mempedulikannya dan berpura-pura membaca komikku.
Apa maksud dari kata-kata Rian yang terakhir? Salah paham?
***
“Kalian tadi mengobrol tentang apa?” tanya Mario usai latihan basket. Ia menegak air dalam kemasan botol mineral dnegan terburu-buru.
“Hanya mengobrol biasa saja,” jawabku sambil tersenyum. Aku lalu mengulurkan handuk putih polos padanya.
“Kalian tadi telrihat serius,” ucap Mario.
“Oh ya?” alisku sengaja kunaikkan.
“Ya. Kalian serius sekali. Hingga aku khawatir, kalian membahas tentang hubungan diam-diam kalian nantinya.-.,-“
“Apaan sih? Tidak mungkin,” aku meninju lengannya.
“Sakit,” erangnya sambil mengelus-elus lengannya.
“Makannya, jangan berpikiran yang aneh-aneh,” ucapku.
“Iya-iya,”ia berkata seperti gemas dan mencubit pipiku.
“Udahlah, ayo cepat pulang! Aku laper,” manjaku.
“Iya-iya. Aku ganti baju dulu.”
Aku tersenyum lebar.

***

Bersambung ke chapter 5

0 comments: